Kubah Emas akan mencakup kemampuan berbasis darat, laut, dan luar angkasa yang mampu menghentikan rudal di empat tahap utama serangan potensial.
21 Mei 2025 10:39 WIB · Internasional
WASHINGTON DC, RABU — Rencana Amerika Serikat untuk menempatkan senjata di luar angkasa berlanjut. Presiden AS Donald Trump mengungkapkan konsep untuk sistem pertahanan udara bernama Golden Dome atau Kubah Emas. Langkah itu diambil lantaran AS mengkhawatirkan ancaman dari China, Rusia, dan beberapa negara lainnya.
Pendanaan awal untuk Kubah Emas mencapai 25 miliar dollar AS. Secara keseluruhan, proyek ini dapat menelan biaya sekitar 175 miliar dollar AS. Trump mengatakan, dirinya telah berjanji akan membangun perisai pertahanan rudal yang canggih saat berkampanye. Di bawah kepemimpinannya, Pemerintah AS telah memilih arsitektur untuk sistem canggih itu.
”Setelah selesai dibangun, Kubah Emas akan mampu mencegat rudal, bahkan jika diluncurkan dari belahan dunia lain dan luar angkasa. Ini sangat penting bagi keberhasilan, bahkan kelangsungan hidup negara kita,” kata Trump di Gedung Putih, Washington DC, Selasa (20/5/2025), waktu setempat atau Rabu (21/5/2025) waktu Jakarta.
Kubah Emas akan mencakup kemampuan berbasis darat, laut, dan luar angkasa yang mampu menghentikan rudal di empat tahap utama serangan potensial. Artinya, sistem dapat mendeteksi dan menghancurkan rudal sebelum peluncuran, mencegat rudal pada tahap awal peluncuran, menghentikan rudal di tengah perjalanan di udara, serta menghentikan rudal saat turun menuju target.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/21/a205911d-082d-4758-be3d-985e6ad652d4_jpg.jpg)
Mendampingi Trump, Menteri Pertahanan Pete Hegseth menambahkan, Kubah Emas bertujuan untuk melindungi negara dari rudal jelajah, rudal balistik, rudal hipersonik, dan pesawat nirawak, baik yang konvensional maupun nuklir.
Wakil Kepala Operasi Luar Angkasa, Angkatan Luar Angkasa AS, Jenderal Michael Guetlein menjadi pemimpin proyek Kubah Emas. Sistem ini diproyeksikan beroperasi pada akhir masa jabatan Trump, yakni tahun 2029.
”Upaya Kubah Emas sudah lama tertunda. Sistem itu akan memberi AS pertahanan yang kuat, yang juga dapat digunakan untuk perang antisatelit jika diperlukan,” tutur Tom Karako, Direktur Proyek Pertahanan Rudal di Center for Strategic and International Studies kepada NPR.
Menurut Trump, Kanada mau bergabung dalam proyek Kubah Emas. BBC melaporkan, Menteri Pertahanan Kanada Bill Blair dalam kunjungan ke Washington DC awal tahun mengaku tertarik karena sadar dengan situasi kawasan dan ancaman yang datang, termasuk di Kutub Utara.
Nama Kubah Emas terinspirasi dari nama sistem pertahanan udara milik Israel, Iron Dome atau Kubah Besi. Sistem Israel telah berhasil mencegat ribuan roket jarak pendek dan proyektil lain sejak beroperasi tahun 2011.
Sementara itu, AS menghadapi berbagai ancaman rudal musuh, tetapi bukan jarak dekat. Tinjauan Pertahanan Rudal (MDR) 2022 menunjukkan peningkatan ancaman dari Rusia dan China.
MDR menyebutkan, Beijing mulai mengejar Washington dalam teknologi rudal balistik dan hipersonik, sedangkan Moskwa memodernisasi sistem rudal jarak antarbenua dan mengembangkan rudal serang presisi canggih.
Di samping itu, MDR mencatat, ancaman pesawat nirawak seperti yang terjadi dalam perang Ukraina-Rusia kemungkinan meningkat. Ada pula ancaman bahaya rudal balistik dari Korea Utara dan Iran serta ancaman lainnya dari aktor nonnegara.
Selama beberapa tahun terakhir, AS juga memperoleh informasi tambahan penting tentang pertahanan udara lewat sejumlah konflik. Ukraina menggunakan sistem AS untuk melawan rudal Rusia, sementara AS membantu Israel menyerang Iran. AS juga menyerang kelompok Houthi di Yaman.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/21/b6525a09-bb85-42f4-af8a-0770b20c966e_jpg.jpg)
Pada awal bulan ini, Rusia dan China mengecam Kubah Emas sebagai ”sangat mengganggu stabilitas” karena mengubah ruang angkasa menjadi medan perang. Adapun kedua negara juga telah menempatkan senjata ofensif di luar angkasa, seperti satelit dengan kemampuan melumpuhkan satelit lain.
”Konsep itu secara eksplisit menyediakan penguatan signifikan persenjataan untuk melakukan operasi tempur di ruang angkasa,” bunyi pernyataan Kremlin setelah pembicaraan di antara kedua negara.
Trump mengaku belum berbicara dengan Presiden Rusia Vladimir Putin tentang proyek Kubah Emas. ”Namun, pada waktu yang tepat, kami akan melakukannya,” katanya.
Seorang pejabat secara anonim menyampaikan, Pentagon menyusun tiga opsi Kubah Emas berdasarkan biaya pembuatan, yakni menengah, tinggi, dan ekstratinggi. Perbedaan tiga versi tersebut berdasarkan jumlah satelit, sensor, dan pencegat berbasis ruang angkasa yang akan dibeli.
Sejauh ini, sumber anggaran Kubah Emas belum jelas. Bulan ini, Kantor Anggaran Kongres memperkirakan, Kubah Emas bisa menelan biaya 161 miliar-542 miliar dollar AS selama 20 tahun ke depan.
Trump telah meminta dana awal sebesar 25 miliar dollar AS dalam rancangan undang-undang The One, Big, Beautiful atau keringanan pajak yang sedang dibahas Kongres.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/21/cb85e681-4903-45d0-85e3-f2a195f81d10_jpg.jpg)
Direktur Jenderal Angkatan Udara Troy Meink mengatakan kepada Kongres, Selasa, belum ada dana untuk proyek tersebut. Kubah Emas secara keseluruhan ”masih dalam tahap konseptual”.
”Kubah Emas mewakili persyaratan baru dan yang sedang berkembang untuk misi yang belum pernah diselesaikan oleh organisasi ruang angkasa militer,” kata Jenderal Chance Saltzman, Kepala Angkatan Luar Angkasa AS, menambahkan kepada anggota parlemen.
Sejumlah perusahaan, seperti L3Harris Technologies, Lockheed Martin, dan RTX Corp, menjadi kontraktor potensial untuk proyek tersebut. Ada pula kemungkinan SpaceX milik Elon Musk, Palantir, dan Andurli sebagai pembangun komponen utama sistem.
AS sudah memiliki banyak kemampuan pertahanan rudal, seperti baterai rudal Patriot yang diberikan kepada Ukraina dan serangkaian satelit di orbit untuk mendeteksi peluncuran rudal. Beberapa sistem pertahanan yang sudah ada akan masuk ke dalam sistem Kubah Emas. (AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
Elsa Emiria LebaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Nur Adji