TRUMPolin menggambarkan sebuah ”wahana permainan” berbasis tarif yang digelar Presiden AS Donald Trump untuk meningkatkan perdagangan dan investasi di AS.
12 Agt 2025 15:37 WIB · Ekonomi & Bisnis
Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuat perdagangan global bak berada di trampolin. Gegara tarif resiprokal, tarif impor diotak-atik naik turun. Rantai pasok berakrobatik memilah dan memilih kawan atau lawan.
Volume dan nilai impor dan ekspor mendadak ”melompat” secara instan. Sejumlah negara, termasuk Indonesia, terpaksa antre bernegosiasi menawarkan peningkatan pembelian sejumlah produk Amerika Serikat (AS).
Bahkan, Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dibuat tidak berkutik. Penyedia wadah bagi setiap negara untuk bernegosiasi, menyelesaikan sengketa, dan mengelola aturan perdagangan global hanya menjadi penonton sekaligus komentator permainan itu.
Melihat akar persoalan situasi itu, trampolin mungkin lebih tepat disebut sebagai TRUMPolin. TRUMPolin menggambarkan sebuah ”wahana permainan” berbasis tarif resiprokal atau bea masuk impor timbal balik yang digelar Trump untuk meningkatkan perdagangan dan investasi di AS.
TRUMPolin itu sudah berlangsung sejak 2 April 2025 dan masih berlanjut hingga tarif resiprokal mulai berlaku efektif pada 7 Agustus 2025. Banyak negara menjadi pemain pasif, pasrah menerima besaran tarif resiprokal yang ditetapkan AS.
TRUMPolin menggambarkan sebuah ”wahana permainan” berbasis tarif resiprokal yang digelar Trump untuk meningkatkan perdagangan dan investasi di AS.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2020/07/26/d95cb589-c478-4b49-a555-aafe3e3e471c.jpg)
Tak sedikit negara yang menjadi pemain aktif melanjutkan ”permainan” itu. Indonesia, misalnya, yang dalam negosiasinya dengan AS berhasil menurunkan tarif resiprokal dari 32 persen menjadi 19 persen.
Meski tarif resiprokal 19 persen telah berlaku, Indonesia masih melobi untuk menurunkan tarif sejumlah komoditas menjadi 0-5 persen. Beberapa komoditas itu adalah minyak kelapa sawit, kopi, kakao, produk agro, produk mineral, dan suku cadang pesawat. Targetnya, negosiasi lanjutan itu bisa tercapai pada 1 September 2025.
”Negosiasi Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah AS masih berlanjut. Indonesia ingin mendapatkan penurunan tarif hingga nol persen untuk beberapa komoditas yang tidak diproduksi atau dimiliki AS,” kata Menteri Perdagangan RI Budi Santoso, Kamis (7/8/2025).
Sejumlah negara anggota BRICS bahkan berani menciptakan ”wahana permainan” sendiri. China telah membuka pasar bebas bagi kopi Brasil hingga 2030. India yang gagal bernegosiasi dagang dengan AS kembali merapat ke BRICS.
Selain menyambut baik tawaran China, Brasil juga menyengketakan kebijakan tarif AS di WTO. Permintaan konsultasi tentang sengketa tarif impor 10 persen dan tarif resiprokal 40 persen yang dikenakan AS terhadap Brasil itu telah diterima WTO pada 11 Agustus 2025.
Adapun Rusia tidak menjadi target tarif resiprokal lantaran sanksi ekonomi lama AS masih berlaku. Kendati demikian, Rusia tetap memainkan peran sentral mendorong agenda dedolarisasi dan memperkuat posisi BRICS dalam rantai pasok perdagangan global.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/09/cd843995735758dd61b7c2140175a6ce-20250709TOK9.jpg)
Fenomena ”front loading”
Selain itu, TRUMPolin juga memunculkan fenomena front loading perdagangan. Baik importir maupun eksportir berupaya mempercepat mendatangkan dan mengirim barang untuk menghindari perubahan kebijakan tarif yang berpotensi merugikan, seperti kenaikan tarif.
Dalam laporan Pemutakhiran Perdagangan Barang Dunia yang dirilis pada 8 Agustus 2025, WTO menyebutkan, volume impor barang AS melonjak 11 persen secara tahunan pada paruh pertama 2025. Lonjakan itu mencakup kenaikan tajam impor barang pada triwulan I dan II tahun 2025 yang masing-masing sebesar 14 persen dan 16 persen.
”Front loading dan akumulasi inventaris di sektor perdagangan barang menjadi pemicu utamanya,” ungkap WTO dalam laporan itu.
Fenomena front loading itu menguntungkan sejumlah negara mitra dagang AS, termasuk Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, total nilai ekspor nonmigas Indonesia pada Januari-Juni 2025 mencapai 128,39 miliar dollar AS. Nilai ekspor tersebut tumbuh 12,61 persen secara tahunan.
Khusus ke AS, ekspor nonmigas Indonesia senilai 14,79 miliar dollar AS atau tumbuh 33,49 persen secara tahunan. Dengan demikian, pasar AS berkontribusi 11,52 persen dari total nilai ekspor nonmigas Indonesia.
Jadi banyak pesanan ekspor sebelum kenaikan tarif itu dilakukan, bahkan sesudah terjadi pengumuman tersebut.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/12/bc3830d67ae07b4f4214ec38ba820730-Screenshot_2025_08_12_144627.png)
Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati mengatakan, kinerja ekspor Indonesia masih tumbuh baik sehingga mampu menopang pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan II-2025 sebesar 5,12 persen. Lonjakan ekspor itu terjadi di tengah ketidakpastian yang dipicu tarif resiprokal AS.
Kenaikan ekspor itu dipicu front loading ekspor ke AS oleh para pelaku usaha. Ini mengingat pemberlakuan tarif resiprokal baru efektif pada 7 Agustus 2025.
”Jadi banyak pesanan ekspor sebelum kenaikan tarif itu dilakukan, bahkan sesudah terjadi pengumuman tersebut,” kata Sri Mulyani dalam konferensi pers yang digelar secara hibrida di Kantor Kementerian Koordinator Perekonomian, Jakarta, Selasa (5/8/2025).
Dalam laporan terbarunya, WTO juga menyatakan fenomena front loading menjadi salah satu dasar pertimbangan lembaga tersebut merevisi ke atas pertumbuhan perdagangan barang dunia. WTO memperkirakan perdagangan barang dunia pada 2025 tumbuh 0,9 persen.
Angka pertumbuhan itu lebih tinggi dari proyeksi WTO pada April 2025 yang sebesar -0,2 persen. Di sisi lain, perkiraan tersebut di bawah proyeksi pertumbuhan sebelum ada tarif resiprokal AS, yakni 2,7 persen.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/12/269a6568f20f32b05fb4fe61656e4b77-Proyeksi_pertumbuhan_perdagangan_WTO.png)
Menurut Direktur Jenderal WTO Ngozi Okonjo-Iweala, perdagangan global telah menunjukkan ketahanan dalam menghadapi guncangan yang terus-menerus, termasuk kenaikan tarif baru-baru ini. Impor yang lebih besar dan kondisi makroekonomi yang membaik telah memberikan sedikit peningkatan pada prospek 2025.
Namun, dampak penuh dari kebijakan tarif masih terasa. Bayang-bayang ketidakpastian tarif terus membebani kepercayaan bisnis, investasi, dan rantai pasokan. Ketidakpastian tetap menjadi salah satu kekuatan yang paling mengganggu dalam lingkungan perdagangan global.
”Oleh karena itu, setiap negara perlu mengambil langkah penting untuk menghindari siklus pembalasan yang lebih luas yang dapat sangat merugikan perdagangan global ke depan,” ujarnya melalui siaran pers.
Okonjo-Iweala juga mengingatkan, pemberlakuan tarif resiprokal AS pada 7 Agustus 2025 akan semakin membebani para importir AS. Hal itu berpotensi menekan ekspor para mitra dagangnya pada paruh kedua tahun 2025 dan 2026.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/02/18/000_932624_1613656630.jpg)
Biaya negosiasi
Bagi sejumlah kalangan, TRUMPoline telah menghasilkan kesepakatan negosiasi yang tidak adil. TRUMPolin membuat sejumlah negara terpaksa mengakomodasi sejumlah kepentingan yang menguntungkan AS.
Lembaga think tank Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, misalnya, menilai kesepakatan AS-RI yang dipublikasikan Gedung Putih menunjukkan biaya negosiasi yang sangat mahal bagi Indonesia. Hal itu terungkap dalam laporan kajian bertajuk ”Biaya Mahal Negosiasi Tarif” yang dirilis Core pada 11 Agustus 2025.
Core menyebut, bagi Indonesia, penerapan tarif resiprokal diperkirakan menurunkan kesejahteraan nasional sebesar 3,16 miliar dollar AS. Penurunan ini terutama disebabkan berkurangnya konsumsi ekspor Indonesia di pasar AS, yang memangkas surplus produsen, khususnya pada produk-produk utama yang diekspor ke AS.
Ekspor RI ke AS juga diperkirakan turun senilai 9,23 miliar dollar AS. Tekanan ekspor tersebut berasal dari besarnya akumulasi tarif resiprokal dan tarif dasar (MFN) yang sebelumnya sudah berlaku, serta tingginya biaya produksi di RI.
Sektor pakaian jadi akan menjadi korban terbesar dengan potensi penurunan ekspor mencapai 2,1 miliar dollar AS. Kemudian disusul sektor manufaktur lain yang terancam kehilangan 1,5 miliar dollar AS dan industri produk kulit 1,3 miliar dollar AS.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/28/8a9dc14bd3904aeda61354efecc8de17-IMG_20250228_190900.jpg)
Kondisi itu diperkirakan bakal diperburuk oleh kewajiban RI menghapus berbagai hambatan non-tarif yang berpotensi melemahkan industri manufaktur domestik. Selain itu, ketimpangan komitmen antara RI dan AS juga berpotensi merugikan pelaku industri lokal.
Dampak itu bakal tecermin pada perlambatan pertumbuhan ekonomi RI pada 2025 menjadi 4,77 persen. Melemahnya aktivitas ekonomi berpotensi menekan daya beli masyarakat sekaligus meningkatkan risiko pemutusan hubungan kerja (PHK), terutama di sektor padat karya yang bergantung pada pasar ekspor AS.
Selain itu, Core Indonesia juga mengungkapkan, RI berpotensi menghadapi lonjakan impor dari China senilai 17,47 juta dollar AS akibat pengalihan perdagangan (trade diversion). Impor jagung dan kedelai RI dari AS juga berpotensi meningkat karena ekspor jagung dan kedelai AS ke China anjlok masing-masing sebesar 74 persen dan 15 persen pada 2023-2024.
Untuk itu, Core Indonesia mendorong Pemerintah RI menegosiasikan ulang tarif resiprokal beserta berbagai beban yang harus ditanggung Indonesia. Pemerintah RI juga perlu meninjau ulang kewajiban untuk menghapus hambatan non-tarif barang dari AS.
”Pemerintah RI juga perlu fokus mendorong AS memberikan kompensasi berupa investasi yang memperkuat industri manufaktur dalam negeri dan melindungi usaha tani di dalam negeri,” kata peneliti Core Indonesia, Yusuf Rendy Manilet.
Penulis:
Hendriyo WidiEditor:
Muhammad Fajar MartaPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari