Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Soekarnoputri bersyukur tuduhan Presiden Soekarno sebagai pengkhianat telah dicabut.
10 Jan 2025 15:07 WIB · Politik & Hukum
JAKARTA, KOMPAS — Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Soekarnoputri mengucapkan terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto atas pemulihan nama baik Presiden Soekarno. Sebelumnya, Sang Proklamator dituduh pernah berkhianat melalui Ketetapan MPRS Nomor 33 Tahun 1967.
Megawati menyambut Hari Ulang Tahun Ke-52 PDI-P ini dengan melakukan orasi di Sekolah Partai PDI-P, Jakarta, Jumat (10/1/2025). Pidato ini diawali dengan mengenang pencabutan tuduhan terhadap Soekarno setelah 57 tahun dianggap berkhianat karena disebut mendukung pemberontakan G30S/PKI.
”Tuduhan Bung Karno pernah berkhianat tidak terbukti dan batal demi hukum karena tidak ada proses hukum apa pun yang dilaksanakan untuk membuktikan tuduhan tersebut hingga wafat 21 Juni 1970. Lama ya, untung keluargaku sabar,” ujarnya.
Atas pencabutan tersebut, Megawati berterima kasih kepada rakyat Indonesia yang diwakili oleh MPR. Dia juga menyebut nama Presiden Prabowo Subianto yang merespons Surat Pimpinan MPR sebagai tindak lanjut dari pemulihan nama baik dan hak-hak Bung Karno sebagai Presiden pertama Republik Indonesia.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/02/03/8c8d8aed-6206-4528-9ec1-55dec8038193_jpeg.jpg)
”Majelis Permusyawaratan Rakyat adalah penjelmaan dari seluruh rakyat Indonesia. Karena itu, ucapan terima kasih saya sampaikan kepada seluruh rakyat Indonesia di mana pun kalian berada. Ucapan terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto. Kebijakan pimpinan MPR dan Presiden Prabowo harus menjadi momentum rekonsiliasi nasional,” ujarnya.
Megawati menyatakan, dengan pidato Guntur Soekarnoputra, 9 September 2024, setelah pencabutan tersebut, menjadi penegasan keluarga untuk memaafkan semua perlakuan terhadap keluarga Bung Karno pada masa itu. Dia juga meminta para peserta yang terdiri atas politisi senior PDI-P yang menyaksikan pidato tersebut untuk mengambil hikmah dari peristiwa itu agar semua lembaran kelam sejarah bangsa tidak terulang lagi.
Yang terpenting bagi keluarga dan para kaum patriotik pencinta Bung Karno adalah rehabilitasi nama baik Bung Karno sebagai seorang proklamator bangsa, penggali Pancasila, dan Bapak Bangsa Indonesia.
”Yang terpenting bagi keluarga dan para kaum patriotik pencinta Bung Karno adalah rehabilitasi nama baik Bung Karno sebeagai seorang proklamator bangsa, penggali Pancasila, dan Bapak Bangsa Indonesia,” ujarnya.
Di dalam memperingati hari jadi partai berlambang banteng ini, tidak ada pihak eksternal yang diundang dalam perayaan nanti, baik para ketua partai politik maupun Presiden Prabowo Subianto yang juga Ketua Umum Partai Gerindra. Sebab, acara kali ini ditujukan untuk konsolidasi internal partai.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2024/09/18/f0ef0798-4794-47cc-ad35-c07770f632bd.jpg)
Sekretaris Jenderal PDI-P Hasto Kristiyanto melalui keterangan tertulis, Jumat ini, menjelaskan, tema HUT Ke-52 PDI-P adalah ”Satyam Eva Jayate” yang berarti Hanya Kebenaran yang Berjaya. Subtema yang dipilih ialah ”Api Perjuangan nan Tak Kunjung Padam”.
PDI Perjuangan selalu menghadapi berbagai tantangan dengan kejujuran dan penuh ketegaran, serta penuh keyakinan.
Hasto menjelaskan, nantinya, dalam perayaan HUT, Megawati akan menyampaikan pidato politik di hadapan para kader PDI-P. Isi pidato politik tersebut pun tidak jauh dari tema yang diusung, sekaligus refleksi Megawati atas satu tahun terakhir perjalanan PDI-P yang diakui penuh tantangan.
”Maka, ini kembali ditampilkan pesan dari Bu Megawati Soekarnoputri seluruh pesan kebenaran karena PDI Perjuangan selalu kokoh pada jalan kebenaran. PDI Perjuangan selalu menghadapi berbagai tantangan dengan kejujuran dan penuh ketegaran, serta penuh keyakinan,” ujar Hasto.
Acara peringatan HUT akan dimulai sejak pukul 13.30 WIB dengan protokol partai. Sebagaimana biasanya di setiap acara partai, kebudayaan juga dihadirkan dengan penampilan seni budaya. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan pidato politik Megawati dan diakhiri dengan pemotongan tumpeng HUT Ke-52 PDI-P.
Penulis:
Nikolaus Harbowo, Machradin Wahyudi RitongaEditor:
Suhartono .