NILAI TUKAR RUPIAH

Pencalonan Thomas sebagai Deputi Gubernur BI Berisiko Goyang Pasar Keuangan

Selain faktor eksternal dan internal, pencalonan Thomas Djiwandono dikhawatirkan menambah sentimen negatif dari para pelaku pasar.

20 Jan 2026 11:15 WIB · Ekonomi & Bisnis

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

Oleh Agustinus Yoga Primantoro

JAKARTA, KOMPAS — Pencalonan Wakil Menteri Keuangan Thomas Aquinas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia berisiko memicu tekanan di pasar keuangan. Implikasinya, nilai tukar rupiah diperkirakan semakin terpuruk di tengah sentimen global.

Sebelumnya, Thomas yang merupakan kemenakan dari Presiden RI Prabowo Subianto dikabarkan akan mengisi kursi kosong Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI). Ia dicalonkan bersama dua sosok lainnya dan akan segera menjalani uji kelayakan dan kepatutan di Dewan Perwakilan Rakyat dalam waktu dekat.

Sebaliknya, Juda Agung yang sebelumnya menjabat sebagai Deputi Guberbur BI dikabarkan akan menempati posisi Wakil Menteri Keuangan yang ditinggalkan oleh Thomas.

Guru Besar Universitas Airlangga Rahma Gafmi berpendapat, pencalonan Thomas sebagai Dewan Gubernur BI berisiko memicu respons negatif dari para pelaku pasar. Apalagi, posisi Dewan Gubernur BI merupakan jabatan yang krusial.

”Ini sangat membahayakan negara karena pemimpin bank sentral itu membutuhkan orang-orang yang harus memiliki pemahaman yang mendalam tentang kebijakan moneter, sistem keuangan, dan ekonomi makro,” katanya saat dihubungi pada Selasa (20/1/2026).

Sebanyak tiga wakil menteri - dari kiri ke kanan Wamen Investasi Yuliot, Wamen Keuangan Thomas Djiwandono, dan Wamen Pertanian Sudaryono, memberikan keterangan kepada wartawan seusai dilantik di Istana Negara, Jakarta, Kamis (18/7/2024).

Melansir laman resmi Kementerian Keuangan, Thomas merupakan lulusan sarjana Studi Sejarah di Haverford College, Amerika Serikat, pada 1994. Selanjutnya, pada 2003, ia meraih gelar Master of Arts di bidang Hubungan Internasional dan Ekonomi Internasional dari Johns Hopkins University, Amerika Serikat.

Pengalamannya di bidang ekonomi antara lain sebagai analis keuangan di NatWest Market, Jakarta, pada 1996 dan konsultan di Castle Asia pada 1999. Lalu, ia juga sempat berkarier di Comexindo Internasional selama 2010-2024 serta di Arsari Group pada 2011-2024.

Sebelum dilantik sebagai Wakil Menteri Keuangan oleh Presiden RI ke-7 Joko Widodo, Thomas merupakan Bendahara Umum Partai Gerindra. Ia pun kembali didapuk sebagai Wakil Menteri Keuangan oleh Presiden RI Prabowo Subianto.

Quote

Saya khawatir market tidak memberikan respons positif terhadap beliau. Ini juga akan berpengaruh pada rupiah kita yang nanti bisa semakin tertekan. Sekarang saja sudah nyaris ke Rp 17.000 per dolar AS.

Menurut Rahma, calon Deputi Gubernur BI seharusnya memiliki latar belakang yang kuat di bidang ekonomi, keuangan, dan kebijakan moneter. Ini mengingat posisi tersebut memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga stabilitas ekonomi, baik dari sisi domestik maupun global.

”Saya khawatir market tidak memberikan respons positif terhadap beliau. Ini juga akan berpengaruh pada rupiah kita yang nanti bisa semakin tertekan. Sekarang saja sudah nyaris ke Rp 17.000 per dolar AS,” ujarnya.

Sejak awal tahun, nilai tukar rupiah terus melemah hingga terdepresiasi sebesar 1,25 persen secara tahun kalender berjalan. Mengutip data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah pada perdagangan Senin (19/1/2026) ditutup di level Rp 16.935 per dolar AS.

Pegawai perusahaan penukaran uang asing Valuta Artha Mas di ITC Kuningan, Jakarta, menghitung dan melihat kondisi lembaran uang dollar AS, Rabu (19/11/2025). Setelah selama dua hari sebelumnya tertekan, hari ini, berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate Bank Indonesia, rupiah menguat 28 poin dari hari sebelumnya menjadi Rp 16.732 per dollar AS. *** Local Caption ***

Dihubungi secara terpisah, ekonom senior Bright Institute, Yanuar Rizky, mengatakan, tata kelola kebijakan saat ini menjadi salah satu kunci penting bagi perekonomian Indonesia dalam rangka memitigasi risiko gejolak global.

”Jadi, isu ini (tukar guling Thomas-Juda) kontroversial dan akan menambah tekanan persepsi yang menekan rupiah,” katanya.

Komplikasi

Menurut Yanuar, dinamika pelemahan nilai tukar rupiah telah berlangsung sejak lama. Bahkan, keseimbangan baru atau batas bawah rupiah saat ini telah berada pada level Rp 16.600 per dolar AS.

Kondisi tersebut, antara lain, tampak dari perbandingan antara pergerakan indeks dolar AS terhadap mata uang utama (DXY) dengan nilai tukar rupiah. Pada Maret 2020, DXY berada di level 97, sedangkan rupiah masih tercatat di level Rp 14.192 per dolar AS.

Infografik-Strategi Pengendalian Nilai Tukar Rupiah *** Local Caption *** Infografik-Strategi Pengendalian Nilai Tukar Rupiah

Kemudian, saat DXY berada di level 97 pada Maret 2022, rupiah tercatat Rp 14.365 per dolar AS. Artinya, telah terjadi pergeseran keseimbangan baru nilai tukar rupiah sebesar 200 poin.

Bahkan, keseimbangan tersebut kian melebar hingga 2.000 poin, yakni ketika DXY berada di level 97 pada November 2025 dan rupiah tercatat Rp 16.648 per dolar AS. Ke depan, Yanuar memperkirakan, rupiah berisiko kembali tertekan pada periode Februari-Maret 2026, Mei-Juni 2026, serta November-Desember 2026.

Quote

Ada kemungkinan besar hari ini atau besok rupiah itu akan tembus di level Rp 17.000 per dolar AS.

Sementara itu, pengamat mata uang dan komoditas sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi berpendapat, pelemahan rupiah telah terjadi sebelum mencuatnya kabar pencalonan Thomas. Sebaliknya, tekanan terhadap rupiah merupakan komplikasi, baik dari faktor eksternal maupun internal.

Dari sisi eksternal, gejolak geopolitik, mulai dari Timur Tengah, kawasan Eropa, hingga kebijakan Amerika Serikat telah memicu ketidakpastian. Selain itu, kepastian dari pergerakan suku bunga kebijakan bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed) pun turut memberikan andil bagi tekanan di pasar keuangan.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa didampingi para eselon I Kementerian Keuangan memberi keterangan kepada wartawan pada konferensi pers APBN KiTA di Jakarta, Kamis (8/1/2026). Kementerian Keuangan mencatat hingga akhir Desember 2025, defisit APBN 2025 mencapai Rp 695,1 triliun atau 2,92 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Angka tersebut melampaui proyeksi defisit 2,78 persen.

Di sisi lain, rupiah juga tertekan akibat kondisi stabilitas ekonomi domestik. Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang diperkirakan dapat melebar hingga 3 persen telah memberikan sinyal kondisi fiskal sedang tidak baik-baik saja.

”Ini juga yang kemungkinan besar akan memengaruhi terhadap pelemahan mata uang rupiah,” kata Ibrahim.

Menurut dia, pencalonan Thomas sebagai Deputi Gubernur BI memang berdampak bagi stabilitas nilai tukar rupiah. Namun, dampaknya relatif tidak signifikan mengingat pelemahan rupiah sudah berlangsung sebelumnya, yakni sejak dilantiknya Donald Trump sebagai Presiden AS pada awal 2025.

Dengan kata lain, ada pencalonan Thomas atau pun tidak, rupiah tetap akan tertekan. ”Ada kemungkinan besar hari ini atau besok rupiah itu akan tembus di level Rp 17.000 per dolar AS,” ujarnya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Agustinus Yoga Primantoro
 | 

Editor:

Agnes Theodora
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra