Turki dan Lebanon, Tujuan Perjalanan Apostolik Pertama Paus Leo XIV

Vatikan menyebut perjalanan ini sebagai kombinasi antara ziarah sejarah, dialog antaragama, dan gestur solidaritas bagi kawasan Timur Tengah.

24 Nov 2025 18:00 WIB · Internasional

AP

Oleh Irene Sarwindaningrum

VATIKAN, SENIN — Paus Leo XIV memulai perjalanan apostolik perdananya dengan mengunjungi Turki dan Lebanon. Kunjungan ini bertujuan mempromosikan persatuan umat Kristiani. Perjalanan ini juga untuk mendorong upaya perdamaian di tengah ketegangan Timur Tengah.

Akademisi hubungan internasional Giorgio Del Zanna menyoroti dimensi dialog lintas iman dalam agenda Paus tersebut. ”Turki adalah negara Muslim dan saya percaya bahwa dari perspektif Paus Leo XIV, hubungan dengan Muslim dan Islam sangat penting untuk membangun perdamaian,” kata pengajar sejarah kontemporer dan sejarah Turki itu, seperti dikutip kantor berita Turki, Anadolu Ajansi, Senin (24/11/2025).

Menurut pengumuman resmi Takhta Suci melalui Vatican News, perjalanan apostolik ini dijadwalkan berlangsung pada 27 November hingga 2 Desember 2025. Perjalanan dimulai di Turki dan dilanjutkan ke Lebanon.

Kunjungan Paus itu sangat dinantikan di Lebanon. Poster dan spanduk bergambar diri Paus Leo XIV terpampang di jalan-jalan yang baru dipugar, lengkap dengan tulisan ”Lebanon ingin damai”.

”Rakyat Lebanon lelah. Mereka mengharapkan kata-kata yang jujur untuk elite Lebanon, juga tindakan yang kuat dan konkret,” kata Vincent Gelot, Direktur Kantor Lebanon dan Suriah untuk l’Oeuvre d’Orient, organisasi Katolik yang mendukung umat Kristiani di Timur Tengah.

Pilgrims visit the tomb of St. Charbel inside the monastery in the northern village of Annaya, Lebanon, Saturday, Nov. 15, 2025. (AP Photo/Hassan Ammar)

Koordinator media gereja untuk kunjungan Paus ini, Abdo Abou Kassem, mengatakan, Paus juga ingin pertemuan lintas agama di pusat Beirut. Pertemuan ini untuk menegaskan kembali peran Lebanon sebagai model bagi Timur dan Barat.

Sejak lama, Lebanon dipandang sebagai model bagi keberagaman agama di Timur Tengah. Namun, sejak 2019, negara itu dilanda serangkaian krisis. Ekonomi runtuh dan kemiskinan kian parah.

Konflik juga terus mendera. Ledakan di pelabuhan Beirut pada 2020 menewaskan lebih dari 220 orang dan menyebabkan kerusakan besar di ibu kota. Saat ini, Lebanon juga menghadapi serangan Israel.

Dengan kondisi seperti itu, perjalanan enam hari ini menjadi ujian internasional besar pertama bagi Paus asal Amerika Serikat (AS) itu. Paus yang baru terpilih Mei lalu itu dikenal punya kepemimpinan yang sederhana. Gaya ini kontras dengan pendahulunya, Paus Fransiskus, yang dikenal dengan kepemimpinan karismatik dan impulsif.

Quote

Rakyat Lebanon lelah. Mereka mengharapkan kata-kata yang jujur untuk elite Lebanon, juga tindakan yang kuat dan konkret.

Duta Besar Lebanon untuk Takhta Suci Fadi Assaf menyebut kunjungan itu sebagai kunjungan yang luar biasa. Kunjungan tersebut dapat menyoroti kesulitan yang dihadapi Lebanon. Negara itu berharap adanya terobosan politik dan ekonomi.

Gelot mengatakan, rakyat Lebanon terjebak dalam siklus kejam perang dan penderitaan. Mereka juga didera harapan yang kandas dan ketidakpastian tentang masa depan. Namun, masyarakat sangat menyadari bahwa kunjungan ini tidak akan menyelesaikan semua masalah mereka.

Kunjungan tersebut dinilai menjadi kesempatan untuk menyoroti peran organisasi swasta berbasis keagamaan dalam memastikan akses layanan kesehatan dan pendidikan. Salah satunya adalah rumah sakit jiwa yang dikelola para suster Fransiskan yang akan dikunjungi Paus Leo XIV.

Perjalanan ini mencakup pertemuan dengan kaum muda Lebanon. Misa dan doa di lokasi ledakan pelabuhan diperkirakan menarik 100.000 orang.

Uskup Maronit Batroun, Mounir Khairallah, menyebut kunjungan ini memiliki makna spiritual yang besar bagi rakyat Lebanon. ”Bagi Lebanon, kunjungan ini seperti matahari yang terbit setelah 50 tahun kegelapan,” ujarnya seperti dikutip Vatican News.

Pilgrims pray at the feet of a shrine to the Virgin Mary in Harissa east Beirut, Lebanon, Sunday, Nov. 9, 2025. (AP Photo/Hassan Ammar)

Kunjungan Turki

Berbeda dengan Beirut, di Turki, kunjungan Paus belum banyak menarik perhatian publik. Turki merupakan negara mayoritas Muslim dengan populasi umat Kristiani sekitar 0,2 persen dari 86 juta jiwa.

Di Turki, Paus akan merayakan 1.700 tahun Konsili Nicea. Berlangsung pada 325 Masehi, Konsili Nicea adalah pertama kalinya kredo ditetapkan. Kredo merupakan pernyataan iman dasar umat Kristiani.

Vatikan menyebut perjalanan ini sebagai kombinasi antara ziarah sejarah, dialog antaragama, dan gestur solidaritas bagi kawasan yang tengah menghadapi ketegangan.

Kunjungan ke Turki juga bertujuan memajukan dialog Gereja dengan Islam. Turki berada di persimpangan strategis antara Timur dan Barat.

FILE - Pope Leo XIV arrives for his weekly general audience in St. Peter's Square, at the Vatican, Wednesday, Sept. 10, 2025. (AP Photo/Gregorio Borgia, File)

Dalam perspektif Katolik, Turki merupakan pusat Kekristenan purba, titik pertemuan tradisi Katolik Latin dan Ortodoks Timur. Turki juga pertemuan sejarah antara Kristen dan Islam.

Paus akan bertemu Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Ankara pada Kamis (27/11/2025) dan mengunjungi Masjid Biru di Istanbul pada Sabtu (29/11/2025).

Dalam wawancara dengan kantor berita Anadolu Ajansi, akademisi hubungan internasional Giorgio Del Zanna menilai keputusan Paus memulai perjalanan luar negeri perdananya dari Turki sebagai langkah strategis.

”Turki saat ini memainkan peran mediasi yang sangat penting. Saya percaya Paus Leo XIV, dengan memulai dari Turki, sebuah negara yang berada di pusat banyak krisis dunia, dapat menyampaikan pesan bagi komunitas internasional dari perspektif yang strategis,” ujarnya.

Inti perjalanan ini adalah peringatan Konsili Nicea. Paus hadir memenuhi undangan pemimpin spiritual Gereja Ortodoks, Patriark Bartholomew I.

Pertemuan pada 325 Masehi di Nicea, sekarang bernama Iznik, berlangsung tepat sebelum perpecahan besar antara Gereja Timur dan Barat. Peringatan konsili ini dipandang sebagai momen penting untuk memajukan kembali persatuan umat Kristiani.

A tourist visits the Chora or Kariye Museum, formally the Church of the Holy Saviour, a medieval Byzantine Greek Orthodox church, on August 21, 2020, in the Fatih district in Istanbul. – Turkish President Recep Tayyip Erdogan on August 21, 2020, ordered another ancient Orthodox church that became a mosque and then a popular Istanbul museum to be turned back into a place of Muslim worship. Located in today’s Fatih district in Istanbul, the building was constructed as a monastery in 534 during the Byzantine period. After Istanbul was taken over by the Ottomans in 1453, it was converted into a mosque in 1511, just like Hagia Sophia in Istanbul. Serving as a mosque for 434 years, it was converted into a museum by a Council of Ministers decree in 1945, after the Republic of Turkey was established in 1923. (Photo by BULENT KILIC / AFP)

Di tepi Danau Iznik, Jumat, Paus akan bergabung dengan para pejabat tinggi dari berbagai Gereja Ortodoks untuk doa bersama. Doa itu awalnya direncanakan dihadiri oleh Paus Fransuskus.

Umat Katolik mengakui otoritas universal Paus sebagai Kepala Gereja. Adapun umat Ortodoks terorganisasi dalam berbagai gereja nasional yang menunjuk pemimpinnya sendiri.

Namun, Patriark Rusia Kirill tidak diundang. Ia dikenal mendukung Presiden Rusia Vladimir Putin. Tidak adanya undangan karena perang di Ukraina memperdalam jurang antara patriarkat Moskwa dan Konstantinopel.

Menurut Vatican News, pihak Vatikan menyusun agenda dengan hati-hati untuk menghindari sensitivitas diplomatik. Paus akan berhati-hati agar tidak memperburuk ketegangan dengan Moskwa. Moskwa dilaporkan khawatir bahwa Vatikan dapat memperkuat peran Konstantinopel sebagai mitra dialog utama meski belum ada pernyataan resmi. (AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Irene Sarwindaningrum
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Retma Wati