Sebagai anggota NATO, Turki memiliki angkatan darat terbesar kedua di aliansi tersebut. Turki telah mulai memproduksi pesawat jet, tank, dan kapal induk sendiri.
13 Mar 2025 17:02 WIB · Internasional
ANKARA, KAMIS — Gara-gara Amerika Serikat mencoba mengontrol narasi dunia, pergerakan geopolitik semakin dinamis. Dunia mulai membentuk titik-titik keseimbangan baru. Di Eropa, Turki kini muncul sebagai alternatif mitra utama potensial dalam merestrukturisasi arsitektur keamanan Eropa.
Saat ini, Eropa tengah berjuang keras untuk memperkuat pertahanan sembari mendukung Ukraina. Selain muncul ide agar Perancis menjadi payung nuklir Eropa, negara-negara Eropa membentuk coalition of the willing alias sukarela untuk mendukung Ukraina dalam perang Rusia-Ukraina.
Upaya itu muncul setelah perubahan sikap Amerika Serikat di bawah pemerintahan Presiden AS Donald Trump. Trump cenderung mengabaikan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan menunjukkan kecendetungan berpihak pada Rusia dalam negosiasi perdamaian untuk Perang Ukraina-Rusia.
Eropa kini meminta partisipasi lebih dari Turki sebagai anggota NATO. Pada Rabu (12/3/2025), Perdana Menteri Polandia Donald Tusk bertemu Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Ankara.
Dalam kunjungan itu, Tusk menyinggung tentang peran Ankara dalam perdamaian di Ukraina dan stabilitas regional. Saat ini, Polandia memegang jabatan sebagai presiden bergilir UE.
”Saya mengajukan usulan yang jelas kepada Presiden Erdogan: agar Turki memikul tanggung jawab sebesar-besarnya dalam proses perdamaian, dalam memastikan stabilitas dan keamanan di seluruh kawasan kita,” kata Tusk.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/13/cf348148-4a7c-4e2a-b991-9878e28142b9_jpg.jpg)
Seorang diplomat Eropa mengatakan, sangat penting agar Turki mengambil bagian dalam masalah Ukraina-Rusia. Kepentingan Erdogan sama dengan Eropa saat ini sebab Turki tidak lagi memiliki dinamika dengan Rusia terkait Suriah. Rusia sebelumnya mendukung Presiden Suriah Bashar al-Assad yang kemudian digulingkan oleh pemberontak yang didukung Turki pada 2024.
”Jadi, pada titik tertentu, kebetulan bagi Turki untuk memainkan peran lebih dalam jaminan Eropa di masa depan, terutama bagi Ukraina,” ujar diplomat itu tanpa menyebutkan nama.
Sebagaimana disebutkan, Eropa sedang mencoba segala cara dalam menjaga keamanan dan perdamaian kawasan. Eropa juga tengah membahas diskursus perubahan payung nuklir Eropa. Selama ini, AS yang mempunyai lebih dari 5.000 hulu nuklir menjadi payung nuklir Eropa. Sebagai satu-satunya anggota UE dengan senjata nuklir, muncul wacana agar Perancis dengan 290 hulu ledak nuklir menjadi penangkal nuklir Eropa.
Selain itu, awal Maret ini, Inggris dan Perancis menggagas pembentukan koalisi sukarela. Koalisi akan menyusun rencana guna menawarkan dukungan kepada Ukraina jika terjadi kesepakatan damai untuk mengakhiri perang Ukraina-Rusia, termasuk dengan menempatkan pasukan penjaga perdamaian di Ukraina.
Sejumlah pengamat berpendapat, usaha-usaha Eropa telah menciptakan peluang langka bagi Turki. Turki dapat memperdalam hubungan dengan benua ini kendati masih terganjal perbedaan soal supremasi hukum, masalah maritim dengan Yunani dan Siprus, serta penundaan permohonan Turki bergabung ke UE.
”Negara-negara Eropa yang selama ini mengira mereka punya kemewahan untuk mengecualikan Turki kini menyadari bahwa mereka tidak bisa lagi mengecualikan Turki,” kata Sinan Ulgen, mantan diplomat Turki Direktur Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Luar Negeri (EDAM).
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/14/85557832-8960-4bd6-96f1-062b453d6e53_jpg.jpg)
Seorang pejabat Kementerian Pertahanan Turki mengatakan, Ankara dan Eropa memiliki kepentingan bersama, termasuk tentang penanggulangan terorisme dan migrasi. Karena itu, partisipasi penuh Turki dalam pertahanan UE sangat penting.
Menurut pejabat itu, Turki siap berkontribusi dalam mendukung pembentukan kerangka keamanan baru. Sebagai anggota NATO, Turki memiliki angkatan darat terbesar kedua di aliansi tersebut.
Turki telah mulai memproduksi pesawat jet, tank, dan kapal induk sendiri dalam beberapa tahun terakhir. Ankara menjual pesawat nirawak bersenjata secara global, termasuk ke Ukraina. Ekspor industri pertahanan Turki sebesar 7,1 miliar dollar AS pada 2024.
Namun, pengamat melihat, sikap Turki terhadap Ukraina dan Rusia dapat menjadi catatan. Erdogan berhasil menyeimbangkan hubungan antara Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dan Presiden Rusia Vladimir Putin selama perang.
”Pertanyaan mendasar yang akan dihadapi Turki adalah masalah hubungan dengan Rusia karena hakikat kerangka keamanan Eropa dimulai dengan memandang Rusia sebagai ancaman,” kata Ulgen.
Ulgen mengatakan, Ankara harus menentukan posisi jelas terhadap Rusia. Jika tidak, sulit bagi Turki untuk mengambil peran keamanan yang lebih besar.
Turki memberi dukungan militer dan menyuarakan dukungan kedaulatan teritoria untuk Ukraina. Turki juga menjadi tuan rumah perundingan perdamaian pada awal perang dan menawarkan diri untuk menjadi tuan rumah perundingan berikut di masa mendatang. Turki menyambut positif rencana Ukraina bergabung dengan NATO, ide yang ditentang Rusia.
Sementara itu, Turki tetap menolak untuk menjatuhkan sanksi pada Rusia setelah perang berlangsung selama tiga tahun terakhir. Sikap Turki itu berbeda dengan banyak negara Barat yang telah menjatuhkan banyak sanksi ekonomi pada Rusia. Hingga saat ini, Turki-Rusia masih bekerja sama dalam sektor energi, pariwisata, dan perdagangan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/07/12/c580427a-9997-4d0d-be1d-166625dfbf4e_jpg.jpg)
Pekan lalu, sumber dari Kementerian Pertahanan Turki mengatakan, Turki dapat mempertimbangkan untuk berkontribusi pada misi penjaga perdamaian di Ukraina jika terjadi gencatan senjata.
Kepala Staf Angkatan Bersenjata Turki Metin Gurak menghadiri pertemuan dengan para kepala angkatan darat Eropa di Paris, Perancis, pekan ini. Mereka juga membahas rencana pengerahan pasukan tersebut.
Pada Rabu (12/3/2025), Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan, dia berharap Moskwa akan ”menanggapi secara konstruktif” usulan AS untuk gencatan senjata selama 30 hari antara Rusia dan Ukraina. Kyiv telah menerima usulan itu.
”Kami menganggap penerimaan gencatan senjata oleh Ukraina sebagai hal yang positif dan penting. Kami sekarang berharap Rusia akan menanggapi secara konstruktif,” kata Erdogan dalam konferensi pers bersama Tusk.
Erdogan melanjutkan, sikap Turki akan perang itu sudah jelas sejak pertama. Ankara tidak menginginkan pertumpahan darah dan berharap kedua negara tetangga mengakhiri perang dengan perdamaian yang adil. Ia kembali mengusulkan agar Turki menjadi tuan rumah perundingan damai.
Adapun Erdogan dan Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan telah menyatakan, Eropa harus melibatkan Turki dalam restrukturisasi arsitektur keamanan dengan cara yang ”berkelanjutan dan bersifat pencegahan”.
Seorang pejabat Turki secara anonim mengatakan, belum ada rencana yang jelas mengenai arsitektur keamanan Eropa yang baru atau kemungkinan kontribusi Turki terkait hal itu. Namun, langkah-langkah tertentu dapat memajukan kerja sama kedua pihak.
”Daripada melibatkan Turki dalam proyek-proyek dengan cara ’a la carte’, akan lebih logis bagi Eropa untuk mencari kemitraan dengan cara yang lebih holistik. Misalnya, mereka dapat memulai dengan melibatkan Turki dalam program Fasilitas Perdamaian Eropa,” kata pejabat itu merujuk pada inisiatif UE yang mendukung Ukraina. (AFP/REUTERS)
Penulis:
Elsa Emiria LebaEditor:
Bonifasius Josie Susilo H