Dengan latar belakang yang kompleks ini, kehadiran Macron dan Prabowo di PBB pada tanggal 22 September, sama-sama mempunyai arti yang penting.
28 Sep 2025 07:06 WIB · Kolom
Beberapa hari yang lalu. Presiden Macron dari Perancis dan Presiden Prabowo dari Indonesia tampil secara bersusulan di panggung PBB untuk menuntut perubahan pada kegilaan yang sudah terlalu lama mencemarkan Timur Tengah: perebutan ”sejengkal tanah”–Palestina, oleh dua masyarakat, dengan masing-masing pembenaran historisnya. Orang Israel dan orang Palestina.
Orang Israel, yang kebanyakan Yahudi itu, mengacung-acungkan Alkitab dan ”penciptaan” konsep Ketuhanan ± 3.500 tahun yang lalu sebagai pembenaran haknya atas tanah Palestina yang konon ”dijanjikan” Tuhan pada mereka pada waktu itu. Masalahnya: mereka adalah ”pendatang” baru di tanah konon suci itu, yang telah ditinggalkan hampir 2.000 tahun yang lalu untuk menghindari represi Romawi. Mereka kemudian berlalu-lalang di wilayah Eropa dan Timur Tengah di mana mereka kerap didiskriminasi entah sebagai ”pembunuh” Al-Masehi atau sebagai pedagang uang dan perantara dagang antarnegara.
Puncak kebencian itu adalah rasisme fanatik dari Hitler, yang atas nama teori keunggulan kulit putih Jermanik/Arya, telah membantai 6 juta di antara mereka sepanjang Perang Dunia Kedua (1939–1945). Sisanya ramai-ramai datang sebagai pengungsi ke tanah Palestina, di mana mereka mendirikan negara Israel di bawah naungan PBB. Israel kini tergolong negara maju.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/01/13/c27cad2d-a85d-499d-b7b1-8efa1dbc3da3_jpg.jpg)
Masalahnya: dunia telah berubah. Palestina adalah milik orang Palestina. Zaman ketika satu bangsa dapat membanjiri wilayah dunia dengan penduduk yang baru telah selesai—terakhir di Australia dan Selandia Baru. Imperialisme kini dilawan di mana-mana. Termasuk di Palestina/Israel maupun di PBB. Sementara orang Palestina kian disisihkan—kecuali yang menjadi warga Israel—perang dan gerakan perlawanan bersusulan. Berkali-kali upaya perdamaian dilakukan. Selalu gagal. Rasa kemanusiaan kita kerap tersentuh, untuk selalu dikecewakan.
Puncak kebiadaban telah dicapai ketika agama ditumpangi sebagai asas kebenaran sikap fanatik: kelompok ekstrem Yahudi mengacungkan cerita Samuel dan Joshua untuk membenarkan pembantaian penghuni ”Tanah Suci”; dibalas lawan Palestina ekstremnya yang mengangkat cerita pembunuhan suku Yahudi pada awal Islam sebagai patokan mutlak juga. Seakan-akan perang total bisa dibenarkan atas nama wahyu.
Pokoknya sejarah menjadi gila: masyarakat Yahudi, yang telah menjadi korban terbesar nasionalisme fanatik Jerman, kini menganut nasionalisme fanatik yang membawanya ke jurang kebiadaban genosida.
Kini muncul pertanyaan tentang kemodernan Barat. Tragis atau ironisnya, budaya Barat yang pada abad Pencerahan telah melahirkan gagasan Hak Asasi Manusia dan universalisme politik, justru pada saat yang sama juga telah menumbuhkan nasionalisme fanatik dan teori keunggulan rasial yang masih muncul hingga kini.
Dengan latar belakang yang kompleks ini, kehadiran Macron dan Prabowo di PBB pada tanggal 22 September, sama-sama mempunyai arti yang penting. Perihal Macron, memang Perancis-lah yang pertama, pada tahun 1789, membuat deklarasi HAM pertama, yang merupakan landasan bagi penghapusan peraturan anti-Yahudi di seluruh Eropa. Lebih-lebih Perancis kini memiliki minoritas Yahudi dan minoritas Islam terbesar di Eropa yang pertentangannya kadang-kadang bermuara pada tindakan kriminal/rasis dan mengancam keamanan. Jadi, baik secara ideologis maupun secara politik praktis, Perancis berkepentingan mensponsori perdamaian di Timteng.
Posisi Indonesia tak kurang menarik. Dengan menolak Piagam Jakarta pada 1945, Sukarno berikut Indonesia telah juga merangkul universalisme, dengan nada ”lokal”: agama-agama disamaratakan haknya. Sejak Sukarno, posisinya Indonesia tegas dan konsisten, tak pernah menganut rasisme anti-Yahudi, tetapi mengutuk imperialisme Israel dan khususnya kini, apa yang disebutnya ”genosida di Jalur Gaza”.
Maka tak mengherankan bila pidato Macron dan Prabowo Subianto saling melengkapi: Macron mengakui negara Palestina, asal tanpa dipimpin Hamas; sementara Prabowo siap mengakui Israel, asal sebelumnya Israel memberikan pengakuan penuh bagi Palestina, yaitu mengakui solusi dua negara di Palestina; bahkan Prabowo siap mengirim tentara Indonesia pada PBB untuk menjaga perdamaian.
Perkembangan ini mencerminkan keterpecahan Eropa dari Amerika, yang masih terbelenggu imperialisme atas nama MAGA. Biarlah! Jika kesepahaman ini ditindaklanjuti lintas bangsa, ia dapat menutup luka sejarah sekaligus membuka kerja sama baru untuk iklim, ekologi, dan laut. Jika tidak, dunia terancam terseret konflik tanpa akhir—dari perebutan air hingga migrasi—dengan bahaya nuklir yang bisa jadi tak lagi terelakkan.
Penulis:
Jean CouteauEditor:
Sarie FebrianePenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase