Sangat kompleks dan mengesankan secara visual, mirip dengan Menara Eiffel di Paris bila dilihat bukan sebagai menara.
10 Agt 2025 07:15 WIB · Kolom
Tanggal 29 Juli 2025, pukul 20.00 Wita. Wah. Tak terduga. Yang terlihat di kejauhan bukanlah bayangan gedung istana negara, yang ditelan malam gulita, tetapi gugus lampu-lampu malam. Titik-titik terang lampunya yang menikam gelap seolah-olah merajut garis-garis siluet yang satu ini—siluet sang pencuri amerta-hidup abadi—yaitu sang Garuda. Tergarisi lampu, kedua sayapnya tampak terbentang seolah-olah hendak merangkul malamnya kota Nusantara, melindungi seisi Indonesia yang tertidur nyenyak.
Keesokan harinya. Tanggal 30 Juli, pukul 10 pagi, dari tempat yang sama: sang Garuda kini telah bersulap menjadi bentuk riil di depan mata. Bukan bayangan imajiner-simbolis yang mengemuka, melainkan realitas fisik yang kokoh nan megah. Tak ayal, tadi malam yang saya lihat garisnya kini tampil sebagai realitas pusat pemerintahan Indonesia: Istana Garuda namanya. Dengan struktur bilah-bilah logam yang mengukir ruang demi membentuk secara ajaib lekukan sayap sang burung raksasa, Istana Garuda memang telah ditancapkan untuk seterusnya ke tengah bukit-bukit Kalimantan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2023/03/04/d96a9940-d8dd-49bd-b108-3cfc4359dc1f.jpg)
Kenapa ada Istana Garuda yang berbentuk burung mistis itu? Bagi pencetusnya, Nyoman Nuarta, sebabnya sederhana: mungkinkah istana itu dibangun dengan mengacu pada pakem-pakem arsitektur Minang atau Toraja? Tidak, apalagi Jawa: ”mustahil”, tukasnya. ”Harus lambang netral secara etnis-agama! Tetapi, bagaimana agar netral dan berkarakter bila tak ada rujukan pakem nasional? Mustahil juga,” katanya.
Maka, muncullah acuan pada Garuda, yang dikenal sejak kecil oleh semua anak Indonesia. Lalu, dari konsep Garuda ini, rupanya diubah dengan mengedepankan sayapnya. Lahir apa yang oleh Nyoman Nuarta disebut sebuah artsculpt, perpaduan antara konsep trimatra patung Garuda dan gedung megah dengan arsitektur fungsional. Seusai diberikan landasan ”sipil” arsitektur yang kokoh, lalu dikembangkan tampilan visual estetisnya.
Di situlah menjadi luar biasa, oleh karena segi estetis bukanlah terdiri dari tampak luar saja sebagai Garuda merangkul semesta. Ada segi magis juga bagi mereka yang diizinkan masuk ke dalam istana, seperti dilakukan penulis. Dilihat dari dalam struktur tiang-tiang logam yang menghasilkan wujud luar Garuda, terlihat persilangan-persilangan dari ratusan tiang logam dan bilah-bilah perunggu dari berbagai ukuran dan berbagai arah. Sangat kompleks dan mengesankan secara visual, mirip dengan Menara Eiffel di Paris bila dilihat bukan sebagai menara, melainkan jalinan tiang-tiang melengkung ke segala arah.
Teknisnya pun luar biasa. Struktur dan bilah perunggu berukuran berbeda-beda agar terbentuk sayap dan tubuh Garuda. Di situlah sang pembuat artsculp itu, yaitu Nyoman Nuarta, tidak hanya tampil sebagai seniman perumus bentuk estetis, tetapi tampil juga sebagai insinyur dan ahli logistik. Agar setiap bilah, setiap potongan logam—di antara puluhan ribunya yang berbeda-beda ukuran—terintegrasi dengan tepat di dalam irama bentuk sang burung raksasa. Keajaiban seni dan engineering!
Namun, apa makna sesungguhnya dari adanya Garuda ini? Apa makna adanya kota Nusantara ini? Napak tilas sejenak. Pada 2014, ketika Joko Widodo mengambil kendali Indonesia sebagai presiden ke-7, Indonesia sudah bersatu, tetapi persatuan itu masih bersifat timpang/hierarkis. Ada Jawa, ada luar Jawa. Ada pusat dan ada pinggiran. Memang terdapat angan-angan ”kesatuan”, yang terumus secara simbolis dalam Pancasila, tetapi kesatuan tersebut masih jauh. Indonesia masih merupakan suatu ”konstruksi”, tahap ”nation-building”; masih bersifat ”imagined community” sebagaimana yang dirumuskan oleh Ben Anderson.
Sekarang, sejak prinsip ”Indonesia-sentris” dikedepankan Jokowi, sejak infrastruktur dibangun di mana-mana, lebih-lebih sejak pembangunan kota Nusantara dijadikan keniscayaan, kita menyaksikan pergeseran: Indonesia tengah berubah, dari persatuan berpusat di Jawa menjadi kesatuan yang kian menunggal secara organis-ekonomi, bahkan kian lengkap dengan diimbuhi pusat pemerintahannya. Oleh karena itu, pembangunan Nusantara wajib diteruskan: tidak mungkin negara Indonesia, dari kesatuan yang kian organis, dibiarkan ”mundur” kembali ke persatuan hierarkis antara daerah pusat dan daerah pinggiran.
Kini Ibu Kota Nusantara dan Istana Garuda adalah tempat di mana Indonesia naik tingkat. Maka, bravo Istana Garuda. Bravo Ibu Kota Nusantara yang keduanya menjadi tanda kemanunggalan yang maha-organis itu.
Dirgahayu RI! Merdeka!
Penulis:
Jean CouteauEditor:
Dahono FitriantoPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase