Udar Rasa: Dentum-dentum Liberté dan Pancasila

Aneh juga, ketika menonton pawai militer Perancis–Indonesia di Paris beberapa hari lalu, saya terharu. Ingin menangis.

20 Jul 2025 07:33 WIB · Kolom

Oleh Jean Couteau

Dentum! Drum menggema.

Langkah serempak.

Deg-degan Paris pagi itu.

Merah Putih melintas.

Dentum! Lagi.

Bukan perang.

Tapi parade.

Bukan ancaman.

Tapi sapaan.

Dari jauh—Indonesia datang.

Menyaksikan parade itu, saya melamun. Tentang negeri asal: Perancis, dan negeri saya kini, bersama istri dan anak.

Nasionalisme adalah hal yang aneh. Bila nasionalisme adalah kerinduan akan Tanah Air sebagai tempat kelahiran—dalam hal saya, rumah keluarga di Clisson, Perancis—maka, ya! Ia hadir dalam diri saya dalam bentuk kenangan: sebuah kastil berusia seribu tahun tepat di depan rumah orangtua, di seberang sungai. Saya kerap menyiapkan ujian SMA di atas kapal dayung kecil yang ditambatkan di sangkar di tengah sungai tenang itu. Maka, bila ”nasionalisme” berarti kerinduan masa kecil itu, ia memang bersemayam dalam kalbu saya.

Namun, nasionalisme sebagai ideologi keras tidak pernah ditumbuhkan. Saya anggota generasi Eropa pasca-Perang Dunia Kedua. Aneh, tapi nyata, saya dan segenerasi tidak pernah diajarkan lagu kebangsaan Perancis, ”La Marseillaise”, yang sarat semangat tempur itu. Saya tidak tahu pasti alasannya, tapi jelas itu lahir dari keputusan politik.

Jean Couteau, Penulis Udar Rasa

Rekonsiliasi dengan Jerman adalah keniscayaan baru kala itu. Mengapa memupuk permusuhan? Jerman kini sekutu, bukan musuh. Ia tak lagi menjadikan rasisme sebagai ideologi. Itulah keniscayaan zaman muda saya. Maka, rasa kebangsaan pun berubah-ubah, terbawa gelombang sejarah. Kita merasa pelaku, padahal tak lebih dari tetes air di tengah arus besar itu.

Aneh juga, ketika menonton pawai militer Perancis–Indonesia di Paris beberapa hari lalu, saya terharu. Ingin menangis. Saya merasa diterpa gelombang sejarah yang lain. Melihat drumband tentara muda Indonesia membuka pawai Bastille Day, tersirat sesuatu yang berbeda dari nasionalisme klasik Eropa: bukan soal menggempur musuh demi kejayaan politik di Eropa atau dunia, melainkan tentang membangun dan mempertahankan ”kebersamaan”, melampaui perbedaan. Itulah, agaknya, tugas historis bangsa ini—tugas terhadap dirinya sendiri dan terhadap bangsa lain. Apa pun amarah gelombang laut.

Bagaimana dengan diri ini—tetes air bawaan gelombang sejarah? Kini saya bagian dari gelombang campuran. Tidak lagi berada di pinggir Sungai Sèvres di Perancis, tetapi di pinggir Sungai Ayung di Denpasar. Tak ada kastil di depan mata, tetapi rimbun pepohonan. Saya tidak lagi membaca Voltaire dan Rimbaud, tetapi menonton gambuh, memperdebatkan siapa Sakuni dan Adipati Karna dalam perpolitikan Indonesia. Bukan lagi diskusi keras dengan teori konflik, melainkan mencari jalan tengah bahkan sebelum diskusi dimulai. Semuanya dalam bahasa Indonesia.

Anak saya sudah menjadi dokter—bagian sepenuhnya dari gelombang Nusantara. Maka, jangan heran: saat mendiskusikan sepak bola, saya selalu memakai kata ”kita” saat tim Garuda melawan Malaysia. Kini saya me-mereka-kan orang Perancis, dan meng-kita-kan orang Indonesia.

Namun—kembali ke topik awal—mengapa tentara Indonesia berdefile ”cantik” di depan tentara Perancis dalam pawai Bastille Day? Apa arti langkah serempak dan dentuman tambur itu?

Jawabannya amat sederhana. Seperti pelat-pelat tektoniknya, pelat-pelat strategis dunia tengah bergeser. Retakannya memuntahkan semburan api tak terduga. Perubahan demografis pesat, perombakan peta ekonomi dunia, dan munculnya kekuatan militer mahadahsyat di negara-negara yang belum melampaui trauma masa lalu mendatangkan risiko strategis yang tak kecil.

Kini, dengan pemimpin-pemimpin dunia yang mahanasionalis—yang satu dihantui obsesi MAGA, yang lain merindukan kemahakekuasaan masa lalu, dan satunya lagi haus kekayaan alam untuk menopang ekonominya—situasi dunia membuka bermacam-macam kemungkinan konflik. Kita pun teringat konsep ”Poros Maritim Dunia” Jokowi: bila terjadi kekacauan di Laut China Selatan, bukankah kekuatan-kekuatan MAGA akan meminta hak atau izin melintas melalui poros ini?

Bukankah ini pula yang mendorong Indonesia mengandalkan senjata dari teknologi lain, dari kekuatan lainnya?

Demi ”Liberté” dan Pancasila.

Agar nasionalisme tidak lagi menggila.


Kerabat Kerja

Penulis:

Jean Couteau
 | 

Editor:

Dahono Fitrianto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase