Tantangan jauh lebih sulit akan dihadapi tim Piala Thomas Indonesia. Tim putri akan menjalani laga kedua setelah menang tipis atas Kanada.
26 Apr 2026 08:21 WIB · Olahraga
Humas PP PBSI
HORSENS, SABTU — Setelah mengalahkan Aljazair, tantangan berlipat akan dihadapi tim Piala Thomas Indonesia saat melawan Thailand. Laga ini bisa menjadi kunci untuk menentukan langkah berikutnya bagi Fajar Alfian dan kawan-kawan.
Indonesia dan Thailand, yang bersaing di Grup D, akan berhadapan di Forum Horsens, Minggu (26/4/2026) mulai pukul 08.30 waktu setempat atau pukul 13.30 WIB. Dalam grup ini, Thailand seharusnya berada di bawah Indonesia dan Perancis, serta di atas Aljazair. Namun, hasil pertandingan pada hari pertama turnamen, Jumat, memperlihatkan bahwa Thailand adalah tim yang berbahaya.
Thailand mengalahkan Perancis 4-1 meski Perancis diuntungkan dengan susunan pertandingan tiga partai tunggal lebih dulu, diikuti dua ganda. Nomor tunggal seharusnya menjadi keunggulan Perancis dengan adanya dua atlet peringkat sepuluh besar dunia, yaitu Christo Popov (ranking keempat) dan Alex Lanier. Selain itu, ada Toma Junior Popov di ranking ke-17. Adapun Thailand hanya memiliki Kunlavut Vitidsarn yang prestasinya meyakinkan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/26/d6e10e6dd2c5a29a798bc74cc07c9278-WhatsApp_Image_2026_04_25_at_00.59.16.jpeg)
Akan tetapi, posisi dalam pemeringkatan dunia tidak menjadi penentu hasil di lapangan. Thailand memenangi dua dari tiga partai pertama ketika Vitidsarn mengalahkan Christo dan Panitchaphon Teeraratsakul menang atas Lanier, masing-masing, dalam dua gim. Perancis akhirnya hanya mendapat kemenangan dari Toma.
Hasil laga tersebut membuat Indonesia harus mengerahkan fokus melawan Thailand sebelum berpikir Perancis yang semula dinilai sebagai lawan paling berat. Selain memiliki Vitidsarn, tunggal putra peringkat kedua dunia yang menjadi pemain andalan, Thailand punya kekompakan dari atlet-atlet muda.
Untuk menghadapi Thailand, Indonesia membuat sedikit perubahan formasi dengan menurunkan Mohammad Zaki Ubaidillah dan Sabar Karyaman Gutama/Mohammad Reza Pahlefi yang tidak dimainkan saat mengalahkan Aljazair 5-0.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/23/7aa76b8846ab88c6bd33f6b50ebe128c-WhatsApp_Image_2026_04_22_at_20.10.34.jpeg)
Peran tunggal pertama tetap menjadi milik Jonatan Christie untuk berhadapan dengan Vitidsarn. Jonatan unggul 8-7 dari pemain peringkat kedua dunia itu, tetapi kalah dalam tiga pertemuan terakhir, salah satunya dalam semifinal Malaysia Terbuka, Januari.
Meski Jonatan memiliki hasil buruk dalam pertemuan terakhir dengan Vitidsarn, memilihnya tampil pada partai pertama tetap menjadi pilihan terbaik. Alwi Farhan, tunggal kedua Indonesia, selalu kalah dalam empat persaingan dengan Vitidsarn sehingga tugasnya adalah bersaing dengan Teeraratsakul, atlet seangkatannya yang dikalahkan dalam final Indonesia Masters, Januari.
Peluang besar mendapat kemenangan ada pada tunggal ketiga dan dari dua pertandingan ganda. Zaki, meski menjadi debutan dalam Tim Thomas, memiliki rekam jejak lebih baik dari turnamen BWF World Tour dibandingkan tunggal ketiga Thailand, Tanawat Yimjit. Zaki sudah menjuarai turnamen BWF World Tour, sedangkan Yimjit baru bisa bersaing dalam rangkaian turnamen international series/challenge yang berada di bawah level BWF World Tour.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/22/0a3de631ac536f6d3bcd8f4cebdb2d37-WhatsApp_Image_2026_04_22_at_20.10.51.jpeg)
Pada sektor ganda, Sabar/Reza akan tampil di Piala Thomas untuk pertama kalinya, sedangkan Fajar Alfian akan berduet dengan Nikolaus Joaquin.
”Mengingat kondisi Fikri yang saat ini kurang fit, kami memutuskan untuk memasangkan Fajar dengan Joaquin sebagai ganda kedua. Pemilihan Fajar didasarkan pada karakter permainannya yang dinilai sangat sesuai dengan laju shuttlecock yang cepat di sini. Selain itu, dari segi pengalaman, kami meyakini bahwa Fajar mampu membantu Joaquin untuk tampil secara optimal,” tutur pelatih ganda putra Antonius Budi Ariantho tentang duet Fajar dan Nikolaus.
Seperti prediksi kapten timnya, Putri Kusuma Wardani, tim Piala Uber Indonesia bersaing ketat dengan Kanada pada laga pertama penyisihan Grup C. Putri bahkan kalah saat menjalani partai pertama meski Indonesia memenangi tiga partai berikutnya.
Dalam pertandingan sesama pemain peringkat sepuluh besar dunia, Putri kalah dari Michelle Li 21-16, 11-21, 16-21. Ini menjadi kekalahan pertama Putri dari atlet peringkat kesepuluh dunia itu setelah menang di semifinal Australia Terbuka 2025 dan babak pertama India Terbuka, Januari. Masing-masing pertandingan tersebut, juga, berlangsung tiga gim.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/26/df012405437ce23db0cf050cd39d6056-WhatsApp_Image_2026_04_25_at_20.52.36.jpeg)
Setelah kehilangan partai pembuka, Indonesia memastikan kemenangan melalui tiga pertandingan beruntun, yaitu dari Febriana Dwipuji Kusuma/Meilysa Trias Puspitasari, pemain debutan, Thalita Ramadhani Wiryawan, dan Amallia Cahaya Pratiwi/Siti Fadia Silva Ramadhanti. Debutan lainnya, Ni Kadek Dhinda Amartya Pratiwi, tampil pada partai terakhir, tetapi kalah.
Putri mengungkapkan rasa tidak puas dengan penampilannya karena melakukan banyak kesalahan pada gim kedua dan ketiga, serta tidak bisa mengubah pola main dengan cepat. ”Rasa gugup dan tegang pasti ada, tapi saya coba melupakannya. Tadi saat bermain sebenarnya happy karena enggak mau jadi beban di partai pembuka, tapi saya belum bisa untuk buktikan dan menyumbang poin,” tutur atlet yang menjadi kapten tim putri Indonesia tersebut.
Sementara itu, Thalita menyampaikan rasa gembiranya bisa bertanding di Piala Uber dan menyumbangkan kemenangan. ”Dari dulu pengin banget main di Uber Cup dan alhamdulillah tahun ini bisa terpilih. Saat masuk lapangan, tentunya ada rasa ingin menang untuk memberikan dukungan ke Kak Putri bahwa dia tidak sendiri karena kami berada di sini sebagai tim,” kata Thalita, atlet berusia 18 tahun dan termuda di Tim Indonesia.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/26/bf7e27cb9ab7a298ad11b9ad1e29e10c-WhatsApp_Image_2026_04_25_at_22.28.17.jpeg)
Thalita bermain pada partai ketiga dan membuat Indonesia unggul 2-1. Dia mengalahkan Wen Yu Zhang 21-16, 21-19 pada pertemuan pertama mereka. Setelah itu, Amallia/Fadia membuat Indonesia menang 3-1 dengan mengalahkan Catherine Choi/Josephine Wo 21-18, 21-11.
”Ini kemenangan yang penting, tapi kami harus lebih tenang di gim-gim awal karena main beregu pasti ada atmosfer yang bikin tegang, sangat berbeda dengan perseorangan. Juga, kami harus bisa lebih yakin,” kata Fadia.
Tim putri Indonesia tidak memiliki banyak waktu untuk mempersiapkan diri menjalani pertandingan kedua. Mereka akan melawan Australia pada Minggu sore waktu setempat atau Minggu tengah malam waktu Indonesia. ”Kami tidak punya waktu untuk pertandingan kedua. Jadi, istirahat dan memperhatikan asupan nutrisi menjadi faktor sangat penting,” katanya.
Sistem skor bulu tangkis akan berubah dari best of three games dalam 21 poin (21x3) dengan rally point menjadi 15x3 mulai 4 Januari 2027. Hal itu diputuskan BWF dalam BWF Annual General Meeting di Horsens, Sabtu (25/4/2026). Keputusan ini diambil melalui mekanisme pemungutan suara dengan hasil 198 negara menyetujui dan 43 negara menolak.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/26/f64342b21745bc5f6bc72087aa770730-WhatsApp_Image_2026_04_25_at_23.17.22_1_.jpeg)
PP PBSI diwakili oleh Wakil Sekretaris Jenderal Wino Sumarno dan Kabid Hubungan Luar Negeri Bambang Roedyanto. Pembahasan perubahan skor menjadi agenda yang menarik perhatian pada acara yang digelar di sela kejuaraan Piala Thomas dan Uber tersebut.
PBSI menyatakan akan segera melakukan kajian internal serta menyiapkan langkah-langkah strategis guna mengantisipasi perubahan tersebut, termasuk penyesuaian dalam program pembinaan dan persiapan atlet menuju era sistem skor baru.
”PBSI berkomitmen untuk memastikan atlet Indonesia tetap kompetitif dan siap menghadapi implementasi kebijakan ini,” ujar Bambang.
Putri Kusuma Wardani–Michelle Li, 21-16, 11-21, 16-21
Febriana Dwipuji Kusuma/Meilysa Trias Puspitasari–Jackie Dent/Crystal Lai, 23-21, 21-10
Thalita Ramadhani Wiryawan–Wen Yu Zhang, 21-16, 21-19
Amallia Cahaya Pratiwi/Siti Fadia Silva Ramadhanti–Catherine Choi/Josephine Wo, 21-18, 21-11
Ni Kadek Dhinda Amartya Pratiwi–Rachel Chan, 21-13, 19-21, 11-21
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Nur Adji