UNCTAD memperkirakan ekonomi dunia pada 2025 tumbuh 2,3 persen. Adapun WTO meramal perdagangan dunia pada 2025 hanya tumbuh 0,2 persen hingga -1,5 persen.
17 Apr 2025 10:21 WIB · Ekonomi
JAKARTA, KOMPAS – Lembaga Perdagangan dan Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNCTAD) meramal bahwa ekonomi global tengah mengarah ke fase resesi. Guncangan kebijakan perdagangan, pelemahan permintaan, turbulensi keuangan, dan ketidakpastian sistemik meningkatkan tekanan terhadap ekonomi global.
Hal itu tertuang dalam Trade and Development Foresights 2025 ”Under Pressure: Uncertainty Reshapes Global Economic Prospects”. UNCTAD merilis laporan itu di Geneva, Swiss, Rabu (16/4/2025) waktu setempat.
UNCTAD memperkirakan ekonomi dunia akan tumbuh melambat dari 2,8 persen pada 2024 menjadi hanya 2,3 persen pada 2025. Proyeksi angka pertumbuhan itu di bawah ambang batas 2,5 persen yang merupakan penanda fase resesi ekonomi global.
Ini juga merupakan perlambatan ekonomi yang signifikan dibandingkan dengan tingkat pertumbuhan tahunan rata-rata pada periode prapandemi Covid-19. Rerata pertumbuhan tahunan pada periode tersebut, yakni 2010-2019, adalah 3,2 persen.
Ekonomi dunia akan tumbuh melambat dari 2,8 persen pada 2024 menjadi hanya 2,3 persen pada 2025. Proyeksi angka pertumbuhan itu di bawah ambang batas 2,5 persen yang merupakan penanda fase resesi ekonomi global.
UNCTAD menekankan, pertumbuhan ekonomi dan perdagangan global sebenarnya sudah berangsur-angsur membaik. Namun, sejak Amerika Serikat mulai mengungkap niatnya menaikkan tarif pada awal 2025, ketidakpastian ekonomi dan perdagangan dunia kembali meningkat.
”Pada saat AS mengumumkan kenaikan tarif terhadap para mitra dagangnya, pembalikan tajam (atas tren pemulihan ekonomi dan perdagangan) tidak dapat dikesampingkan dalam beberapa bulan mendatang,” sebut laporan itu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/17/509f3c00dcf0a7ccec475b8e4febc232-Screenshot_2025_04_17_081711.png)
Guncangan kebijakan perdagangan disertai pelemahan permintaan, turbulensi keuangan, dan ketidakpastian sistemik akan semakin meningkatkan tekanan terhadap ekonomi global. Negara-negara berkembang dan negara dengan ekonomi yang paling rentan menjadi korban.
Sekretaris Jenderal UNCTAD Rebeca Grynspan mengatakan, sistem perdagangan global memasuki fase kritis yang mengancam pertumbuhan, investasi, dan kemajuan pembangunan. Ini merugikan negara-negara yang rentan dan miskin.
”Perdagangan tidak boleh menjadi sumber ketidakstabilan lainnya. Perdagangan harus melayani pembangunan dan pertumbuhan global,” ujarnya melalui siaran pers.
UNCTAD mencatat, hanya 10 dari hampir 200 mitra dagang AS yang menyumbang sekitar 90 persen dari defisit perdagangan AS. Namun, negara-negara yang paling tidak berkembang dan negara-negara kepulauan kecil yang sedang berkembang turut terdampak.
Padahal, negara-negara yang paling tidak berkembang itu hanya bertanggung jawab atas 1,6 persen defisit AS. Sementara negara-negara kepulauan kecil yang sedang berkembang hanya berkontribusi 0,4 persen dari defisit AS.
Menurut Grynspan, mereka tidak akan membantu menyeimbangkan defisit perdagangan AS maupun menghasilkan pendapatan yang signifikan. Yang terjadi justru memperburuk ”badai dahsyat” yang tengah menerpa negara-negara itu, seperti tingkat utang yang tidak berkelanjutan dan pertumbuhan domestik yang melambat.
”Ketidakseimbangan perdagangan dan keuntungan yang terkonsentrasi harus dipecahkan melalui dialog dan negosiasi. Ini saatnya bekerja sama, bukan malah semakin meningkatkan ketegangan,” katanya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/06/7f86d978818a0cc9ad47dc9d62a8b5c1-US_POLITICS_TARIFF_TRADE_DIPLOMACY_128703532.jpg)
Dalam laporan itu, UNCTAD juga memproyeksikan ekonomi Indonesia pada 2025 tumbuh 4,8 persen. Kendati berada di bawah rerata pertumbuhan 5 persen, ekonomi RI masih tumbuh di atas pertumbuhan ekonomi kawasan Asia Tenggara yang diperkirakan 4,4 persen.
Pertumbuhan ekonomi RI tertopang tren penurunan tingkat inflasi dan pelonggaran moneter yang memacu konsumsi rumah tangga. Sementara peningkatan pengeluaran pemerintah, khususnya belanja sosial, akan menghasilkan stimulus fiskal terhadap aktivitas ekonomi.
Pertumbuhan ekonomi sejumlah negara mitra dagang RI juga diramal turun pada 2025. Ekonomi China diperkirakan hanya tumbuh 4,4 persen, India 6,5 persen, AS 1 persen, dan Jepang 0,5 persen.
Pada waktu yang sama, Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) meramal bahwa volume perdagangan barang dunia pada 2025 turun 0,2 persen secara tahunan. Jika situasi perang dagang semakin memburuk, volume perdagangan tersebut bahkan dapat terkontraksi atau tumbuh -1,5 persen.
Pada 2024, volume perdagangan barang dunia tumbuh 2,7 persen secara tahunan. Sebelumnya, WTO memperkirakan volume perdagangan global pada 2025 tumbuh 3 persen.
Volume perdagangan barang dunia pada 2025 diperkirakan turun 0,2 persen secara tahunan. Jika situasi perang dagang semakin memburuk, volume perdagangan tersebut bahkan dapat terkontraksi atau tumbuh -1,5 persen.
Kepala Ekonom WTO Ralph Ossa mengemukakan, risiko semakin memburuknya perdagangan dunia tetap ada. Hal itu bisa terjadi jika AS mengaktifkan kembali penangguhan tarif resiprokalnya dan ketidakpastian kebijakan perdagangan masif menyebar ke negara lain.
Jika tarif timbal balik AS diaktifkan, pertumbuhan volume perdagangan barang global akan turun sebesar 0,6 poin persentase pada 2025. Sementara jika ketidakpastian kebijakan perdagangan masif menyebar, pertumbuhan volume perdagangan barang dunia dapat terpangkas 0,8 poin persentase lagi.
”Simulasi kami menunjukkan bahwa ketidakpastian kebijakan perdagangan bakal menekan arus perdagangan secara signifikan, mengurangi ekspor, dan melemahkan aktivitas ekonomi,” katanya melalui siaran pers.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/17/b59f934a4118f881e1a963488d1c1b96-pertumbuhan_perdagangan_global.jpg)
WTO juga menyebutkan, gangguan perdagangan AS-China diperkirakan akan memicu pengalihan perdagangan yang signifikan. Pengalihan perdagangan itu akan membuat ekspor barang China meningkat 4-9 persen di seluruh wilayah di luar Amerika Utara (Kanada, Amerika Serikat, dan Meksiko).
Pada saat yang sama, impor AS dari China diperkirakan akan turun tajam, terutama di sektor tekstil, pakaian, dan peralatan listrik. Di satu sisi, negara-negara berkembang dan kurang berkembang khawatir pasarnya bakal bersaing ketat dengan China. Di sisi lain, ada peluang ekspor baru bagi pemasok lain yang mampu mengisi pasar AS.
Direktur Jenderal Ngozi Okonjo-Iweala mengaku prihatin dengan ketidakpastian kebijakan perdagangan, termasuk kebuntuan kesepakatan dagang antara AS dan China. Perang tarif justru semakin meningkatkan ketidakpastian perdagangan dunia. Padahal, sebelumnya, tekanan ketidakpastian perdagangan dunia sudah mulai mereda.
Untuk itu, WTO akan mendorong terciptanya lapangan bermain yang setara di antara negara-negara anggota. WTO juga berencana menyederhanakan pengambilan keputusan dan mengadaptasi perjanjian-perjanjian yang selama ini telah dihasilkan agar lebih sesuai dengan realitas global saat ini.
Penulis:
Hendriyo WidiEditor:
Agnes TheodoraPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul