UNOCHA memperingatkan 1,9 juta warga Gaza menghadapi bencana kemanusiaan karena serangan militer Israel tak berhenti dan blokade bantuan. Israel tak peduli.
14 Mei 2025 17:24 WIB · Internasional
GAZA, RABU — Peringatan Nakba 2025 tetap dibayangi genosida serta pengusiran massal bangsa Palestina di Gaza. Israel tidak menghiraukan itu dan malah menyiapkan serangan besar.
Nakba diperingati setiap 15 Mei untuk mengenang pengusiran 750.000 warga Palestina oleh milisi Israel pada 1948. Permukiman dan aneka harta warga Palestina dihancurkan milisi Israel.
Sebagian bekas permukiman itu dijadikan hutan dengan pohon dari Eropa atau Australia. Sebagian lagi dijadikan permukiman yang diisi imigran Yahudi dari berbagai benua.
Sejak 2024, Nakba diperingati di tengah serangan besar-besaran Israel ke Gaza. Media Amerika Serikat, The New York Times, dalam laporan Rabu (14/5/2025) mengungkap, sejumlah tentara Israel mengakui warga Gaza kelaparan. Para Tentara itu bertugas di unit yang mengurusi Palestina, Cogat.
”Bukti apa lagi yang Anda butuhkan sekarang? Apakah Anda akan bertindak tegas untuk mencegah genosida dan memastikan penghormatan terhadap hukum humaniter internasional?” kata Tom Fletcher, Kepala Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UN OCHA) dalam sidang Dewan Keamanan PBB.
Dia menambahkan, Israel sengaja dan tanpa malu-malu membuat kebijakan serta aksi yang mendorong tindakan tidak berperikemanusiaan terhadap warga sipil Palestina di Gaza. Dalam laporannya, dia menyebut bahwa blokade bantuan kemanusiaan yang dilakukan Israel menjadikan makanan sebagai alat politik dan militer.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/14/c9bcbd4d48906fb41d4b4e45c30c3b2a-000_467D69H.jpg)
Dilansir dari cuitan akun resmi UNOCHA, 13 Mei 2025, yang melansir data The Integrated Food Security Phase Classification (IPC), sebanyak 1,94 juta penduduk yang ada di Jalur Gaza menghadapi rawan pangan sangat akut. Merujuk data yang dirilis pada Senin lalu itu, sebanyak 470.000 jiwa atau setara 22 persen dari populasi Gaza masuk dalam klasifikasi Fase 5, fase tertinggi kedaruratan pangan yang sangat parah.
Fletcher mengatakan, blokade bantuan pangan dan kemanusiaan adalah pengalih perhatian sekaligus kedok untuk melakukan kekerasan terhadap warga Palestina. Dia juga mengatakan, negara-negara anggota PBB, terutama Dewan Keamanan, telah diberi pengarahan dan informasi terperinci soal kondisi warga Palestina di Gaza, termasuk angka kematian, kehancuran, kelaparan, penyiksaan, hingga kekejaman serta perilaku tidak manusiawi lainnya terhadap para pengungsi.
Fletcher juga menyebut pemerintah dan militer Israel dengan sengaja menghalangi operasi kemanusiaan serta secara sistematis melakukan penghancuran terhadap kehidupan rakyat Palestina. Menurut dia, kekerasan itu terjadi berulang kali dan dalam skala yang masif.
Fletcher menegaskan, dunia internasional melalui PBB memiliki kemampuan untuk menyelamatkan ratusan ribu jiwa penduduk Palestina. ”Kami memiliki mekanisme yang ketat untuk memastikan bantuan sampai ke warga sipil dan bukan ke Hamas. Akan tetapi, Israel menolak akses kami. Mereka lebih mengutamakan tujuannya, mengurangi jumlah penduduk Gaza daripada (menyelamatkan) nyawa warga sipil,” kata Fletcher.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/12/1525b9ce909be908eb423460ec4e2392-000_44EV8CR.jpg)
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Selasa (13/5/2025), mengutip data Kementerian Kesehatan Gaza menyebutkan, sejak awal Maret lalu sebanyak 57 anak meninggal karena kekurangan gizi sejak blokade bantuan dilakukan Israel. Perwakilan WHO di wilayah Palestina, Dr Rik Peeperkorn, mengatakan, jika situasi ini terus berlanjut, sebanyak 71.000 anak di bawah usia lima tahun bisa menderita kekurangan gizi akut selama 11 bulan ke depan.
”Ini adalah salah satu krisis kelaparan terburuk di dunia, yang terjadi secara langsung,” kata Peeperkorn.
Di Paris, Presiden Perancis Emmanuel Macron menyebut pemblokiran bantuan kemanusiaan ke Gaza oleh Israel sebagai tindakan yang memalukan. Akan tetapi, kritik hingga kecaman, bahkan buruknya situasi kemanusiaan di Gaza tidak membuat Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bergeming.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/29/7677601b-1795-484d-8339-bdecdf1126c8_jpg.jpg)
Netanyahu bahkan mengatakan, pembebasan sandera pun tidak akan menghentikan Israel untuk menyerang. ”Jika Hamas mengatakan mereka akan membebaskan lebih banyak sandera, kami akan menangkap mereka dan kami masuk (menyerang). Akan tetapi, tidak akan ada cara bagi kami untuk menghentikan perang,” kata Netanyahu.
Rencana tersebut bahkan telah dieksekusi. Militer Israel, dilansir dari laman media Israel, Times of Israel, menyerang kawasan seputar dua rumah sakit, yakni Rumah Sakit Eropa dan Rumah Sakit Nasser. Militer Israel mengklaim mereka menyerang pusat komando Hamas yang terletak di bawah bangunan Rumah Sakit Eropa.
Serangan itu, menurut Badan Pertahanan Sipil Gaza, menewaskan sedikitnya 28 orang dan melukai puluhan orang. Serangan di Rumah Sakit Nasser menewaskan dua orang dan melukai beberapa warga sipil lain.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/14/80796bca-c892-45f0-a4db-c1c6c284e4ed_jpg.jpg)
Satu korban tewas di RS Nasser adalah Hassan Aslih, seorang jurnalis. Israel mengklaim Aslih berpartisipasi dalam serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.
Militer Israel menyebut, sasaran utama serangan ke lingkungan RS Eropa adalah Muhammad Sinwar, sosok yang kini memimpin perlawanan Hamas terhadap Israel. Militer Israel belum mengonfirmasi apakah serangan itu menewaskan Sinwar, saudara kandung mantan pemimpin Hamas Yahya Sinwar, atau tidak.
Melansir laporan TOI, militer merilis video yang diduga diambil saat serangan terjadi. Video tersebut dimaksudkan untuk memperlihatkan bahwa serangan IDF mengungkap adanya terowongan di bawah bangunan rumah sakit. Meski begitu, dalam laporan TOI, rekaman itu menunjukkan bangunan sekolah dan bukan sebuah pusat layanan medis.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/14/4526947e88a20ff9ca573c799d883a7d-000_46LM4CV.jpg)
Rekaman yang diunggah ke internet menunjukkan kepulan asap tebal dari tanah di sekitar rumah sakit, sesaat setelah jet tempur Angkatan Udara Israel menjatuhkan puluhan bom. Rekaman AFPTV menunjukkan kawah besar menganga di tanah dan retakan di halaman luar rumah sakit. Sebuah bus yang rusak tersangkut di salah satu kawah akibat bom.
”Semua orang di dalam rumah sakit—pasien dan yang terluka—berlarian ketakutan, sebagian menggunakan kruk, yang lain berteriak memanggil anak-anak mereka. Yang lain terpaksa diseret dengan tempat tidur untuk menyelamatkan diri,” kata Amro Tabash, seorang jurnalis foto lokal.
Netanyahu mengatakan, militer Israel akan melakukan serangan dengan kekuatan penuh untuk menyelesaikan operasi tersebut. ”Menyelesaikan operasi berarti mengalahkan Hamas. Itu berarti menghancurkan Hamas,” kata Netanyahu.
(AP/AFP/Reuters)
Penulis:
Mahdi MuhammadEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar