Harapan menyelamatkan korban gempa yang tertimbun reruntuhan bangunan makin menipis. Bau mayat merebak di penjuru kota.
02 Apr 2025 09:09 WIB · Foto
Memasuki hari keempat, tim penyelamat lokal ataupun internasional berkejaran dengan waktu untuk segera menemukan dan mengevakuasi korban hidup dari retuntuhan setelah lewat dari 100 jam sejak terjadi gempa berkekuatan 7,7 magnitudo yang melanda Myanmar pada Jumat (28/3/3035) pukul 12.50 waktu setempat. Kabar melegakan terakhir, regu penolong berhasil menyelamatkan korban hidup dari reruntuhan setelah tertimbun 91 jam di reruntuhan bangunan di ibu kota Myanmar, Naypyidaw, Selasa, 1 April 2025, sore.
Sebelumnya, regu penyelamat asal China juga berhasil menyelamatkan ibu hamil dan seorang putrinya dari reruntuhan setelah tertimbun selama 60 jam. Dua korban ini menambah jumlah korban hidup menjadi enam orang, yang bisa diselamatlan dari puing-puing sebuah apartemen yang roboh.
Video penyelamatan banyak beredar di media sosial. Salah satunya, terlihat regu penolong mengangkat pelan-pelan korban bergantian setelah menyingkirkan reruntuhan bangunan dan memindahkan kedua korban ke tempat yang lebih aman agar segera mendapatkan pertolongan medis.
Hingga Selasa (1/4/2025), malam, menurut laporan Pemerintah Myanmar, korban tewas telah mencapai lebih dari 2.700 jiwa. Sementara itu, ribuan korban luka harus mendapatkan perawatan di rumah sakit ataupun tempat darurat medis yang banyak tersebar di Myanmar.
Bau mayat juga mulai tercium dari reruntuhan bangunan yang banyak tersebar, terutama di dua kota terbesar, Naypyidaw dan Mandalay, serta daerah Sagaing yang menjadi episentrum gempa.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/02/7f29e9be-931e-440f-a54c-36baf6d682dc_jpg.jpg)
Terbatasnya peralatan penolong yang dimiliki Pemerintah Myanmar menjadi salah satu kesulitan menemukan dan menyelamatkan korban. Di beberapa tempat terlihat regu penolong lokal memindahkan puing-puing dengan tangan, dan bergantian satu dengan yang lain.
Regu penolong internasional yang dibantu anjing pelacak dan peralatan yang lebih canggih menjadi motor pendorong penyelamatan di banyak tempat.
Dalam catatan, gempa bumi berkekuatan 7,7 magnitudo ini bukanlah gempa terbesar di Myanmar. Pada Mei 1912 Myanmar pernah dilanda gempa bumi dengan kekuatan 8 magnitudo. Namun, gempa kali ini menimbulkan lebih banyak korban.
Ribuan warga Myanmar yang selamat juga membutuhkan bantuan. Mereka kesulitan mendapatkan makanan karena situasi yang belum sepenuhnya normal. Antrean panjang mengular terlihat setiap kali diadakan pembagian makan dan air untuk warga.
Mereka bertahan dengan tinggal di tenda-tenda darurat dan mengandalkan bantuan makanan yang sediakan pemerintah dan bantuan asing.
Pelarangan Jurnalis Meliput
Junta militer yang berkuasa, melalui Juru Bicara Militer, Zaw Min Tun, mengeluarkan larangan kepada jurnalis internasional untuk datang dan meliput gempa di Myanmar. Ketidaktersediaan pasokan listrik, air, infrastruktur yang darurat, serta situasi darurat menjadi alasan junta.
Sejak kudeta yang dilakukan militer terhadap pemerintah sipil yang sah Aung San Suu Kyi pada tahun 2021, akses informasi tentang negara ini dibatasi secara ketat. Banyak jurnalis ditangkap dan dihukum karena dianggap melanggar aturan berkaitan dengan penyebaran informasi.
Larangan peliputan jurnalis internasional ini diperkirakan bersifat politis. Junta militer militer berusaha memutus akses informasi dan bantuan di daerah di luar kendali mereka.
Diperkirakan, lebih dari separuh wilayah Myanmar telah dikuasai pemberontak. Hanya beberapa kota besar yang berdekatan saja yang masih dikuasai junta militer.
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Iwan SetiyawanPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari