Kemendikdasmen berencana membuat mata pelajaran AI dan ”Coding” sebagai pilihan di SD. Pengajar hingga sarana dan prasarana akan disiapkan.
20 Nov 2024 10:46 WIB · Nasional
JAKARTA, KOMPAS — Rencana pemerintah memasukkan materi tentang akal imitasi dan pengkodean (coding) sebagai mata pelajaran pilihan mulai dari jenjang sekolah dasar perlu dipersiapkan dengan cermat. Materi pembelajaran yang diberikan harus sesuai dengan usia anak dan sumber daya pengajarnya juga perlu dilatih agar kompeten sebelum mengajar.
Direktur Eksekutif Information and Communication Technology Institute Heru Sutadi mengatakan, materi pembelajaran tentang akal imitasi (AI) untuk anak-anak bisa dimulai dengan pengenalan konsep dasar, internet untuk segala hal (internet of things/IoT), mahadata (big data), hingga etika penggunaan dan keamanan siber. Semua harus dilakukan dengan menyenangkan.
”Ajak anak-anak mengenal pemrograman dasar yang memungkinkan mereka untuk belajar logika pemrograman dan konsep dasar AI dengan cara yang menyenangkan,” kata Heru, Rabu (20/11/2024).
Kemudian, ajak anak-anak untuk menggunakan aplikasi sederhana yang mengimplementasikan AI, seperti gim atau aplikasi pembelajaran yang menyesuaikan dengan kemajuan mereka. Diskusikan cara kerja teknologi ini digunakan dalam kehidupan sehari-hari, seperti aplikasi pengiriman makanan, sistem keamanan rumah pintar, atau prediksi cuaca berdasarkan big data.
”Gunakan aplikasi atau alat pembelajaran interaktif yang membantu mereka memahami bagaimana data dikumpulkan dan dianalisis,” ujarnya.
Selain itu, bahas juga tentang pentingnya etika dalam penggunaan teknologi. Misalnya, mengajarkan mereka tentang pentingnya privasi dan keamanan data, serta potensi dampak negatif dari teknologi jika tidak digunakan dengan bijak.
Ini bukan (mata pelajaran) wajib, ya. Ini pilihan.
Untuk itu, Heru meminta Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk melatih dan mengembangkan kompetensi guru atau tenaga pendidik yang mengampu mata pelajaran AI dan coding.
”Gurunya harus beberapa langkah di depan menguasai teknologi AI-nya. Kalau tidak ya akan salah arah atau sama-sama bingung,” tutur Heru.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2023/01/20/af8b9480-9b90-4446-9c01-752f90299bb6.jpg)
Founder & CEO Educourse Mutiara Hikma Mahendradatta menambahkan, perkembangan digital adalah sebuah keniscayaan. Perkembangan digital jika tidak diarahkan dengan benar akan membawa masalah bagi masa depan anak-anak.
Oleh karena itu, setiap negara perlu membangun sumber daya manusia yang melek digital sedari dini, seperti upaya membuat mata pelajaran coding dan AI di SD. ”Ada banyak sekali teknologi yang harus diketahui oleh siswa, untuk sekolah dasar mengenal dulu, mulai dari coding, AI, robot, big data, dan sebagainya,” kata Mutiara.
Mendikdasmen Abdul Mu’ti dalam diskusi terpumpun dengan sejumlah pemangku kepentingan di sektor pendidikan di Jakarta, Selasa (19/11/2024), mengungkapkan bahwa gagasan ini bukan sesuatu yang baru di bidang pendidikan. Banyak negara, seperti Singapura, India, China, Jepang, dan negara-negara Skandinavia, sudah menerapkannya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/24/911f70e5-e735-4d66-95b5-f30b45c11788_jpg.jpg)
Di Indonesia pun sudah ada beberapa sekolah yang memberikan mata pelajaran coding dan AI dari tingkat SD. Kemendikdasmen masih akan mengkaji dan menyiapkan sumber daya pengajarnya sebelum menerapkannya pada tahun ajaran 2025/2026.
”Ini bukan (mata pelajaran) wajib, ya. Ini pilihan karena itu kami mencoba sekarang melihat sekolah-sekolah yang sudah menerapkan AI dan coding itu dimulai kelas berapa,” kata Abdul Mu’ti.
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid pun menyatakan, pihaknya akan terlibat dalam penyusunan materi pembelajaran AI dan coding untuk pelajar SD. Kemenkomdigi yang sebelumnya bernama Kementerian Komunikasi dan Informatika ini sudah menyiapkan berbagai modul, termasuk modul tentang coding, untuk membangun literasi digital siswa sekolah.
”Apakah nanti modulnya dibuat bersama dengan Kemenkomdigi, yang kita sudah lakukan selama ini, atau bagaimana, itu nanti masih perlu ketemu. Kami belum ketemu kembali setelah itu,” kata Meutya di Jakarta, Rabu (20/11/2024).
Penulis:
Stephanus AranditioEditor:
Aloysius Budi KurniawanPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan