Usai Adu Retorika, Kapal Selam Nuklir AS Bergerak ke Sekitar Rusia

Sangat jarang bagi militer AS untuk membahas pengerahan dan lokasi kapal selam AS karena misi bersifat sensitif.

02 Agt 2025 14:14 WIB · Internasional

Oleh Elsa Emiria Leba

WASHINGTON DC, SABTU — Adu retorika antara Amerika Serikat dan Rusia berlanjut ke unjuk kekuatan nuklir. Presiden AS Donald Trump memerintahkan pergerakan dua kapal selam nuklir ke sekitar Rusia, sedangkan Presiden Rusia Vladimir Putin memamerkan kemampuan produksi massal rudal nuklir. 

Gesekan AS-Rusia terus terjadi menjelang tenggat yang diberikan Washington kepada Moskwa. Hingga 8 Agustus 2025, Rusia harus mengambil langkah-langkah guna mengakhiri perang di Ukraina yang telah berlangsung hampir 3,5 tahun. Jika tidak, sanksi baru menanti.

Selama berhari-hari, Trump berdebat dengan mantan Presiden Rusia dan Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia, Dmitry Medvedev, tentang Ukraina dan sanksi ekonomi AS. Trump lalu membuat pengumuman langka tentang aksi militer AS.

”Berdasarkan pernyataan yang sangat provokatif dari Medvedev, saya telah memerintahkan penempatan dua kapal selam nuklir di wilayah yang tepat untuk berjaga-jaga. Kata-kata sangatlah penting, dan sering kali dapat mengakibatkan konsekuensi yang tidak diinginkan,” tulis Trump di Truth Social, Jumat (1/8/2025), waktu setempat atau Sabtu waktu Indonesia.

Trump tidak merinci apakah yang dia maksud adalah kapal selam bertenaga nuklir atau kapal selam bersenjata nuklir. Namun, Trump dalam wawancara dengan Newsmax mengatakan, kapal selam itu lebih dekat ke Rusia. ”Saya hanya ingin memastikan bahwa kata-kata dia hanya sekadar kata-kata, tidak lebih dari itu,” ucapnya.

Foto kombinasi yangn dibuat pada Jumat (1/8/2025) ini meunjukkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kiri) menaiki pesawat Air Force One di Pangkalan Udara Lossiemouth, Skotlandia timur laut pada 29 Juli 2025 dan mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev (kanan) di Moskwa, pada 7 Januari 2020. Trump bertengkar dengan Medvedev di media sosial.

Angkatan Laut AS dan Pentagon menolak berkomentar mengenai pernyataan Trump. Sangat jarang bagi militer AS untuk membahas pengerahan dan lokasi kapal selam AS karena misi bersifat sensitif. Selama ini, kapal selam nuklir AS terus-menerus berpatroli sebagai bagian dari triad nuklir (darat, laut, udara).

Washington memiliki total 14 kapal selam bertenaga nuklir Kelas Ohio. Setiap kapal mampu membawa 24 rudal balistik Trident II D5 yang dapat meluncurkan beberapa hulu ledak termonuklir hingga 7.402,98 km. Menurut Nuclear Threat Initiative, sebanyak 8-10 kapal selam Kelas Ohio dikerahkan pada satu waktu.

Medvedev, Kamis (31/7/2025), menyinggung Tangan Mati (Dead Hand) yang legendaris di era Perang Dingin. Istilah itu merupakan referensi terhadap sistem otomatis milik Uni Soviet yang meluncurkan senjata nuklir jika ada serangan nuklir terdeteksi. Sebelumnya, Trump menyebut Rusia dan India sebagai ”ekonomi mati”.

”Mengenai perkataan tentang ’ekonomi mati’ India dan Rusia, dan ’memasuki wilayah berbahaya’, mungkin Trump harus mengingat betapa berbahayanya apa yang disebut ’Tangan Mati’ yang mistis itu,” ujar Medvedev di Telegram menurut NDTV.

Rudal nuklir

Terlepas dari tekanan dari AS tentang tenggang waktu, Rusia tidak menunjukkan keinginan untuk berhenti perang. Serangan Rusia terhadap Ukraina terus berlanjut dengan intensitas tinggi.

Beberapa jam sebelum pernyataan Trump tentang kapal selam nuklir, Presiden Rusia Vladimir Putin, Jumat, menyatakan, Moskwa mulai memproduksi massal Oreshnik, rudal hipersonik yang berkemampuan nuklir. Rusia berencana mengirimnya ke Belarus, sekutu dekatnya yang bertetangga dengan Ukraina, pada akhir tahun.

”Para spesialis Belarus dan Rusia telah memilih lokasi untuk penempatan rudal Oreshnik di masa depan. Kami sedang mempersiapkan penempatan rudal-rudal ini. Jadi, kemungkinan besar, kami akan menyelesaikan masalah ini pada akhir tahun,” ujar Putin bersama Presiden Belarus Alexander Lukashenko.

Foto dari kantor berita negara Rusia Sputnik ini menunjukkan, Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Belarusia Alexander Lukashenko tersenyum saat mengunjungi Biara Valaam di Pulau Valaam, bagian utara Danau Ladoga, Rusia, Jumat (1/8/2025).

Putin mengatakan, Moskwa berharap akan ada lebih banyak perundingan damai walau sekarang sedang unggul dalam perang. ”Kita membutuhkan perdamaian yang langgeng dan stabil di atas fondasi kokoh yang akan memuaskan Rusia dan Ukraina, serta akan menjamin keamanan kedua negara,” kata Putin, dikutip dari The Guardian.

Putin kerap mengklaim tertarik berdamai, tetapi dengan syarat berat. Salah satunya, Ukraina harus mengakhiri ambisi untuk bergabung dengan NATO (Pakta Pertahanan Atlantik Utara). Dia tidak menyinggung tenggat AS. Sikap ambigu Rusia membuat Trump akhirnya mengambil sikap yang lebih keras setelah sempat mengabaikan Ukraina.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan, hanya Putin yang dapat mengakhiri perang. Dia juga kembali menyerukan pertemuan di antara kedua pemimpin.

”Amerika Serikat telah mengusulkan ini. Ukraina telah mendukungnya. Yang dibutuhkan adalah kesiapan Rusia,” tulis Zelenskyy di X.

Tidak bijak

Para pakar keamanan menyebutkan, langkah terbaru Trump adalah eskalasi retorika dengan Moskwa. Namun, langkah itu belum menjadi eskalasi militer lantaran AS sudah mengerahkan kapal selam bertenaga nuklir yang mampu menyerang Rusia.

Menurut para pakar, setiap pembicaraan tentang potensi kemampuan militer nuklir berpotensi memicu kekhawatiran. Dalam catatan sejarah, AS menahan diri untuk merespons ancaman nuklir Rusia karena berisiko.

”Itu tidak bertanggung jawab dan tidak bijaksana. Tidak ada pemimpin atau wakil pemimpin yang boleh mengancam perang nuklir, apalagi dengan cara yang kekanak-kanakan di media sosial,” kata Daryl Kimball, Direktur Eksekutif Arms Control Association.

Hans Kristensen dari Federasi Ilmuwan Amerika menambahkan, kapal selam nuklir AS adalah bagian dari triad nuklir untuk melengkapi pesawat pengebom nuklir dan rudal nuklir di darat. Kapal selam AS selalu diposisikan untuk meluncurkan rudal berhulu ledak nuklir ke sasaran di Rusia.

”Kapal-kapal selam selalu ada di sana setiap saat dan tidak perlu dipindahkan ke posisinya. Trump memberi Medvedev tanggapan atas pernyataan-pernyataan gila tersebut,” ujar Kristensen.

Para prajurit militer Amerika Serikat menyapa ketika Presiden AS Donald Trump tiba di panggung selama perayaan untuk menghormati hari jadi Angkatan Darat AS yang ke-250 pada 10 Juni 2025 di Fort Bragg, Carolina Utara, AS. Trump melakukan perjalanan ke pangkalan Angkatan Darat Fort Bragg untuk mengamati demonstrasi militer dan memberikan sambutan untuk menghormati hari jadi tersebut.

Tidak jelas apa yang mendorong Trump akhirnya mengumumkan langkah AS terkait kapal selam nuklir. Padahal, sebelumnya para pejabat AS telah menyatakan, Gedung Putih tidak menganggap komentar Medvedev sebagai ancaman serius. The New York Times mencatat, Trump pernah pamer kekuatan nuklir AS ketika mengancam Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un pada 2018. 

Direktur Eksekutif McCain Institute Evelyn Farkas menilai, aksi Trump tidak akan mengubah kebijakan Rusia atas Ukraina. Setidaknya, perkembangan terbaru yang terjadi juga tampaknya tidak akan menyebabkan konflik nuklir. 

”Itu benar-benar sebuah sinyal. Ini bukan awal dari konfrontasi nuklir dan tidak ada yang menganggapnya demikian. Dan saya kira Rusia juga tidak,” ujar Farkas yang dulu adalah mantan pejabat Pentagon. (AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Elsa Emiria Leba
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji