Seusai Maduro Ditangkap, Warga Venezuela Diliputi Kecemasan

Venezuela di persimpangan jalan: antara bisa terjadi transisi pemerintahan atau malah terjun ke dalam kekacauan.

04 Jan 2026 11:02 WIB · Internasional

AFP/Juan Barreto

Oleh Laraswati Ariadne Anwar

CARACAS, MINGGU — Penangkapan terhadap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan Ibu Negara Cilia Flores oleh militer Amerika Serikat mengejutkan dunia. Rakyat dan diaspora Venezuela dihadapkan pada situasi yang membuat mereka harap-harap cemas.

Per Minggu (4/1/2026), Venezuela dipimpin oleh Wakil Presiden Delcy Rodriguez. Ia meminta AS mengirim bukti foto ataupun video bahwa Maduro dan Flores masih hidup.

FILE - Venezuela's President Nicolas Maduro, then Constituent National Assembly President Delcy Rodriguez, left, and first lady Cilia Flores, wave as they arrive to the National Assembly, in Caracas, Venezuela, May 24, 2018. (AP Photo/Ariana Cubillos, File)

Masyarakat Venezuela dihadapkan kepada fakta keadaan di Venezuela belum tentu berdampak kepada pergantian rezim. Orang-orang terdekat Maduro masih mengendalikan kekuasaan.

Tampuk kekuasaan, sesuai hukum, dipegang oleh Wapres Delcy Rodriguez. Jika terjadi sesuatu kepadanya, Ketua DPR yang menjadi presiden interim. Ketua DPR Venezuela adalah Jorge Rodriguez, kakak Delcy.

Di urutan keempat adalah Menteri Dalam Negeri Diosdado Cabello. Ia mempertahankan kuasa militer atas rakyat sipil. Setelah itu adalah Menteri Pertahanan Vlarimir Padrino. Mereka semua adalah peninggalan Presiden Venezuela 1999-2013 Hugo Chavez yang dikenal sebagai Rezim Chavista.

Merunut ke tajuk rencana harian El Pais, kemungkinan besar Maduro melakukan hal yang sama dengan pendahulunya, yakni almarhum Hugo Chavez, pada 2013. Ia akan mengerahkan semua pendukungnya dan menunjuk penggantinya. Seperti Chavez, bisa dibilang bahwa Maduro akan berunding hingga titik darah penghabisan.

”Perbedaan utamanya ialah Chavez ketika itu merupakan presiden yang memang sah memenangi pemilihan umum. Kemenangan Maduro pada 2019 ataupun 2024 diragukan oleh berbagai pihak,” tulis El Pais.

Tokoh oposisi Edmundo Gonzalez yang disinyalir sah memenangi pemilu 2019 ataupun penerima Nobel Perdamaian, Maria Corina Machado, apabila dihitung-hitung, masih kecil kesempatan untuk memimpin Venezuela. Apabila pemerintahan baru masih dipegang oleh pejabat terkait Maduro, diaspora Venezuela di luar negeri tidak akan mau pulang.

(FILES) Venezuelan opposition presidential candidate Edmundo Gonzalez Urrutia (R) and opposition leader Maria Corina Machado wave during their campaign closing rally in Caracas on July 25, 2024, ahead of Sunday's presidential election. President Donald Trump said on January 3, 2026, that US forces had captured Venezuela's leader Nicolas Maduro after bombing the capital Caracas and other cities in a dramatic climax to a months-long standoff between Trump and his Venezuelan arch-foe. (Photo by Federico PARRA / AFP)

Saat ini, Wapres Rodriguez menetapkan darurat militer di Venezuela. Militer, polisi, dan kelompok pertahanan sipil dikerahkan untuk ”mengamankan” negara. Praktis, kehidupan rakyat langsung di bawah pengawasan ekstra.

Rezim Chavista menyatakan, mereka menolak bekerja sama dengan Amerika Serikat ataupun militer asing mana pun. Ini tentu mempersulit transisi pemerintahan.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan, asalkan Venezuela bertindak sesuai arahan AS, tidak ada intervensi fisik lagi. Sementara itu, Edmundo Gonzalez mengimbau semua tokoh oposisi agar bersatu untuk membangun negara.

”Ini waktu yang sangat genting jika kita ingin merombak ideologi Chavista,” ujarnya.

Diaspora berbahagia

Selama pemerintahan Maduro, banyak warga Venezuela yang pindah ke luar negeri guna menghindari tekanan pemerintah. Sejak 2014, menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa, sekitar 7,7 juta warga Venezuela atau 20 persen penduduknya pindah. 

Di Spanyol tercatat ada 400.000 warga diaspora Venezuela. Mayoritas diaspora tersebar di Amerika Utara dan Amerika Selatan. Mereka memperhatikan perkembangan situasi di Venezuela.

Venezuelans living in Guatemala celebrate at Simon Bolivar Square in Guatemala City on January 3, 2026, after US forces captured Venezuelan leader Nicolas Maduro. President Donald Trump said on January 3, 2026, that US forces had captured Venezuela's leader Nicolas Maduro after bombing the capital Caracas and other cities in a dramatic climax to a months-long standoff between Trump and his Venezuelan arch-foe. (Photo by JOHAN ORDONEZ / AFP)

Lengsernya Maduro disambut dengan sukacita. Mereka berkumpul di ruang-ruang publik untuk merayakan kejatuhan diktator sambil berseru, ”Si, se puede” atau ”ya, kita bisa.”

”Rasanya senang dan lega melihat kebebasan datang ke Venezuela,” kata Edgar, seorang diaspora Venezuela di Miami, Negara Bagian Florida, AS.

Edgar sudah tinggal di AS sejak berusia 11 tahun. Keluarganya meninggalkan Venezuela karena tidak tahan akan pemerintahan otoriter Maduro dan ingin mencari kesempatan hidup yang lebih baik.

Kepada media Miami Local 10, para diaspora Venezuela mengatakan, semoga masyarakat Venezuela juga mengalami kebebasan hidup seperti yang mereka rasakan di AS. Pada saat yang sama, mereka berharap Pemerintah AS bermurah hati dan memberikan diaspora kesempatan membangun AS.

Di Madrid, Spanyol, Jose Gonzalez Vargas, wartawan Venezuela yang menetap di sana, memilih menahan diri. ”Sebagai wartawan, saya tidak boleh terseret euforia. Saya harus memastikan bahwa semua faktor di Venezuela memang memungkinkan untuk perubahan positif, bukan masa kegelapan berikutnya,” ujarnya.

Venezuelans living in Colombia celebrate in Cucuta, Colombia, on January 3, 2026, after US forces captured Venezuelan leader Nicolas Maduro. President Donald Trump said on January 3, 2026, that US forces had captured Venezuela's leader Nicolas Maduro after bombing the capital Caracas and other cities in a dramatic climax to a months-long standoff between Trump and his Venezuelan arch-foe. (Photo by Raul ARBOLEDA / AFP)

Zuleika Meneses, diaspora Venezuela di Spanyol, mengatakan, tantangan Venezuela tidak selesai dengan penangkapan Maduro dan Flores. Pemerintahan harus dibersihkan dari kroni mereka. 

Para tahanan politik harus dibebaskan dan pemilu yang jujur dan adil dilakukan. ”Baru saya mau pulang ke Venezuela,” katanya.

Maduro di AS

Di AS, warga berunjuk rasa menentang invasi Trump ke Venezuela. Mereka membawa spanduk bertuliskan ”sudah cukup!”. Rekam jejak intervensi AS di berbagai negara selalu menunjukkan kekacauan dan derita bagi masyarakat lokal.

Media CBS melaporkan, Maduro dan Flores tiba di AS. Mereka mendarat di Bandara Stewart di Orange County, New York. Setelah itu, mereka dibawa ke kota New York dengan dikawal Badan Narkotika AS (DEA).

Armed police officers stand in front of the Metropolitan Detention facility in the Brooklyn borough of New York, where ousted president Nicolas Maduro is expected to be held, on January 3, 2026 in New York City. President Donald Trump said January 3 that the United States will "run" Venezuela and tap its huge oil reserves after seizing leftist leader Nicolas Maduro during a bombing raid on Caracas. Trump's announcement came hours after a lightning pre-dawn attack in which special forces grabbed Maduro and his wife -- while air strikes pounded sites in and around the capital city -- then whisked him out of the country. (Photo by John Lamparski / AFP)

Harian Caracas Chronicles menganalisis, sejatinya Trump tidak peduli dengan pergantian rezim di Venezuela. Trump hanya peduli dengan hal-hal yang menguntungkan dirinya.

Terkait Venezuela, hal penting bagi Trump adalah minyak, imigran, dan narkoba. Trump ingin supaya semua imigran gelap dari Venezuela dideportasi. Trump ingin ia dilihat berjasa menghentikan penyelundupan narkoba dari Venezuela.

Maduro masih memiliki banyak kartu untuk bernegosiasi mengenai hal-hal tersebut. Ujungnya, pergantian pemerintahan di Venezuela dikhawatirkan tidak akan berjalan sesuai impian demokrasi.

(AP/AFP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Laraswati Ariadne Anwar
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

FX Sukoto