Pemerintahan transisi Hayat Tahrir al-Sham (HTS) negosiasi dengan Moskwa soal masa depan Rusia di Suriah. Ada peringatan UE agar HTS tak memberi tempat pada Rusia.
17 Des 2024 16:20 WIB · Internasional
KHMEIMIM, SELASA — Hampir 10 tahun militer Rusia bercokol di Suriah, menguasai Pangkalan Udara Khmeimim dan Pangkalan Angkatan Laut Tartous, atas permintaan Presiden Suriah Bashar al-Assad. Kini, Assad telah terguling. Apakah militer Rusia akan hengkang dari negara itu ataukah masih diberi tempat di Suriah oleh pemerintahan transisi?
”Belum ada keputusan final dalam hal ini,” kata Dmitry Peskov, jubir Kremlin, kepada wartawan, Senin (16/12/2024).
”Kami masih berhubungan dengan perwakilan pasukan yang saat ini mengontrol situasi di negara itu,” ujar Peskov.
Selama negosiasi antara Moskwa dan pemerintahan transisi Suriah berlangsung, militer Rusia masih bertahan di Khmeimim dan Tartous, Latakia, Suriah barat. Meski sebagian pasukan Rusia telah ditarik dari beberapa wilayah Suriah sejak Assad dievakuasi oleh Moskwa pada 8 Desember 2024, Rusia masih mengoperasikan dua pangkalan militer tersebut.
Senin (16/12/2024), konvoi kendaraan militer Rusia masih terlihat berlalu-lalang dengan bebas di jalan-jalan raya menuju kota Tartous. Pesawat terbang juga lepas landas dan mendarat secara berkala dari Pangkalan Udara Khmeimim.
Di jalan-jalan di Khmeimim, toko-toko berderet masih memasang papan nama dalam bahasa Rusia. Penggunaan nama-nama Rusia di sana merupakan tanda pentingnya kehadiran militer Rusia di kawasan itu.
Sejauh ini, tentara pemerintahan transisi Suriah tak mengganggu keberadaan pasukan Rusia. Tentara pemerintahan transisi bahkan tampak berjaga-jaga di gerbang Pangkalan Udara Khmeimim.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/17/7d9dde7ea880dc6cb028ebea3dab7e24-Syria_126212351.jpg)
Pangkalan Udara Khmeimim dan Pangkalan Angkatan Laut Tartous merupakan satu-satunya pangkalan militer Rusia di luar wilayah bekas Uni Soviet. Rusia membangun Pangkalan Udara Khmeimim pada 2015. Adapun Pangkalan Tartous berdiri sejak 1971 dan mulai digunakan secara penuh pada 1977.
Pangkalan Angkatan Laut Tartus merupakan satu-satunya pusat perbaikan dan pasokan ulang militer Rusia di kawasan Laut Tengah. Sekitar 70 kilometer dari Tartous, terdapat Khmeimim sebagai pos persinggahan utama untuk aktivitas militer Rusia dan tentara bayaran di Afrika.
Pada 2017, pemerintahan Assad menandatangani kesepakatan dengan Rusia yang menggratiskan pangkalan udara itu dan Pangkalan Angkatan Laut Tartous selama 49 tahun.
Dari dua pangkalan militer tersebut, Moskwa menjalankan operasi di Timur Tengah dan Afrika. Selama perang saudara di Suriah dan sejak turun tangan mulai 2015, militer Rusia menjadikan Pangkalan Khmeimim sebagai basis melancarkan serangan-serangan udara atas sasaran-sasaran kelompok oposisi yang melawan Assad.
Kegarangan pasukan Rusia, seperti terlihat pada 2015-2016, sudah tak terlihat lagi saat pasukan oposisi bersenjata Suriah melancarkan serangan mendadak di wilayah barat laut Suriah pada 27 November 2024. Moskwa tak banyak bertindak.
Mereka mengevakuasi Assad dan memberikan suaka kepadanya saat situasi Suriah sudah di luar kendali Assad.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/10/7982994866a17ac80c41594ba024ca61-000_36PY6NP.jpg)
Pada Senin (16/12/2024), dalam pernyataan publik pertamanya sejak digulingkan, Assad mengatakan bahwa ia meninggalkan Damaskus menuju Pangkalan Udara Khmeimim pada 8 Desember setelah pasukan oposisi bersenjata di bawah pimpinan Hayat Tahrir al-Sham menyerbu ibu kota. Saat itu, Assad mengaku tidak berencana meninggalkan Suriah.
Assad mengatakan, setelah pangkalan itu diserang oleh pesawat nirawak, Rusia memutuskan mengevakuasinya ke Rusia.
Sejak kepergian Assad, tidak ada bentrokan antara pasukan Rusia dan pasukan pemerintah transisi yang sekarang berkuasa. Padahal, sebenarnya para anggota tempur oposisi dari Suriah utara memendam dendam pada Rusia karena dulu mereka sering dibombardir militer Rusia.
Abu Saif, anggota tempur oposisi penjaga bandara sipil yang ditutup di sebelah Pangkalan Khmeimim, mengatakan, Rusia sedang bersiap untuk mundur dari Suriah. ”Insya Allah,” katanya.
Pasukan dan kendaraan militer Rusia terlihat ditarik dari Suriah selatan pada Jumat (13/12/2024) menuju pangkalan utama mereka di kota Latakia. Sehari sebelumnya, Kamis, organisasi Pemantau Hak Asasi Manusia Suriah (SOHR) melaporkan, pasukan Rusia meninggalkan pangkalan di Ain Issa dan Tel Al-Samn di perdesaan Al-Raqqah.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/17/1d4a29fb3160724a5d53cb26a199a755-TOPSHOT_SYRIA_RUSSIA_KURDS_CONFLICT_126138394.jpg)
Foto satelit yang dirilis oleh Maxar Technologies pada Jumat (13/12/2024) juga menunjukkan foto pesawat kargo di Pangkalan Udara Khemeimim dengan bagian hidungnya dibuka untuk mengangkut peralatan-peralatan berat. Terlihat pula helikopter yang dibongkar dan disiapkan untuk diangkut.
Moskwa telah menghubungi otoritas baru di Suriah untuk coba memastikan keamanan pangkalannya dan memperpanjang masa tinggal pasukannya.
Juru bicara Departemen Politik pemerintahan transisi Suriah, Obeida Arnaout, mengatakan, pihaknya telah meminta Rusia untuk mempertimbangkan kembali kehadiran dan kepentingannya di Suriah. Meski demikian, ia tidak mengesampingkan kemungkinan bahwa pasukan Rusia dapat tetap berada di Suriah.
”Kepentingan mereka terkait dengan rezim kriminal Assad. Mereka dapat mempertimbangkan kembali dan mengambil inisiatif untuk menghubungi pemerintahan baru guna menunjukkan bahwa mereka tidak memiliki permusuhan terhadap rakyat Suriah dan bahwa era rezim Assad berakhir,” kata Arnaout.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/17/8ace6bc71026b67ae3d935281ca3f85b-6887273fe7c94939a8cca474b4a6f3b0_1_5dd1025ba1ed42ee954e754a445c7639.jpg)
Pasukan yang setia kepada pemerintah transisi baru Suriah, yang dipimpin oleh faksi oposisi Hayat Tahrir al-Sham (HTS), sekarang menjaga gerbang masuk ke pelabuhan di Tartous. Mereka diperintahkan untuk tidak mendekati pasukan Rusia itu. Pada Senin, beragam aktivitas pasukan Rusia di Tartous sama sekali tak diganggu.
Para anggota HTS mengatakan, dua hari lalu, empat orang delegasi senior dari pemerintahan baru disertai seorang penerjemah dan seorang pejabat pelabuhan era Assad telah bertemu dengan Rusia.
Ketika sekelompok pasukan lokal mendekati mereka pada hari Minggu, Rusia tampak menyiapkan senjata mereka tanpa mengangkatnya secara agresif. ”Kami telah diberi perintah untuk menjauh dari mereka untuk saat ini,” kata seorang petempur tanpa menyebut nama.
Kremlin mengakui bahwa sejauh ini belum ada keputusan soal nasib pangkalan-pangkalannya yang tersisa di Suriah. ”Tidak ada keputusan akhir mengenai hal ini,” kata Peskov.
Pada Minggu, Rusia telah mengevakuasi beberapa staf diplomatiknya dari negara itu. ”Kami sedang berhubungan dengan perwakilan pasukan yang sekarang mengendalikan situasi di negara itu,” ucapnya.
Seorang pejabat HTS, seperti dikutip The Guardian, mengatakan bahwa ”tidak ada garis merah” dalam negosiasi antara HTS dan Rusia meski diakui adanya peran Rusia dalam mengebom sasaran-sasaran sipil di Suriah sejak 2025. Negosiasi ini lebih didasarkan pada ”kepentingan-kepentingan strategis, bukan ideologi”.
Diberitakan, Moskwa menawarkan bantuan kemanusiaan untuk warga Suriah yang saat ini dilanda krisis ekonomi dan kemanusiaan. Tawaran itu ditolak HTS mengingat sudah banyak donor asing yang menawarkan bantuan tersebut.
Kepentingan utama HTS saat ini tampaknya menjalin hubungan ekonomi dan politik dengan Rusia ataupun kekuatan-kekuatan internasional lainnya. Akan tetapi, hal itu tidak mudah. Ada tekanan dan persyaratan pihak lain yang ditetapkan kepada HTS.
Uni Eropa (UE), misalnya, mensyaratkan HTS tidak memberikan tempat pada Rusia jika ingin memperoleh pengakuan dan bantuan dari Eropa. Kepala Kebijakan Luar Negeri UE Kaja Kallas mengatakan, ekstremisme, Rusia, dan Iran seharusnya tidak memiliki tempat dalam masa depan Suriah.
”Banyak menteri luar negeri menekankan bahwa itu harus menjadi syarat bagi kepemimpinan baru untuk menghilangkan pengaruh Rusia (di Suriah),” kata Kallas. (AP/AFP/Reuters)
Penulis:
Irene SarwindaningrumEditor:
Muhammad Samsul Hadi