Suriah, Meniti Gelombang, Membangun Konsolidasi Pemerintahan Baru

Negara Suriah dikuasai beberapa faksi. Bisakah, mereka bersatu dan membiarkan rakyat menentukan masa depan bangsa?

15 Des 2024 12:40 WIB · Internasional

Oleh Laraswati Ariadne Anwar

Dinasti politik keluarga Assad di Suriah, yang dimulai oleh Hafez al-Assad pada 1970, berakhir pada tahun 2024 ketika putra bungsunya, Bashar al-Assad dilengserkan oleh kelompok oposisi bersenjata. Pemerintahan kini dipegang oleh pemerintahan transisi yang dibentuk kelompok Hayat Tahrir al-Sham atau HTS. Dunia menunggu kemampuan HTS melakukan konsolidasi dengan seluruh pemangku kepentingan di Suriah dan membuka jalan bagi pemerintahan bersatu. Di sisi lain, kapasitas HTS untuk mengampu tugas itu masih diragukan melihat HTS kini justru tengah terlibat konflik dengan para kelompok oposisi Kurdi.

Harapan mengenai pemerintahan Suriah bersatu ini muncul pada 8 Desember 2024 atau ketika kekuasaan Assad jatuh. Ahmed al-Sharaa alias Mohammed al-Golani, pemimpin HTS, berpidato di Masjid Umayyad, Damaskus. Lokasi ini menjadi simbol karena merupakan tengara penting di dunia. Selain sebagai salah satu masjid tertua di dunia, Masjid Umayyad adalah tempat bersejarah bagi umat Muslim dan Kristen.

Simbol ini kian menguat dengan isi pidato Al-Sharaa yang mengatakan kemenangan ini adalah oleh rakyat Suriah. Ia mengimbau agar rakyat melupakan dendam dan mulai membangun kembali Suriah bersama-sama. Al-Sharaa mengatakan, ini zaman Suriah yang merdeka dari pengaruh Iran dan lainnya. Iran dan Rusia adalah negara-negara sekutu Assad yang membantu Assad memenangi perang saudara pada 2011-2016.

Al-Sharaa juga mengatakan, pemerintahan terus berjalan dan ia meminta rakyat memercayai tim transisi. Layanan publik kembali dibuka dua hari setelah Assad tumbang. Hal ini dikuatkan dengan perkataan penjabat Perdana Menteri Suriah Mohammad al-Bashir─ salah satu petinggi HTS─bahwa para menteri di kabinet Assad juga termasuk di dalam pemerintahan transisi guna menyiapkan pemilihan umum yang direncanakan digelar pada Maret 2025.

This aerial view shows people celebrating the ouster of Syria's president Bashar al-Assad near the landmark Damascus Sword sculpture at the Umayyad Square in central Damascus on December 13, 2024. Thousands rallied in central Damascus and in cities across Syria on December 13 to celebrate during the first Friday prayers since Assad's ouster. More than half a century of brutal rule by the Assad clan came to a sudden end on December 8, after a lightning rebel offensive swept across the country and took the capital. (Photo by Sameer Al-Doumy / AFP)

Sky News kemudian mewawancarai Al-Sharaa. Ia mengatakan tidak berminat membawa Suriah kembali berperang karena rakyat sudah lelah dan terluka. Rakyat memerlukan pembangunan dan kestabilan negara untuk melangkah maju.

Mengacu pada pidato dan ucapan-ucapan Al-Sharaa, dunia pun condong berpikir positif. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Antony Blinken mengatakan, Washington siap menyambut pemerintahan Suriah yang inklusif dan dipilih oleh rakyat. Jika hari itu tiba, Washington membuka kembali hubungan diplomasi yang putus sejak 2011.

Komplikasi internal

Namun, optimisme itu mengikis karena dua hari setelah pidato Al-Sharaa di Masjid Umayyad, HTS melakukan kontak senjata dengan kelompok oposisi Kurdi di Suriah bagian utara. Lembaga pemantau hak asasi manusia Suriah, SOHR, melaporkan, 218 milisi HTS maupun Kurdi tewas. Patut dimengerti bahwa HTS memperoleh dukungan dari Turki, tetapi oleh AS dicap sebagai kelompok teroris karena merupakan lepasan dari Al Qaeda.

Sebaliknya, kelompok oposisi Kurdi di Suriah didukung oleh AS. Mereka membantu pasukan AS melawan kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS). HTS sejatinya juga kontra dengan NIIS. Persoalannya, kelompok Kurdi juga memiliki pengaruh di Turki bagian selatan yang berbatasan dengan utara Suriah karena mereka ingin memerdekakan diri. Walhasil, oleh Ankara, kelompok kurdi ini dicap sebagai teroris.

Blinken per Minggu (15/12/2024) menuntaskan lawatan ke Turki, Jordania, dan Irak. Pekan lalu, Penasihat Keamanan Gedung Putih Jake Sullivan tur ke Mesir, Israel, dan Qatar. Selain masih membawa pesan penyegeraan gencatan senjata di Gaza, kedua pejabat AS itu juga berusaha mengonsolidasi negara-negara tetangga langsung Suriah agar turut menjaga kestabilan wilayah. Israel kini menduduki Dataran Tinggi Golan yang merupakan zona penyangga dengan dalih memastikan keamanan perbatasan, dan baru angkat kaki jika situasi di Suriah aman.

”Kita tidak boleh meremehkan kejadian di Suriah. Ini bisa berdampak kepada arus pengungsi hingga terorisme,” kata Blinken di Aqaba, Jordania.

Dalam rapat di Aqaba itu, Blinken menyatakan berhasil memperoleh dukungan dari 12 negara anggota Liga Arab, Turki, dan Uni Eropa untuk menjaga kestabilan Suriah. Harus ada komitmen memastikan pemerintahan terpilih Suriah nanti dipilih oleh rakyat dan inklusif sehingga tidak memicu adanya konflik sektarian.

Pada saat yang sama, semua juga harus memastikan perlawanan terhadap NIIS berlanjut guna mengakhiri keberadaan mereka di kawasan tersebut. Perkataan Blinken itu merupakan usaha AS menengahi pertikaian antara Turki dan kelompok Kurdi. Membasmi NIIS dijadikan tujuan utama kerja sama kedua belah pihak.

Presiden Suriah Bashar Assad (tengah kanan) dan ibu negara Asma Assad tiba di Hangzhou, China, Kamis (21/9/2023). China dan Suriah mengumumkan kemitraan strategis kedua negara, Jumat (22/9/2023) usai Assad bertemu dengan Presiden China Xi Jinping. (Huang Zongzhi/Xinhua via AP, File)

 

Rakyat Suriah

Tidak hanya konflik antara HTS yang pro-Turki dan Kurdi, konflik juga terjadi antara oposisi dan para pendukung Assad. Konflik pecah di Latakia dan Tartous. Sejumlah milisi yang mendukung Assad menyerang Faylaq al-Sham, salah satu kelompok oposisi pemerintah yang seperti HTS juga pro-Turki. Sebanyak empat milisi Faylaq tewas di dalam sebuah penyergapan.

SOHR menjelaskan, para pendukung Assad ini sekaligus pembuat dan pengedar narkoba jenis captagon. Selama Assad berkuasa, di bawah tangan, ia mengizinkan narkoba merajalela dan secara tidak resmi menjadi barang ekspor terbesar Suriah. Para bandar ini yang kehilangan pasar ataupun kekuasaan ketika Assad tumbang. Situasi ini mengungkap bahwa tanah Suriah terbagi-bagi di dalam berbagai faksi.

Namun, rakyat Suriah berkata lain. Mereka tetap memegang optimisme yang oleh dunia internasional dipandang dengan harap-harap cemas. Di seluruh masjid di Suriah, tokoh-tokoh agama menyerukan persatuan. Mereka meminta agar rakyat menyerahkan senjata sebagai tanda negara memasuki masa damai.

”Ini peristiwa bersejarah bagi bangsa kami. Assad tumbang dan Suriah memasuki masa baru. Kami menyambut presiden baik dari kelompok Sunni, Shiah Alawiyyah, Kristen, pokoknya siapa pun selama menang pemilu dengan jujur,” kata Khaled Kamal, seorang imam Sunni di Latakia.

Imam Shiah Muhammad Reda Hatem Abdullah menuturkan, warga Suriah sendiri pada kehidupan nyata tidak mendiskriminasi satu sama lain. Semua mendamba Suriah bersatu yang bisa mereka wariskan kepada anak dan cucu dengan bangga.

(AP/AFP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Laraswati Ariadne Anwar
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .