Seusai Tinjau Penanganan Bencana di Sumatera, Presiden Prabowo Melawat ke Pakistan

Indonesia dan Pakistan telah membangun hubungan persahabatan sebelum kedua negara merdeka. Penguatan kerja sama di semua bidang tengah diupayakan.

08 Des 2025 21:46 WIB · Politik & Hukum

BIRO PERS SEKRETARIAT PRESIDEN/LAILY RAC

Oleh Kurnia Yunita Rahayu

JAKARTA, KOMPAS — Setelah meninjau langsung penanganan bencana banjir dan longsor di Sumatera, Presiden Prabowo Subianto melawat ke Islamabad, Pakistan, Senin (8/12/2025). Lawatan tersebut dilakukan untuk memenuhi undangan resmi Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif. Menurut rencana, Indonesia-Pakistan bakal membahas sejumlah isu, salah satunya mengenai iklim.

Presiden Prabowo Subianto tiba di Nur Khan Base Airport, Islamabad, Pakistan, Senin (8/12/2025) siang waktu setempat. Sebelum mendarat, pesawat kepresidenan Garuda Indonesia-1 yang ditumpangi Presiden, Menteri Luar Negeri Sugiono, dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya disambut di udara dengan enam jet tempur JF-17 Thunder milik Angkatan Udara Pakistan. Jet-jet tempur itu mengawal pesawat Garuda Indonesia-1 ketika memasuki wilayah udara Pakistan hingga mendarat.

Di Nur Khan Base Airport, Presiden disambut langsung oleh Presiden Pakistan Asif Ali Zardari dan Perdana Menteri Shehbaz Sharif. Ketiganya berjalan di tengah upacara kehormatan yang melibatkan sejumlah pasukan, 21 dentuman meriam, dan seorang anak yang bertugas menyerahkan rangkaian bunga kepada Presiden Prabowo.

Dalam keterangan resmi Sekretariat Presiden disebutkan bahwa Prabowo berkujung ke Islamabad untuk memenuhi undangan resmi dari Perdana Menteri Shehbaz Sharif. Undangan sudah disampaikan PM Shehbaz dua kali, yakni saat Prabowo mengikuti Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) D8 di Kairo, Mesir, akhir Desember 2024 dan ketika mengikuti KTT Perdamaian Gaza di Sharm El Sheikh, Mesir, pertengahan Oktober 2025.

Quote

Pemerintah Indonesia memandang kunjungan ini sebagai kesempatan strategis memperkuat kerja sama bilateral di tengah dinamika geopolitik regional dan global.

Pesawat kepresidenan Garuda Indonesia-1 yang ditumpangi Presiden Prabowo Subianto disambut di udara dengan enam jet tempur JF-17 Thunder milik Angkatan Udara Pakistan ketika memasuki wilayah udara Pakistan, Senin (8/12/2025) siang waktu setempat.

”Pemerintah Indonesia memandang kunjungan ini sebagai kesempatan strategis memperkuat kerja sama bilateral di tengah dinamika geopolitik regional dan global,” sebagaimana tertulis dalam keterangan Sekretariat Presiden, Senin malam.

Presiden Prabowo juga disebut terus menegaskan komitmen Indonesia untuk mendorong solidaritas, kolaborasi, dan kemitraan yang saling menguntungkan, baik dengan Pakistan maupun negara-negara sahabat lainnya. Selain itu, kunjungan ini juga memiliki makna penting secara historis karena bertepatan dengan peringatan 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Pakistan. Persahabatan kedua negara sudah terbangun sejak kunjungan Presiden pertama RI Sukarno ke Pakistan pada 1950.

Rencana lawatan Presiden Prabowo diumumkan oleh Kedutaan Besar (Kedubes) Pakistan di Jakarta, Minggu. Kedubes Pakistan menyatakan, Prabowo datang untuk memenuhi undangan PM Shehbaz. Namun, Prabowo juga akan diterima oleh Presiden Zardari dan Panglima Angkatan Bersenjata Pakistan Jenderal Besar Asim Munir.

Dalam pertemuan dengan Zardari dan Sharif, menurut Kedubes Pakistan, Prabowo terutama akan membahas soal kerja sama RI-Pakistan. Isu perubahan iklim termasuk menjadi salah satu rencana bahasan.

Gajah-gajah dikerahkan untuk membersihkan material yang terbawa banjir bandang, di kawasan Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, Senin (8/12/2025). Empat ekor gajah sumatera itu dibawa dari Pusat Latihan Gajah (PLG) Saree di Kabupaten Aceh Besar

Kini, Indonesia tengah menghadapi dampak nyata perubahan iklim. Sebanyak 52 kabupaten/kota yang berada di tiga provinsi, yakni Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat, dilanda banjir dan longsor hampir dua pekan.

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Senin, 961 orang meninggal akibat bencana tersebut. Selain itu, masih ada 293 orang yang hilang. Adapun jumlah pengungsi mencapai 1.057.482 orang.

Sebelum melawat ke Islamabad, Presiden pun meninjau langsung penanganan bencana banjir dan longsor di Sumatera, khususnya di Aceh, Minggu. Selama sehari penuh, Presiden meninjau perbaikan jembatan, mengunjungi dapur umum, serta memimpin rapat terbatas mengenai penanganan bencana bersama para kepala daerah dan menteri Kabinet Merah Putih di Banda Aceh.

Selain isu iklim, pejabat di Kementerian Luar Negeri Pakistan, seperti dikutip Dawn, mengatakan bahwa kedua negara juga akan membahas isu pertahanan. Berkaca dari sejarah, hubungan militer Indonesia-Pakistan pernah begitu dekat. Di tengah serbuan Uni Soviet ke Afghanistan, Indonesia mengirimkan bantuan ke Afghanistan lewat Pakistan.

Duta Besar Pakistan untuk RI Zahid Hafeez Chaudhri di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (17/11/2025).

Pertengahan November lalu, Duta Besar Pakistan untuk RI Zahid Hafeez Chaudhri bertemu dengan Presiden Prabowo di Istana Kepresidenan, Jakarta. Seusai pertemuan, ia mengatakan bahwa Indonesia dan Pakistan merupakan dua negara Islam terpenting karena merupakan negara berpenduduk Muslim terbesar pertama dan kedua di dunia.

Jika keduanya digabungkan, kedua negara memiliki seperempat populasi penduduk Muslim dunia. Di tengah konteks itu, muncul kesadaran bahwa kedua negara perlu memperkuat kerja sama di semua bidang.

Chaudhri melanjutkan, bidang kerja sama yang bisa dikembangkan antara lain ekonomi, pendidikan, kesehatan, teknologi informasi, serta pertahanan. Selama ini, Pakistan dan Indonesia sudah bekerja sama erat di forum-forum internasional, misalnya Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Tak hanya itu, Pakistan juga merupakan mitra dialog sektoral ASEAN.

Selain itu, kata Chaudhri, Pakistan dan Indonesia juga memiliki hubungan persahabatan dan persaudaraan yang panjang. Kedua negara juga memiliki pandangan geopolitik yang sama, yakni mendorong perdamaian dan membangun hubungan baik dengan semua negara. ”Hubungan ini terjalin bahkan sebelum kedua negara merdeka dan kami ingin memperkuat hubungan ini di semua bidang kerja sama,” ujarnya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Kurnia Yunita Rahayu
 | 

Editor:

Cyprianus Anto Saptowalyono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Retma Wati