Video viral belum tentu benar. Banyak video hasil rekayasa kecerdasan buatan. Ini cara mengenalinya.
21 Okt 2025 17:30 WIB · Internasional
Ada ribuan hingga jutaan video ditayangkan di beragam aplikasi media sosial setiap hari. Sebagian palsu, tidak sesuai kenyataan. Dibuat dengan kecerdasan buatan karena beragam alasan.
Banyak ahli memberikan tips untuk bisa tahu konten yang nyata dan rekaan. Jika ada video yang sepertinya ”too good to be true”, penting untuk menyikapinya dengan skeptisisme dan telaten menelitinya lebih lanjut.
Guru Besar Ilmu Komputer di University of California, Berkeley, Ren Ng, kepada harian The New York Times, 14 Oktober 2025, mengatakan, otak manusia terprogram dengan kuat untuk memercayai apa yang dilihat.
Namun, manusia bisa dan harus belajar untuk berhenti sejenak untuk berpikir: apakah video atau media apa pun yang sedang dilihat itu betul-betul terjadi di dunia nyata.
Ada beberapa tips yang dibagikan para ahli. Antara lain, warganet harus memeriksa sumber video atau foto yang dilihat.
Media sosial itu tempat sampah. Satu-satunya cara paling pasti untuk menghindari video palsu adalah berhenti menggunakan media sosial.
Pelajari juga akun pembuat videonya. Jika asal-usul video tak jelas, anggap saja itu fiksi.
Bisa dicek juga kamera, bukan subyeknya. AI lihai dalam merekam wajah, akan tetapi buruk dalam merekamnya. Video asli akan sedikit bergoyang saat orang memegang ponsel. Sementara video AI bergerak terlalu mulus.
Bisa juga memperhatikan cahaya dan bayangan yang berperilaku alami. Seperti lengan baju yang bergerak saat angin bertiup dan pantulan gambar.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/02/18/89225876-d149-47a9-b3ae-9a3ee9f88108_jpg.jpg)
Video apa pun yang kualitasnya menyerupai produksi Hollywood bisa jadi palsu. Sebab, model AI sebagian besar telah dilatih dengan cuplikan dari acara TV dan film yang diunggah di situs web.
Dengarkan videonya dengan saksama juga. Langkah kaki atau suara mungkin tidak sinkron atau dengungan latar belakang terdengar terlalu jernih.
Harus juga dilihat frame demi frame. Hal ini untuk melihat kalau ada logo yang kabur, tangan yang menghilang, teks yang berantakan pada rambu, atau teks yang berkedip-kedip dan berubah.
Warganet juga harus awas melihat bekas watermark yang dihapus di sudut atau tepi bingkai. Kalau ada bercak buram, cahaya yang kabur, atau kotak halus yang tidak fokus, bisa jadi itu palsu.
Para ahli menyarankan warganet untuk selalu curiga dan berprasangka buruk bahwa setiap video yang dilihat di media sosial itu palsu. Kecuali, bisa dibuktikan itu nyata.
Menurut Guru Besar Ilmu Komputer di University of California, Berkeley, Hany Farid, saran apa pun tentang cara mengenali video yang dihasilkan AI akan berumur pendek karena teknologinya berkembang pesat.
”Media sosial itu tempat sampah. Satu-satunya cara paling pasti untuk menghindari video palsu adalah berhenti menggunakan media sosial, seperti Tiktok, Instagram, Snapchat, Facebook, dan lain-lain,” kata Farid yang juga pendiri GetReal Security, perusahaan yang memverifikasi keaslian konten digital itu. (AP/AFP)
Penulis:
Luki AuliaEditor:
Kris MadaPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto