Viral Tagar Kabur Aja Dulu dan Kompetisi Tak Sehat di Dunia Politik

Generasi muda cenderung suka dengan kompetisi yang adil. Karena itu, saat dunia politik diwarnai politik dinasti dan oligarki, mereka memilih ”kabur aja dulu”.

18 Feb 2025 15:17 WIB · Politik & Hukum

Oleh Machradin Wahyudi Ritonga

Tanda pagar atau tagar #kaburajadulu merangkum keresahan generasi muda terhadap kondisi Tanah Air di awal 2025. Kompetisi sehat atau fairness yang tidak ditemui, tak terkecuali dari sektor politik, disinyalir membuat generasi muda berharap bisa hengkang dari negeri sendiri.

Tagar yang mengacu pada penanda topik atau isu di media sosial ini bisa menggambarkan ”kicauan” yang paling ramai di jagat maya. Kali ini, seruan kabur aja dulu dengan tagar #kaburajadulu riuh di media sosial, terutama platform X (dulu Twitter), yang merespons kesulitan bagi para pemuda untuk menyambung hidup di Indonesia.

Bahkan, sebagian pengguna menyarankan warganet untuk melanjutkan pendidikan hingga mencari penghasilan di negeri orang. Berbagai tawaran, beasiswa, serta hitung-hitungan biaya hidup saat di luar negeri menjadi perbincangan hangat. 

Peneliti pada Pusat Riset Politik, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Firman Noor, berpendapat, kondisi tersebut terjadi karena generasi muda melihat adanya kompetisi yang ketat, tetapi tidak sehat. Kondisi ini, menurut dia, terjadi di berbagai aspek kehidupan.

Peserta membawa poster kritik dalam Karnaval Pilih Pulih di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Rabu (7/2/2024). Aksi ini diinisiasi puluhan lembaga masyarakat sipil, komunitas muda, pelajar, dan mahasiswa. Mereka mengajak para pemilih dalam Pemilu 2024 untuk mencermati visi misi, ide dan gagasan, serta rekam jejak pasangan calon presiden dan calon wakil presiden, partai politik, hingga calon anggota legislatif. KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA (YGA) 07-02-2024

Tak terkecuali di dunia politik. Kompetisi yang tidak sehat terjadi karena perlu modal dan koneksi besar untuk berkiprah di dalamnya. Padahal, demokrasi mengedepankan ide, bukan hanya suara terbanyak semata. 

”Kalau kompetisinya sehat, tidak diterima karena kalah pintar, itu bisa diterima. Akan tetapi, tidak diterima karena ada orang dalam atau karena duit, itu yang membuat orang-orang malas dan termotivasi untuk pergi,” kata Firman saat dihubungi dari Jakarta, Selasa (18/2/2025).

Dengan kata lain, kondisi perpolitikan dalam negeri yang tidak sehat bisa jadi ikut berkontribusi pada munculnya seruan kabur aja dulu di jagat maya. Dunia politik yang mahal dan dihadapkan kepada masyarakat yang pragmatis membuat peluang anak muda untuk terjun di dunia politik semakin sempit. Menurut Firman, hal ini membuat politik tidak menjadi dunia yang umum bagi anak muda.

”Kondisi ini membuat politik kita menjadi tidak normal. Kalau normal demokrasi, siapa pun dia akan terpilih asal punya ide. Sekarang situasi politik mahal. Saya baru bertemu beberapa politisi, dan mengaku masyarakat kalau enggak dibayar enggak akan memilih,” ungkapnya.

Infografik jajak pendapat dinasti politik 2024 di mata publik

Politik dinasti

Situasi tersebut membuat dinasti politik kian menjamur dan oligarki pun semakin menguat. Menurut Firman, hal ini tidak sesuai dengan pemikiran para anak muda yang melihat jenjang karier itu bisa diraih sesuai dengan kemampuan dari diri sendiri.

”Mereka (generasi muda) itu menghargai orang-orang yang from nobody to somebody. Tapi, di dunia politik dengan fenomena nepotisme, orang dalam, hingga menggunakan uang, itu yang membuat mereka menjadi malas. Mereka merasa politik itu bukan dunia yang harus dihargai,” paparnya.

Kondisi ini tergambar dari generasi muda yang terhambat berkarier di bidang politik. Hal ini setidaknya bisa dilihat dari jumlah anggota legislatif muda di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Anggota muda ini mengacu pada orang berusia 40 tahun ke bawah yang dilantik menjadi anggota DPR.

Seorang aktivis yang tergabung dalam Gerakan #BersihkanIndonesia, Perempuan Indonesia Anti-Korupsi, BEM SI, dan beberapa perwakilan organisasi lain menggelar aksi di depan Gedung Merah Putih Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jakarta, Selasa (9/11/2021). Aksi yang digelar menyambut Hari Pahlawan 10 November ini menyuarakan ajakan generasi muda untuk mewarisi semangat juang para pahlawan dalam langkah nyata menegakkan pemberantasan korupsi yang kian dilemahkan saat ini. Permasalahan pelemahan pemberantasan korupsi di Indonesia telah muncul sejak disahkannya UU KPK. Selain itu, lembaga pemberantasan korupsi KPK pun telah dikuasai golongan oligarki yang kian menghalangi pemberantasan korupsi. Terhambatnya pemberantasan korupsi pun berdampak dengan kian maraknya perusakan lingkungan, kemiskinan, dan sejumlah krisis lainnya yang melanda Indonesia. Kompas/Rony Ariyanto Nugroho (RON) 9-11-2021

Merujuk data Inter-Parliamentary Union (IPU) Tahun 2023, jumlah anggota DPR yang berusia 40 tahun sebesar 18,8 persen. Namun, di Indonesia, hasil Pemilu 2024, hanya 15 persen anggota DPR yang berusia muda.

Bahkan, data Centre for Strategic and International Studies (CSIS) menunjukkan, 50 dari 87 anggota DPR terpilih itu berasal dari dinasti politik. Anak muda yang menang dalam Pemilu 2024 ini memiliki latar belakang hubungan anak, adik, kakak, istri, dan kekerabatan  lainnya dari pejabat politik.

Persentase yang rendah ini tidak representatif terhadap populasi penduduk nasional. Sebanyak 53-55 persen atau 107 juta-108 juta pemilih berasal dari kelompok usia 40 tahun ke bawah.

”Kalau dilihat dari jumlah generasi muda yang masuk ke legislatif, tentu tidak akan tinggi karena mahalnya ongkos politik itu. Jika melihat dari kaderisasi, masih ada yang berasal dari generasi muda. Namun, hanya sekadar penggembira,” kata Firman. 

Gedung Nusantara atau lebih dikenal gedung kura-kura di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (21/8/2024). Kompas/Hendra A Setyawan

Partisipasi politik

Sekretaris Jenderal Partai Nasdem Hermawi Taslim juga melihat lingkaran dinasti dalam partai politik semakin fenomenal. Di sisi lain, partisipasi anak muda yang minim juga terjadi karena adanya anggapan negatif terhadap politik. 

Oleh karena itu, partai politik perlu melakukan pendekatan kepada generasi muda. Menurut dia, Nasdem mencoba menerobos kebuntuan partisipasi politik dari generasi ini dengan mengadakan Program Remaja Bernegara yang diluncurkan di Nasdem Tower, Menteng, Jakarta, Sabtu (15/2/2025).

Kegiatan tersebut, lanjut Hermawi, berupa kegiatan pendidikan bersama mentor yang berasal dari pejabat politik nasional untuk membahas berbagai isu. Selain itu, disajikan tiga model simulasi permainan bernegara yang dilakukan oleh para anggota DPR.

Pelajar dari SMAN 23 Kabupaten Tangerang mengikuti program "Remaja Bernegara" yang diluncurkan oleh Partai Nasdem di Nasdem Tower, Menteng, Jakarta, Sabtu (15/2/2025).

Simulasi pertama terkait reses anggota DPR yang turun ke lapangan untuk mengumpulkan aspirasi masyarakat. Kedua, para peserta juga melakukan simulasi rapat paripurna, dan terakhir simulasi dalam badan musyawarah pimpinan.

Remaja Bernegara diselenggarakan setiap hari Sabtu dengan peserta 30 orang di setiap sesi. Kegiatan ini juga ditargetkan bisa menggaet 1.035 peserta dengan usia 13-19 tahun dalam satu tahun ke depan. 

”Ini salah satu cara Nasdem menerobos kebuntuan partisipasi politik anak muda. Semoga dengan pendekatan semipermainan ini, anak-anak muda tertarik pada aspek kehidupan politik. Cara ini semoga juga bisa menembus lingkaran dinasti yang semakin fenomenal,” ujarnya.

Bendera partai politik dipasang di Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU), Jakarta, Selasa (17/1/2023). KOMPAS/AGUS SUSANTO (AGS) 17-1-2023 *** Local Caption *** Bendera partai politik dipasang di Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU), Jakarta, Selasa (17/1/2023). Penyusunan rancangan Peraturan Komisi Pemilihan Umum tentang Sosialisasi yang akan mengatur seputar sosialisasi bakal calon peserta Pemilu 2024 sebelum masa kampanye pemilu ditargetkan sudah tuntas akhir Januari ini.

Figur contoh

Meski demikian, menurut Firman, hal itu saja tidak cukup untuk membuat generasi muda melek berpolitik. Selain kesempatan yang terbuka, perlu adanya figur yang memberikan contoh jenjang karirr politik dengan tidak perlu mengandalkan koneksi darah atau kepentingan oligarki.

Sayangnya, para tokoh yang memulai karier dari bawah ini tidak muncul di permukaan. Mereka dikalahkan oleh para politisi yang meraih panggung karena dukungan kekerabatan hingga oligarki. 

”Itu yang membuat para pemuda antipati. Kok, yang jujur malah kalah dan digantikan oleh yang begituan (politik dinasti). Hidup sudah susah, melihat kompetisi seperti ini, orang-orang akan memilih pergi,” kata Firman. 

Keresahan generasi muda terhadap kondisi negara yang muncul dari seruan kabur aja dulu terjadi karena kompetisi yang tidak sehat, salah satunya dari dunia politik. Kesempatan yang terbuka hingga figur contoh dibutuhkan agar generasi muda masih melihat peluang di tengah sempitnya hidup.


Kerabat Kerja

Penulis:

Machradin Wahyudi Ritonga
 | 

Editor:

A. Ponco Anggoro