Dilema pariwisata di Antarktika, yang menjadi salah satu tempat pemanasan tercepat di dunia.
07 Mei 2026 06:14 WIB · Internasional
AP/MARK BAKER
Puluhan penumpang menikmati pemandangan gunung-gunung es dan binatang penghuninya saat kapal yang mereka tumpangi melewati Selat Lemaire di Antarktika, November 2025. Tak berapa lama, kapal singgah dan penumpang turun berjalan kaki, di atas es yang membeku di Pulau Deception, salah satu dari beberapa pulau yang ada di Antarktika. Mengikuti pemandu, mereka berjalan beriringan di hamparan es putih dengan bantuan tongkat.
Pada 2024, lebih dari 80.000 wisatawan mendarat di benua yang diselimuti es tersebut. Sementara itu, menurut data yang dikumpulkan oleh Asosiasi Operator Tur Antarktika Internasional, sekitar 36.000 lainnya menyaksikan dari atas kapal dengan aman.
Persatuan Internasional Ilmuwan Peduli memperkirakan bahwa pariwisata ke Antarktika telah meningkat 10 kali lipat dalam 30 tahun terakhir. Angka tersebut bisa meningkat dalam dekade berikutnya seiring dengan penurunan biaya, semakin banyaknya kapal yang mampu menembus es, dan kemajuan teknologi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/06/de1ac202-58d4-438d-ab29-e12c4b35e989.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/05/06/3fa0c345-333d-4260-bf55-97e766b1c435_jpg.jpg)
Beberapa wisatawan datang ke Antarktika untuk ”wisata kesempatan terakhir” karena menyadari bahwa lanskap yang mencair tersebut berubah dengan cepat. Semenanjung Antarktika menjadi salah satu tempat yang mengalami pemanasan tercepat di dunia. Menurut Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA), dari tahun 2002 hingga 2020, sekitar 149 miliar metrik ton es Antarktika mencair setiap tahunnya.
Pesatnya pertumbuhan wisata ke Antarktika menimbulkan kekhawatiran tersendiri, terutama berkaitan dengan kontaminasi dan penyebaran penyakit yang dibawa oleh wisatawan. Kekhawatiran ini mendorong Asosiasi Operator Tur Antarktika Internasional dan pihak lainnya untuk memperketat aturan perilaku dan kebersihan wisatawan.
Untuk melindungi ekosistem yang rapuh dari spesies invasif, pengunjung diminta untuk menjauhi hewan dan menghindari menyentuh tanah dengan apa pun selain kaki mereka. ”Ada aturan yang harus dipatuhi orang-orang ketika mereka menuju ke selatan,” kata Hanne Nielsen, dosen senior hukum Antarktika di Universitas Tasmania.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/06/12485eae-c75c-4cbb-aade-d20407ced7f7.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/06/cb311258-372a-4776-a732-f4dfa535041d.jpg)
Dalam lima perjalanannya sebagai pemandu wisata ia menceritakan bagaimana awak kapal dan penumpang menggunakan penyedot debu, disinfektan, dan sikat untuk membersihkan sepatu dan peralatan dari serangga, bulu, biji-bijian, dan kotoran pembawa mikroba. Berdasarkan pengalaman sering terjadi wabah penyakit melanda penumpang kapal pesiar dan dapat menyebar dengan cepat di ruang sempit kapal.
Bahkan, pada 2020, wabah Covid-19 di Diamond Princess mengubah kapal pesiar tersebut menjadi tempat berkembang biaknya virus yang saat itu masih misterius. Virus hanta atau hantavirus, biasanya menyebar melalui kotoran hewan pengerat yang terkontaminasi virus tersebut.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/06/e6a76a6b-24e1-46f2-b3c1-abd3f80f9010.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/06/03964649-7f7b-47e7-bfe7-48ba5e5b7088.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/06/81f644dd-1dd0-4c1e-acf7-a3479187c401.jpg)
Wabah virus hanta langka yang mematikan melanda kapal pesiar Belanda, MV Hondius. Kapal itu sedang berlayar di kutub selama berminggu-minggu. Organisasi Kesehatan Dunia pada Selasa (6/5/2026) mengatakan bahwa MV Hondius meninggalkan Ushuaia, Argentina, pada 1 April dan mengunjungi Antarktika serta beberapa pulau terpencil.
Untuk saat ini, daya tarik wilayah perbatasan yang beku terus memikat pengunjung. (AP)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Demitrius Wisnu WidiantoroPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra