Visualisasi Abiyu Rafi Seharga Emas SEA Games

Dari tampil buruk di kualifikasi, Abiyu jadi peraih emas alat tunggal SEA Games Thailand 2025. Visualisasi dalam pikiran berperan besar dalam kisah kebangkitannya.

13 Des 2025 10:07 WIB · Olahraga

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN

Oleh kelvin hianusa dari bangkok, thailand

Abiyu Rafi terdiam. Saat banyak orang lalu lalang di hadapannya, dia fokus menatap tajam layar skor. Terdapat nilai hasil kualifikasi alat palang tunggal SEA Games Thailand 2025 di layar itu. Namanya terletak di peringkat ke-8 atau posisi terbawah untuk lolos ke final. Selama lebih kurang semenit, dia tidak bergerak sama sekali. 

”Tidak. Hanya sedang melihat nilai saya saja,” katanya yang tampak kaget saat disapa. Pesenam artistik putra andalan Indonesia itu memang tidak berbicara, tetapi matanya seolah bisa berkata-kata. Abiyu tampak sangat kecewa karena gagal menampilkan yang terbaik di nomor andalannya. Dia dijagokan meraih emas dari nomor tersebut. 

Dua hari berselang, Jumat (12/12/2025), di Stadion Gymnasium 5 Universitas Thammasat Rangsit, Bangkok, Abiyu berdiri di podium tertinggi. Dia meraih emas palang tunggal dengan nilai 13,400, mengalahkan juara bertahan edisi Kamboja 2023 asal Vietnam, Dinh Phuong Thanh. Nilainya tidak lagi seperti di kualifikasi, 10,933.

Pesenam artistik putra Indonesia Abiyu Rafi tampil dalam babak kualifikasi alat palang tunggal SEA Games Thailand 2025 di Stadion Gymnasium 5 Universitas Thammasat Rangsit, Bangkok, Thailand, Rabu (10/12/2025). Abiyu finis di peringkat ke-8 dan berhak lolos ke babak final.  

KOMPAS/KELVIN HIANUSA

Senam artistik adalah olahraga yang mengedepankan tingkat kesulitan dan eksekusi gerakan. Di final, Abiyu mampu mengombinasikan dua elemen itu dengan sempurna. Tidak seperti di kualifikasi, dia nyaris terjatuh karena salah satu genggamannya terlepas dari palang. Eksekusinya menurun, nilainya pun berkurang jauh. 

Pelatih tim senam artistik putra Indonesia, Ferrous One Willyodac, berkata, tingkat kesulitan gerakan Abiyu merupakan yang tertinggi di antara para pesenam Asia Tenggara lain. Karena itu, jika bisa tampil ”bersih”, medali emas sebenarnya sudah dalam genggaman. ”Tinggal dia yang menentukan hasilnya,” ujarnya.

Quote

Kalau ada psikolog malah makin tegang. Kasih saya ruang saja. Saya mau rileks. Kalau pelatih sudah ’ngerti’ itu.

Namun, kenyataan tidak semudah perkataan. Abiyu tampil di bawah standar saat kualifikasi karena terlalu tegang. Walaupun sudah tiga kali turun di SEA Games, dia belum pernah mendapatkan tugas sebagai ujung tombak tim. Pesenam 23 tahun itu kehilangan kontrol atas dirinya.

Sangat sulit memahami apa yang sedang dipikirkan atau dirasakan Abiyu. Sang pelatih, Ferrous, yang setiap hari bersama-sama selama setahun terakhir saja masih belajar untuk membaca anak asuhnya. Alhasil, hanya Abiyu yang memahami dan bisa membantu dirinya sendiri.

”Abiyu itu atlet yang secara fisik dan kecerdasan ada di level ’A’. Dia memahami apa yang terjadi dengan dirinya dan bisa menyelesaikan sendirian. Apalagi dia pendiam, jadi semakin tidak akan cerita lagi butuh apa. Jadi, kami yang harus menebak-nebak isi hati dia,” kata Ferrous, yang merupakan mantan pesenam tim nasional. 

Pesenam putra Indonesia Abiyu Rafi mempersiapkan diri sebelum tampil dalam babak kualifikasi palang tunggal SEA Games Thailand 2025 di Stadion Gymnasium 5 Universitas Thammasat Rangsit, Bangkok, Thailand, Rabu (10/12/2025). Walaupun tampil kurang baik di kualifikasi, Abiyu berhasil meraih emas lewat performa apik di final.

KOMPAS/KELVIN HIANUSA

Ucapan Ferrous diamini Abiyu. Pesenam asal Riau itu memberikan contoh, kehadiran psikolog seperti di tim SEA Games saat ini tidak banyak membantu. Itu justru membuatnya kurang nyaman. ”Kalau ada psikolog malah makin tegang. Kasih saya ruang saja. Saya mau rileks. Kalau pelatih sudah ngerti itu,” ujar Abiyu.

Abiyu pun seolah hidup dalam dunianya sendiri. Dia berbagi ruang dengan orang lain secara fisik, tetapi seolah berada sendirian di padang rumput yang luas. Lihat saja saat melakukan persiapan lomba, peraih emas PON Aceh-Sumut 2024 itu selalu memisahkan diri dari kerumunan atlet lain. 

Saat pesenam lain meresapi atmosfer stadion, Abiyu lebih memilih mendengarkan lagu dengan penyuara telinga. Dia mendengarkan musik-musik ”keras” bergenre rock untuk memacu semangat. Matanya juga selalu menyorot tajam ke arah alat lomba. Di momen itu, dia biasanya melakukan visualiasi gerakan dari dalam pikiran.

Abiyu memiliki ritual khusus setelah tampil buruk. Di keesokan hari, dia menonton ulang video penampilannya sampai dua jam. Setelah itu, dia bisa menganalisis apa yang salah dari penampilan tersebut. Abiyu akan mengingatnya betul-betul lalu mengulang dalam bentuk visualisasi pikiran. Itu yang dilakukannya seusai kualifikasi.

Kebetulan, kemampuan visualisasi Abiyu terbilang spesial. Menurut Ferrous, anak asuhnya itu bisa mengikuti instruksi secepat kilat. Setelah membayangkan sejenak ucapan sang pelatih, dia langsung mengoreksi kesalahannya. ”Saya hanya butuh sekali ngasih tahu dia. Kalau yang lain mungkin berkali-kali belum tentu benar,” tuturnya.

Pesenam artistik putra Indonesia Abiyu Rafi tampil dalam babak kualifikasi alat lantai SEA Games Thailand 2025 di Stadion Gymnasium 5 Universitas Thammasat Rangsit, Bangkok, Thailand, Rabu (10/12/2025). Abiyu finis di tiga besar dalam kualifikasi dan dipastikan lolos ke final.

KOMPAS/KELVIN HIANUSA

Bagi Abiyu, visualisasi dalam pikirannya sekaligus dijadikan manifestasi. Seperti saat melihat layar skor seusai kualifikasi, dia memikirkan untuk bisa naik ke posisi atas klasemen. Satu-satunya cara adalah memperbaiki penampilan di final. Terbukti, manifestasi itu berbuah manis dengan raihan emas pertamanya di SEA Games.

Abiyu kini menjadi harapan terbesar bagi senam Indonesia. Terakhir kali pesenam putra meraih emas SEA Games adalah Agus Adi Prayoko dalam alat meja lompat di edisi Manila 2019. Setelah Agus pensiun, belum ada lagi pesenam putra yang mampu menggantikan posisi. Sampai akhirnya muncul Abiyu di Thailand.

Dengan usia saat ini, perjalanan Abiyu masih sangat panjang. Potensi terbaiknya masih jauh dari kemampuan saat ini. Lihat saja pesenam veteran Thailand, Tikumporn Suritornta, yang baru berhasil menembus final Kejuaraan Dunia dan meraih emas SEA Games pada tahun ini di umur 28 tahun.

Karena itu, Abiyu butuh lebih banyak jam terbang. Dia belum bisa tampil konsisten setiap saat seperti layaknya pesenam elite dunia. Abiyu berkata, ia sempat kehilangan fokus di SEA Games karena terlalu menjadi sorotan. ”Karena negaranya terlalu sedikit, terlalu jadi spotlight. Kalau masuk ke (arena) langsung kelihatan (banyak orang),” ujarnya.

Alhasil, setelah pembuktian di SEA Games, asa Indonesia untuk mengirimkan pesenam ke Olimpiade lagi mulai bangkit. Pesenam putri Rifda Irfanaluthfi membuka jalan di Olimpiade Paris 2024, Abiyu diharapkan bisa meneruskan itu di edisi Los Angeles 2028. Dengan visualisasinya yang tajam, semua terasa memungkinkan.

Sampaikan dukungan Anda untuk atlet Indonesia

Pembaca yang budiman, Harian Kompas membuka rubrik Surat untuk Atlet yang berisi pendapat, penyemangat, atau komentar terkait penampilan atlet Indonesia di SEA Games Thailand 2025. Kirimkan komentar singkat Anda, minimal dua kalimat dan maksimal enam kalimat, dengan mengisi kolom di bawah ini. Komentar yang terpilih akan kami muat di Harian Kompas saat pelaksanaan SEA Games 2025.


Kerabat Kerja

Penulis:

kelvin hianusa dari bangkok, thailand
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan