Kehilangan Naufal Takdir membayangi Abiyu Rafi dan kawan-kawan di Kejuaraan Dunia Senam Artistik 2025. Namun, mereka persembahkan aksi terbaik walau gagal ke final.
20 Okt 2025 19:39 WIB · Olahraga
JAKARTA, KOMPAS — Meski belum berhasil mencapai final, tim senam putra Indonesia menunjukkan aksi terbaik di panggung paling prestisius setelah Olimpiade, Kejuaraan Dunia Senam Artistik 2025. Abiyu Rafi dan kawan-kawan mempersembahkan penampilan mereka untuk rekan seperjuangan, Naufal Takdir Al Bari.
”Ini jaket Naufal,” kata Abiyu Rafi sambil menunjukkan jaket tim Indonesia selepas konferensi pers pascaperlombaan di Stadion Indonesia Arena, Jakarta, Senin (20/10/2025). Abiyu dan tiga pesenam putra Indonesia lainnya resmi menandai penampilan di Kejuaraan Dunia dengan beraksi pada babak kualifikasi dalam subdivisi 7.
Abiyu ingin menunjukkan, Naufal pun ada di situ bersama mereka. Naufal turut menandai langkah perdana tim putra Indonesia di Kejuaraan Dunia, ajang yang seharusnya juga dia ikuti andai tragedi latihan itu tak terjadi.
Naufal, yang meninggal setelah kecelakaan saat pemusatan latihan di Penza, Rusia, 25 September lalu, awalnya diproyeksikan tampil di Kejuaraan Dunia. Bersama Abiyu, Naufal direncanakan turun pada keseluruhan alat individu (individual all around).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/20/b29835d4c62b61eed666cefb7e46a912-IMG_2350.jpg)
Indonesia mengirim lima pesenam putra ke Kejuaraan Dunia. Selain Abiyu (semua alat), ada Satria Tri Wira Yudha (meja lompat, palang tunggal, palang sejajar, dan lantai), Agung Suci Tantio Akbar dan Joseph Judah Hatoguan (kuda pelana), serta Muhammad Aprizal. Aprizal tidak jadi tampil karena mengalami flu berat.
Semua pesenam Indonesia yang tampil tidak berhasil melaju ke babak final, baik per alat maupun keseluruhan alat. Abiyu finis pada posisi ke-48 untuk kualifikasi semua alat dengan nilai 69,197, terpaut 24 posisi dari batas terakhir lolos ke final.
Sementara itu, posisi terbaik diraih Satria pada meja lompat (peringkat ke-49) dengan nilai 12,666. Agung menempati peringkat ke-90 (11,133) dan Joseph menempati posisi ke-125 (8,000) pada kuda pelana. Hanya delapan pesenam terbaik pada tiap alat yang bisa melaju ke final alat.
Pada alat spesialisasinya, palang tunggal, Abiyu sebenarnya mampu meraih nilai 12,500. Abiyu meraih skor tinggi pada tingkat kesulitan, yakni 5,200.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/20/3822ea46f615313d0692bd0bd220eb9b-FAK_1380.jpg)
Nilai ini merupakan pencapaian tertinggi Abiyu selama tampil di ajang di bawah Federasi Senam Dunia (FIG) sejak 2018. Di World Challenge Cup 2025 di Szombathely, Hongaria, pada akhir Oktober lalu, dia meraih nilai 11,700. Di luar ajang FIG, hanya di SEA Games Kamboja 2023, nilainya lebih tinggi, yakni 12,650.
Abiyu juga mencatatkan nilai terbaik selama berkompetisi di ajang FIG saat tampil pada spesialisasinya yang lain, lantai. Nilainya mencapai 13,066 dengan skor tinggi pada tingkat kesulitan, yakni 5,300. Nilai terbaik Abiyu sebelumnya pada alat ini di level senior, yakni 12,566, dalam Kejuaraan Asia Senior 2025 di Jecheon, Korea.
”Apalagi di lantai, ini spesialisasi nomor saya bareng almarhum Naufal. Kami berjuang bareng-bareng dan ini saya persembahkan untuk dia,” kata Abiyu sambil kembali masih menunjukkan jaket Naufal. Matanya berkaca-kaca.
Wajar Abiyu sentimental. Dia dan Naufal cukup dekat. Naufal adalah rekan di pemusatan latihan nasional selama setahun terakhir. Mereka sama-sama diproyeksikan untuk bisa menembus Olimpiade Los Angeles 2028.
Apa yang terjadi pada Naufal masih terbayang-bayang, begitu pun dengan cita-citanya tampil di sini. Ada rasa sedih karena seharusnya kami tampil bersama-sama.
Pada beberapa kesempatan, Abiyu dan Naufal bahkan dikirim menjalani pemusatan latihan di luar negeri berdua, termasuk di Jepang dan Korea. Mereka menghabiskan waktu masing-masing sebulan di kedua negara tersebut.
Perasaan haru juga diutarakan Agung. ”Apa yang terjadi pada Naufal masih terbayang-bayang, begitu pun dengan cita-citanya tampil di sini. Ada rasa sedih karena seharusnya kami tampil bersama-sama. Tapi, kami pada akhirnya tetap harus berjuang,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan oleh salah seorang pelatih tim putra Indonesia, Ferrous One Willyodac. Kesedihan dirasakan semua anggota tim, termasuk pelatih. Meski begitu, Ferrous bangga dengan anak-anak asuhannya karena mampu menembus batas kemampuan.
Abiyu, misalnya, menampilkan gerakan terbaik yang dia punya sehingga bisa meraih nilai maksimalnya. Begitu juga dengan Satria yang mampu meraih hasil terbaik di palang sejajar (11,666).
Menurut Ferrous, Abiyu dan kawan-kawan tidak hanya mengatasi perasaan sedih karena tragedi Naufal, tetapi juga menanggulangi rasa gugup sebagai debutan di Kejuaraan Dunia dan tampil di depan publik sendiri. Mereka bahkan mampu mengubah perasaan sedih itu menjadi ambisi untuk mempersembahkan hasil terbaik bagi Naufal.
”Namun, yang juga membuat saya bangga adalah mereka mampu menjaga ambisi itu di tengah-tengah. Sebab, jika adrenalin, ambisi, atau perasaan terlalu menguasai, justru berbahaya,” ucapnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/20/f3dfe8d1aa8a5b7e25555801b7827241-FAK_1221.jpg)
Di sisi lain, hasil Kejuaraan Dunia juga jadi cerminan persaingan di SEA Games Thailand 2025 mendatang. Ferrous menambahkan, meski rilis resmi peserta di SEA Games belum ada, atlet yang tampil di Kejuaraan Dunia seharusnya juga akan beraksi di SEA Games.
”Karena senam ini tidak bisa dipersiapkan mepet-mepet, hampir tidak ada kejutan. Kemungkinan jumlah atletnya berkurang ada, cuma apa yang nantinya ditampilkan pasti orang yang sudah disiapkan, termasuk yang tampil di sini,” ujarnya.
Ia menilai, setidaknya ada potensi medali dari Abiyu dari palang tunggal dan lantai. Dengan nilai 12,500 pada palang tunggal, Abiyu merupakan atlet terbaik di antara empat atlet lain dari negara Asia Tenggara.
Adapun di lantai (13,066), Abiyu hanya kalah dari atlet Filipina peraih dua emas Olimpiade, Carlos Yulo. Dengan nilai 14,566, Yulo bahkan menempati peringkat kedua kualifikasi. Dia hanya kalah dari pesenam Inggris Raya, Jake Jarman (14,700).
Penulis:
Rebiyyah Salasah, Kelvin HianusaEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti