Wabah Campak di Negara Adidaya

Virus campak sedang mewabah di Amerika Serikat. Wabah di negara adidaya ini menjadi peringatan bagi dunia tentang pentingnya imunisasi.

05 Apr 2025 06:45 WIB · Opini

Oleh Redaksi

Harian Kompas (Kompas.id) memberitakan, sejak 1 Januari hingga 27 Maret 2025 terdapat 483 kasus campak yang terkonfirmasi di Amerika Serikat. Kasus campak dilaporkan tersebar di 19 dari 50 negara bagian di AS. Ke-19 negara bagian itu adalah Alaska, California, Florida, Georgia, Kansas, Kentucky, Maryland, Michigan, Minnesota, New Jersey, New Mexico, New York, Ohio, Pennsylvania, Rhode Island, Tennessee, Texas, Vermont, dan Washington.

Wabah campak di AS dilaporkan sebagian besar menjangkiti anak-anak. Sebanyak 42 persen dari total kasus berusia 5–19 tahun dan 33 persen berusia di bawah lima tahun. Dua kematian telah dilaporkan di wilayah wabah. Pada Februari 2025, seorang anak usia sekolah di Texas yang tidak diimunisasi meninggal karena campak. Kasus ini adalah kematian pertama di AS yang terkait dengan campak dalam satu dekade. Satu kasus kematian lagi sedang diselidiki di New Mexico.

Petugas kesehatan dari Tim Khusus Penanggulangan KLB campak dan gizi buruk memberikan vaksin campak bagi anak-anak di Kampung Atat, Distrik Pulau Tiga, Kabupaten Asmat, Papua, Sabtu (13/1).

Dari seluruh kasus yang dilaporkan tersebut, 97 persen tidak pernah diimunisasi atau tidak mengetahui apakah sudah pernah imunisasi atau belum. Hanya 1 persen dengan status mendapatkan satu dosis vaksin campak, gondongan, rubela (MMR) dan 2 persen dengan dua dosis vaksin MMR.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menerima laporan resmi wabah campak di AS tersebut pada Selasa, 11 Maret 2025. Berjangkitnya wabah campak di negara maju menjadi perhatian WHO. Hal itu karena pada 2016 oleh WHO negara itu dinyatakan sebagai wilayah WHO pertama yang bebas dari penularan campak endemik. Namun, bukan berarti AS aman dari risiko penularan virus campak impor.

Selain virus impor dari negara endemik campak, menurut penilaian WHO, beberapa faktor terjadinya wabah campak di AS juga karena cakupan imunisasi yang rendah terkait pandemi Covid-19. Di samping itu, juga karena meningkatnya keraguan terhadap vaksin dan terbatasnya akses ke layanan kesehatan.

Seorang anak mendapatkan suntikan vaksin campak saat Kampanye Imunisasi Campak dan Polio di Gedung Wanita BKOW, Kelurahan Duren Sawit, Jakarta Timur, beberapa waktu lalu. Breskrim Polri membongkar jaringan pemalsu vaksin dasar yang telah beroperasi sejak 2003.

Meski demikian, menurut WHO, hingga Kamis, 27 Maret 2025, sumber wabah di AS ini belum diketahui. Tidak ada bukti penurunan efektivitas vaksin atau perubahan pada virus yang dapat mengakibatkan peningkatan keparahan campak.

Sejumlah pemerintah negara bagian pun mengantisipasi penularan lebih luas dengan mengeluarkan imbauan perjalanan, seperti dilakukan oleh Negara Bagian New York, Rabu, 2 April 2025. Departemen Kesehatan Negara Bagian New York mengimbau warga agar melakukan imunisasi lengkap campak sebelum bepergian ke luar negeri atau memasuki wilayah New York.

Belajar dari wabah campak di AS, Kementerian Kesehatan Indonesia perlu terus menggencarkan program Pekan Imunisasi Nasional. Masyarakat juga diharapkan mendukungnya. Hal itu karena campak masih menjadi salah satu penyebab kematian utama anak-anak di seluruh dunia.


Kerabat Kerja

Penulis:

Redaksi
 | 

Editor:

Antonius Tomy Trinugroho
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari