Cuaca mendung tak serta-merta memudahkan jalannya lomba. Kelembapan udara menjadi tantangan tersendiri bagi pelari. Waspadai risiko kesehatan yang menyertainya.
11 Des 2024 09:05 WIB · Olahraga
Cuaca mendung kerap kali membuat para pelari terlena. Tanpa sengatan matahari, hawa seolah-olah terasa sejuk. Yang terlupakan, mendung bisa memunculkan kelembapan udara (humidity) yang berisiko mempercepat peningkatan suhu tubuh. Ancaman heat stroke mengintai.
Tingginya kelembapan udara itu terjadi pula pada gelaran Bank Jateng Borobudur Marathon 2024 di kawasan Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Minggu (1/12/2024). Beberapa menit sebelum pelari dilepas, temperatur tercatat hanya 24 derajat celsius. Meski cenderung sejuk, kelembapan udaranya mencapai 95 persen.
Semakin siang, suhu menyentuh sekitar 30 derajat celsius. Hanya saja, awan mendung bertahan bersama kelembapan udara. Keduanya menyertai pelari merampungkan lombanya. Terik matahari nyaris tak terasa.
Terbukti kasus ’heat stroke’ itu lumayan banyak. Jadi, pelari memang harus memperhitungkan segala hal.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/01/1e7ea13d55af0a72c6971f9d90961b0b-1000454670.jpg)
Walaupun begitu, Tim Medis Borobudur Marathon 2024 masih menemukan persoalan kesehatan pelari terkait cuaca panas (heat related illness). Pada ajang itu, tercatat 37 pelari dilayani di triase merah dan kuning. Warna merah menandakan gejala berat, sedangkan kuning untuk gejala sedang.
Tim tersebut juga mencatat 11 pelari suhu tubuhnya melampaui 39,5 derajat celsius sewaktu memasuki tenda medis. Akibat tingginya suhu tubuh, sejumlah tujuh orang mengalami heat stroke hingga menurun kesadarannya.
”Ini menunjukkan cuaca yang lembap itu juga berisiko. Terbukti kasus heat stroke itu lumayan banyak. Jadi, pelari memang harus memperhitungkan segala hal,” kata Direktur Medis Borobudur Marathon 2024 Andi Kurniawan saat dihubungi, Selasa (10/12/2024).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/01/bec2aca88e02190ad9f656b1161bb3d4-1000454836.jpg)
Menurut Andi, tingginya kelembapan udara memengaruhi kemampuan tubuh mengatur suhunya sewaktu seseorang tengah berolahraga. Lebih-lebih jika olahraganya itu cukup berat semacam lari jarak jauh.
Ketika berolahraga, kata Andi, tubuh akan menghasilkan panas. Seharusnya panas itu dikeluarkan melalui keringat. Masalah muncul jika hawa lingkungan setempat cukup lembap. Keadaan itu mempersulit keringat untuk dikeluarkan dari dalam tubuh.
”Karena tidak bisa memproduksi keringat, akhirnya suhu tubuh malah terus meningkat,” tutur Andi, yang juga menjadi dokter spesialis keolahragaan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/01/20a7e0a3fb21f78cd3032272b76e0f60-1000454845.jpg)
Dalam lari jarak jauh, kata Andi, masalah peningkatan suhu tubuh bisa diatasi dengan terus mencukupi kebutuhan cairan, atau yang sering disebut hidrasi. Khususnya apabila terjadi kelembapan udara yang tinggi. Celakanya, kelembaban udara yang diawali cuaca mendung itu sering kali mengecoh pelari.
”Menariknya, ketika mendung mereka (pelari) seolah tidak merasa haus. Lalu, hidrasinya kurang diperhatikan. Titik-titik water station seperti diabaikan sehingga membuat mereka dehidrasi sampai terjadi heat stroke,” katanya.
Andi mengungkapkan, hidrasi menjadi faktor penting guna mencegah terjadinya heat stroke. Sebisa mungkin pelari mengisi cairan setiap kali melewati water station. Kecukupan minum bakal membantu tubuh menurunkan suhu panasnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/01/9c124f58d1fd29e4cd0abc7ec150e0b3-1000087867.jpg)
Di sisi lain, kata Andi, pelari juga mesti memastikan kebugaran fisiknya sebelum terjun ke lomba. Jangan sampai berlomba dalam kondisi kelelahan. Apalagi jika pelari sampai kurang tidur. Kondisinya cukup berisiko jika harus menjalani olahraga berat ketika tubuh terlampau lelah.
”Jika tubuh kita siap, panas yang dihasilkan tubuh tidak terlalu tinggi. Dengan begitu, tubuh tidak terlalu overheat. Ketika kurang tidur dan kelelahan, suhu tubuh kita bisa semakin tinggi,” kata Andi.
Odekta Naibaho, pelari nasional putri, tak menampik kelembapan udara cukup menantang sewaktu gelaran Borobudur Marathon 2024. Lebih-lebih rute yang mesti dilalui lumayan berat. Terdapat banyak tanjakan yang memacu tubuh bekerja lebih keras sehingga suhu tubuh juga mudah meningkat.
"Humid-nya itu kita bisa tertipu dengan cuaca ini. Kita butuh energi dan hidrasi juga. Namun, kadang kita lupa bahwa jika lupa melakukan hidrasi sekian kilometer, itu jadi tantangan tersendiri buat para pelari,” kata Odekta.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/01/15693a9b371991c926fdc4111dad2e78-1000455172.jpg)
Meski demikian, Odekta berhasil melewati tantangan kelembapan udara itu. Tahun ini, ia finis sebagai pelari nasional putri tercepat dengan catatan waktu 2 jam 50 menit 5 detik. Ia berhasil merampungkan lomba dua menit lebih cepat dari capaiannya setahun lalu.
Peningkatan level lomba, kata Odekta, turut mengerek prestasinya tahun ini. Jumlah water station dan tenda medis ditambah. Bahkan, water station bisa ditemukan setiap 2,5 kilometer. Itu semua membuatnya bisa merencanakan lomba secara lebih matang.
”Segala informasi tentang lomba disampaikan begitu baik. Kita tahu berapa banyak tenda medis, water station di mana saja, termasuk mana yang ada special drink. Itu membantu kami mengetahui di mana kita harus mengikuti hidrasi atau butuh semprotan medis. Kita bisa belajar dari semalam sebelumnya,” kata Odekta.
Penulis:
Nino Citra AnugrahantoEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan