”Keajaiban Sungai Han” tak meninggalkan pasar-pasar rakyat di Korsel. Tradisionalitas dijaga, rakyat diberi tempat, serta teknologi dan ekonomi kreatif diterapkan.
03 Mei 2025 07:05 WIB · Ekonomi
Tidak becek, tidak berbau tak sedap, dan tidak ada sampah berserakan. Bisa menikmati aneka jajanan, makanan, dan minuman langsung di tempat. Bahkan, bisa bernostalgia dengan perangkat teknologi retro dan modern. Itulah kesan mengunjungi pasar tradisional Gyengdong dan pasar ikan Noryangjin di Korea Selatan.
Geliat kedua pasar itu membuktikan bahwa keajaiban Sungai Han atau Hanyang tidak hanya melulu soal kemajuan industri, teknologi, dan ekonomi kreatif. Keajaiban Sungai Han juga perihal bagaimana Korea Selatan (Korsel) mendesain ekonomi kerakyatan sebagai tempat hidup lintas kelas dan generasi.
Kompas bersama rombongan jurnalis Vietnam, Singapura, dan Thailand menyambangi Pasar Gyeongdong dan Pasar Noryangjin di Seoul. Kegiatan itu dalam rangka LG HS Asia Press Tour di Seoul dan Busan pada 21-24 April 2025.
Pasar Gyengdong tertata rapi dan tidak becek. Para pedagang di pasar tersebut menempati sejumlah kios dan lapak yang ditata secara teratur. Jalan-jalan kecil di antara kios dan lapak di pasar itu dapat dilalui dengan sepeda motor, sepeda, dan kendaraan mini pengangkut barang.
Berbagai komoditas bahan pangan harian, antara lain seperti beras, cabai, bawang putih, aneka sayuran dan buah, daging, dan ikan asin diperdagangkan di pasar itu. Di sela-sela para pedagang bahan pangan, aneka jajanan dan makanan khas Korsel juga turut dijual.
Beberapa jajanan tradisional itu, antara lain, adalah tteokbokki, ramyeon, hotteok, bungeoppang, dan berbagai macam kue beras seperti injeolmi dan songpyeon. Bahkan, tanpa rasa enggan, sejumlah pengunjung pasar juga menikmati bimbimbap, japchae, samgyetang, dan jajangmyeon.
Tidak hanya itu, pedagang Pasar Gyeongdong juga menjual ginseng, jamur, jahe, kunyit, dan sejumlah tanaman herbal. Hal itu tidak mengherankan lantaran Pasar Gyeongdong dikenal pula sebagai pusat bahan obat-obatan herbal tradisional khas Korsel yang kerap disebut hanbang atau hanyak.
Pasar tersebut bahkan pernah dijadikan lokasi syuting sejumlah drama Korsel, seperti ”Heartstring” (2011) dan ”Cheongdamdong Alice” (2012). Para pedagang pasar yang banyak sudah lanjut usia, keotentikan komoditas yang diperdagangkan, dan geliat aktivitas pasar terekam dalam kedua drama itu.
Pasar Gyeongdong dikenal pula sebagai pusat bahan obat-obatan herbal tradisional khas Korsel yang kerap disebut hanbang atau hanyak.
Pasar Gyengdong atau Gyengdong Sijang merupakan salah satu dari empat pasar tradisional terbesar di Seoul. Pasar itu dibangun pada 1953 atau setelah perang Korea Utara melawan Korsel (25 Juni 1950-27 Juli 1953) berakhir.
Pada 1960, Pasar Gyengdong selesai dibangun dan mulai dioperasikan untuk menggeliatkan perekonomian rakyat kecil. Pada 1982 hingga 1985, pasar tersebut direvitalisasi dan diperluas secara bertahap.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/02/85d88f3169d43827f340686509b91f19-cropped_image.jpg)
Pasar itu tidak hanya mencerminkan wajah ekonomi kerakyatan, tetapi juga ekonomi kreatif. Pasar itu juga bukan hanya menjadi wadah bagi para pedagang dan ibu-ibu yang berbelanja, tetapi juga generasi Z.
Berduet dengan Starbucks, LG electronics menyulap bekas bioskop tua di pasar tradisional Gyengdong, Seoul, yang tutup pada 1994 menjadi ”rumah” gen Z. ”Rumah” gen Z yang menempati lantai 2 dan 3 pasar sejak 2022 itu bernama LG Goldstar Refreshment Center.
Di lantai 2, pengunjung dapat menyewa laptop atau menunggu selesainya servis laptop sembari ngopi di Starbucks. Pengunjung juga dapat melihat trasformasi berbagai perangkat elektronik LG tempo dulu hingga sekarang, seperti televisi, kipas angin, lemari es, AC, dan radio.
Mereka juga dapat membersihkan sepatu, boneka, mainan, bahkan pakaian di sudut LG Style Refresh Corner. Melalui teknologi yang dikembangkan LG, pengunjung dapat mengetahui tingkat kandungan bakteri di sepatu, pakaian, boneka, atau mainan sebelum dan sesuai dibersihkan.
Di lantai itu pula, para pengunjung dapat berinteraksi dengan teknologi akal imitasi (AI) di sudut LG Tromm House. Alat interaksi itu berbentuk mesin cuci yang dilengkapi dengan kamera dan teknologi Tromm AI Personal.
Dengan memasukkan kepala ke dalam drum mesin cuci, pengunjung dapat mengambil foto yang unik. Foto itu dilahirkan dari hasil analisis AI terhadap pengunjung untuk menentukan wajah sesuai umur pilihan, serta warna dan jenis pakaian.
Sementara di lantai 3, pengunjung dapat menikmati beberapa kegiatan interaktif berbalut teknologi terkini LG, yakni di LG ThinQ Room Escape. Para pengunjung yang dibagi dalam kelompok, diajak untuk menyelesaikan misi khusus yang harus dipecahkan dengan bantuan aplikasi LG ThinQ.
Mereka diberi waktu sekitar 40 menit untuk bekerja sama menyelesaikan sejumlah misi, seperti mendaur ulang radio dan mencocokkan jenis, warna, dan bahan pakaian. Jika berhasil menyelesaikannya, mereka akan diberi suvenir menarik dari bahan daur ulang.
Head of LG Electronics Public Relations Sophie Chung menuturkan, LG Goldstar Refreshment Center mendekatkan Gen Z dengan pasar tradisional. Mereka juga dapat bernostalgia serta mengetahui sejarah perkembangan teknologi dan perangkat elektronik yang dikembangkan LG.
”Tak hanya Gen Z, para wisatawan yang berkunjung ke Pasar Gyeongdong juga dapat rehat untuk ngopi sembari menikmati berbagai fasilitas di LG Goldstar Refreshment Center,” tuturnya, Kamis (24/4/2025).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/02/4234fb95bc5453005d11837f3ecf09f4-20250422_184707.jpg)
Kompas juga mengunjung Pasar Ikan Noryangjin yang dahulu disebut sebagai Pasar Ikan Gyeongseong, pada Selasa (22/4/2025) sore. Pasar ikan dekat Stasiun Seoul yang dibuka pada 1927 itu merupakan pasar ikan terbesar di Korsel.
Pasar tersebut memiliki sekitar 700 kios yang menjual berbagai macam hasil laut. Beberapa hasil laut segar yang dijual adalah lobster, kepiting, kerang, udang, gurita, cumi-cumi, dan berbagai jenis ikan segar.
Pasar ikan berlantai delapan itu tidak becek, tidak berbau amis, dan tertata rapi. Di lantai 4 pasar tersebut, terdapat sejumlah restoran yang menyajikan aneka menu masakan laut. Tiga menu andalan yang disajikan adalah kepiting raksasa Alaska, kerang abalone, dan lobster.
Pasar ini juga menjadi saksi bisu dari Perang Korea. Bangunan asli pasar tersebut rusak parah akibat perang tersebut. Kemudian Pemerintah Korsel membangunnya kembali dan meresmikan bangunan baru itu pada 1971. Pada 2016, Pemerintah Korsel menambahkan lagi gedung baru di pasar itu.
Dalam pembangunan Pasar Ikan Noryangjin, Pemerintah Korsel mengintegrasikan sektor ekonomi kerakyatan dengan ekonomi kreatif, berbasis wisata dan kuliner. Tindak mengherankan jika banyak wisatawan yang berkunjung ke pasar itu.
Mereka ada yang sekadar berswafoto dengan kepiting raksasa alaska atau lobster. Ada juga yang menyempatkan menikmati aneka hidangan laut di pasar tersebut.
Baik Pasar Gyeongdong maupun Pasar Ikan Noryangjin, pembangunannya selalu berpijak pada ”Keajaiban Sungai Han (Hangangeui Gijeok). ”Keajaiban Sungai Han” tidak mengabaikan ekonomi kerakyatan.
Baik Pasar Gyeongdong maupun Pasar Ikan Noryangjin, pembangunannya selalu berpijak pada ”Keajaiban Sungai Han” (Hangangeui Gijeok). Istilah itu merujuk pada periode pertumbuhan ekonomi Korsel yang sangat cepat.
Pertumbuhan itu mencakup industrialisasi, pencapaian teknologi, pembangunan gedung-gedung pencakar langit, dan modernisasi, dari puing-puing Perang Korea, penjajahan Jepang, dan Perang Dunia II.
Istilah ini kerap digunakan untuk memaparkan kekuatan ekonomi Korsel yang sangat berpengaruh dalam skala global dengan munculnya perusahaan-perusahaan raksasa seperti Samsung, LG, dan Hyundai-Kia. Selain itu, istilah itu juga merujuk pada perkembangan pesat ekonomi kreatif Korsel melalui bisnis K-pop dan K-drama.
Di sisi lain, ”Keajaiban Sungai Han” juga tidak mengabaikan ekonomi kerakyatan. Geliat usaha mikro kecil, dan menengah juga turut dijaga, termasuk mengemas berbagai pasar rakyat atau tradisonal di Korsel dengan sektor-sektor ekonomi lain. Bahkan, perusahaan-perusahaan besar turut membangun membesarkan pasar-pasar tersebut.
Penulis:
Hendriyo WidiEditor:
Aris PrasetyoPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase