Untuk pertama kalinya, Indonesia tersingkir pada fase grup Piala Thomas setelah kalah 1-4 dari tim Perancis di Denmark. Kegagalan bersejarah.
02 Mei 2026 02:00 WIB · Tajuk Rencana
Humas PP PBSI
Syarat Indonesia untuk melaju ke perempat final sebenarnya hanya ’’mencuri” dua kemenangan saja dari Perancis pada pertandingan terakhir penyisihan Grup D. Apa daya, Jonatan Christie dan kawan-kawan justru dipecundangi dengan telak, hanya mampu merebut satu angka saja dari Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri, yang menang pada laga terakhir yang sudah tidak menentukan lagi atas Christo Popov/Toma Junior Popov, 21-18, 19-21, 21-11.
Kegagalan tim Thomas Indonesia pada fase awal ini menjadi yang pertama sejak Piala Thomas memakai sistem penyisihan grup pada 1984. Sebelum 1984, babak utama Piala Thomas langsung digelar dengan sistem gugur dengan peserta yang lolos dari babak kualifikasi di berbagai zona.
Indonesia pertama kali ikut serta pada Piala Thomas 1958 di Singapura dan langsung berhasil menjadi juara. Hasil terburuk sebelumnya adalah ketika kalah pada perempat final di Wuhan, China, tahun 2012. Indonesia menjadi finalis pada edisi 2022 dan 2024. Adapun trofi terakhir Thomas direbut pada 2020 di Aarhus, Denmark.
Sebagai pemegang gelar juara Piala Thomas terbanyak, yaitu 14 kali, penampilan Indonesia di Denmark menjadi tamparan keras bagi perbulutangkisan Indonesia. Hal ini semakin menegaskan apa yang menjadi ketakutan kita semua, bahwa bulu tangkis Indonesia kini tidak lagi menjadi kekuatan dominan dunia.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/29/7c449a25a76d73d3fe82781998a4d635-WhatsApp_Image_2026_04_29_at_06.11.19.jpeg)
Kekuatan bulu tangkis dunia kini semakin merata, seperti yang ditunjukkan oleh para pemain putra Perancis. Sinyal meredupnya supremasi bulu tangkis Indonesia ini sebenarnya sudah berlangsung cukup lama. Pada 2023, kita mencatatkan sejarah buruk saat gelaran Asian Games 2022 di Hangzhou, China, ketika bulu tangkis untuk pertama kalinya gagal mendapat medali di ajang multicabang Asia ini.
Catatan buruk itu berlanjut ketika Indonesia gagal mempertahankan tradisi emas bulu tangkis pada Olimpiade Paris 2024. Sektor putra gagal merebut medali dengan satu-satunya medali dipersembahkan oleh tungal putri Gregoria Mariska Tunjung yang merebut perunggu.
Pada ajang-ajang BWF World Tour, para pemain Indonesia juga selalu kesulitan. Sepanjang 2026 ini, pemain Merah Putih mengalami paceklik gelar, terutama pada dua kategori tertinggi, Super 750 dan Super 1000. Indonesia hanya kebagian gelar dari ajang berkategori Super 500 ke bawah. Alwi Farhan juara di Indonesia Masters Super 500, sedangkan empat gelar didapat dari Thailand Masters Super 300.
Berbagai catatan buruk itu, yang dipuncaki kegagalan tim Thomas 2026, menjadi alarm serius bagi otoritas bulu tangkis Indonesia, PBSI, guna melakukan evaluasi dan pembenahan yang menyeluruh. Tanpa itu, kita terancam semakin tertinggal dari negara lain. Upaya lebih harus dilakukan untuk melakukan regenerasi dan pembinaan, demi mencetak pemain-pemain elite penerus Jonatan, Anthony Sinisuka Ginting, dan Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/29/f54b217119feedcaee663d8db0d67c06-WhatsApp_Image_2026_04_29_at_01.21.15.jpeg)
Selain generasi muda seperti Alwi dan Moh Zaki Ubaidillah serta pasangan Raymond Indra/Nikolaus Joaquin, bibit-bibit baru juga harus terus dicari. Terlebih lagi, Indonesia tengah dikejar waktu untuk menyiapkan atlet-atlet terbaik ke ajang-ajang berikutnya, seperti Asian Games Aichi–Nagoya 2026 dan Olimpiade Los Angeles 2028.
Di tengah kegagalan bersejarah tim Thomas, wajah bulu tangkis Indonesia masih sedikit terselamatkan dengan keberhasilan tim Uber melaju ke semifinal. Putri Kusuma Wardani dan kawan-kawan menang 3-1 atas Denmark di perempat final untuk menantang Korea Selatan memperebutkan tiket final. Kita berharap tim Uber mampu memberikan kejutan pada Korea Selatan.
Penulis:
RedaksiEditor:
RedaksiPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase