Foto yang menggambarkan teror Perang Vietnam telah memicu protes hingga akhirnya menghentikan perang itu. Setelah 53 tahun berlalu, foto itu kembali ”meneror”.
03 Jun 2025 06:00 WIB · Klinik Foto
Hari itu Kamis (8/6/1972), prajurit Vietnam Selatan Sersan Nguyen Van Hai menyaksikan dengan tidak percaya ketika sebuah pesawat tipe A-1 Skyrider yang dioperasikan angkatan udara Vietnam Selatan secara keliru menjatuhkan bom napalm yang meledak tepat di atas pasukannya dan sekelompok warga sipil. Sontak, ledakan napalm memicu api yang membakar ketenangan di Desa Trang Bang yang berada sekitar 40 mil barat laut kota Saigon, ibu kota Vietnam saat itu. Dalam sekejap, lima wanita dan anak-anak serta setengah lusin tentara Vietnam Selatan terbakar parah, kulit mereka terkelupas menjadi potongan-potongan besar berwarna merah muda dan hitam.
”Ini mengerikan, yang terburuk yang pernah saya lihat!” kata Sersan Hai seperti yang dikutip dalam berita di halaman 1 koran The New York Times yang terbit sehari setelah peristiwa tersebut.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/02/6e71b8432c9d1ab9ed04616bd41c6565-NAPALM_GIRL.jpg)
Selain cerita kesaksian Sersan Hai, koran terkemuka di Amerika Serikat (AS) tersebut juga memasang foto kengerian dampak serangan bom napalm salah sasaran itu. Saat bom-bom itu dijatuhkan, tak jauh dari lokasi ada sekelompok pewarta foto dan jurnalis yang sedang meliput serangan udara yang awalnya ditujukan untuk memukul mundur gerilyawan Vietnam Utara. Namun, pilot salah menjatuhkan bom justru di pos komando rekannya sendiri dan sekelompok warga sipil. Para jurnalis pun bergerak mengabadikan warga yang berlarian menyelamatkan diri.
Dari banyak bingkai foto rekaman yang dibuat para jurnalis, ada satu foto yang mencuri perhatian. Foto bergambar seorang gadis kecil telanjang bersama sejumlah anak-anak lain berlarian menjauhi lokasi yang diselimuti asap hitam. Sejumlah tentara bersenjata berjalan di belakang mereka. Foto ini dipublikasikan kantor berita Associated Press (AP) dengan atribusi fotografer Huynh Cong Ut dan esok harinya dimuat banyak koran di seluruh dunia, termasuk di halaman satu bawah The New York Times.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/01/5448a113-b9ce-4fc9-b061-941ed393b327_jpg.jpg)
Publikasi foto yang diberi judul ”The Terror of War” tersebut memicu reaksi di banyak tempat untuk menyerukan dihentikannya perang di Vietnam. Di AS, foto tersebut menjadi simbol protes menentang perang yang sudah berlangsung hampir dua dekade. Foto tersebut juga menjadi bukti betapa ngerinya penggunaan senjata mematikan seperti bom napalm, hingga akhirnya foto tersebut lebih dikenal sebagai foto ”Napalm Girl” karena menampilkan sosok gadis kecil Phan Thi Kim Phuc yang terbakar tubuhnya hingga telanjang karena bom napalm.
Visual yang dramatis menghasilkan hadiah Pulitzer untuk foto tersebut. Sebuah penghargaan untuk karya jurnalistik terbaik di AS. Foto tersebut juga mendapatkan penghargaan tertinggi Photo of the Year di ajang kontes foto jurnalistik tahunan World Press Photo 1973. Sang fotografer Huynh Cong Ut yang lebih dikenal dengan panggilan Nick Ut menjadi terkenal di seluruh dunia.
Nick Ut, pemuda 21 tahun, awalnya menjadi asisten di kamar gelap yang membantu proses cuci cetak film dan foto di Kantor Biro AP di Saigon. Dia bergabung di AP terinspirasi kakak laki-lakinya yang juga fotografer AP dan tewas dalam satu tugas peliputan di Vietnam. Nick Ut akhirnya bisa menjadi pewarta foto saat AP kekurangan tenaga fotografer untuk liputan perang.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/01/26477d1e-a972-4bdf-a34f-9e3dabc723ec_jpg.jpg)
Foto itu telah mengubah kehidupan Nick Ut. Penghargaan demi penghargaan yang diterima membuatnya banyak disanjung dan dikenal orang. Dalam satu wawancara dengan jaringan televisi NBC saat ia pensiun sebagai pewarta foto tahun 2017, Nick Ut menceritakan banyak pemuda-pemuda di AS yang berterima kasih kepadanya karena foto tersebut akhirnya membuat warga sadar dampak perang. Perang Vietnam pun berakhir tahun 1975 dan tentara AS merasa berutang budi kepada Nick Ut karena foto tersebut ikut mengakhiri perang.
”Aku banyak bertemu tentara AS yang tidak jadi ke Vietnam. Mereka berterima kasih padaku, karena foto itu mereka tidak berangkat ke Vietnam,” kenang Nick Ut yang kemudian pindah dan berkarya di Los Angeles, AS.
Nick Ut juga menceritakan hubungannya dengan Kim Phuc, si gadis napalm dalam foto yang saat itu ditolongnya menuju rumah sakit untuk perawatan. Kim Phuc yang kini berkewarganegaraan Kanada dan menjadi duta Perserikatan Bangsa-Bangsa juga masih berhubungan baik dengan Nick Ut. Mereka sering tampil mengampanyekan penghentian perang dan pada tahun 2022, mereka bersama-sama mendapat kesempatan beraudiensi dengan mendiang Paus Fransiskus di Vatikan untuk mengampanyekan perdamaian sekaligus peringatan 50 tahun peristiwa pengeboman di Trang Bang.
Pada akhir Januari 2025 di Festival Film Sundance diputarlah film dokumenter berjudul The Stringer. Stringer merupakan sebutan bagi fotografer lepas yang biasa menjual fotonya ke media atau kantor berita dengan imbalan tertentu. Film ini karya sutradara Vietnam-AS, Bao Nguyen, diproduksi oleh The VII Foundation dengan mitra produksi XRM Media. Setelah ditayangkan perdana di Festival Film Sundance 2025 film ini diklaim menjadi salah satu film yang paling banyak diulas dalam sejarah festival tersebut.
Film ini menceritakan pengakuan seorang fotografer lepas Vietnam, Nguyen Thanh Nghe, tentang proses pemotretan peristiwa pengeboman di Trang Bang tahun 1972. Nghe adalah salah satu dari lebih dari selusin orang yang ditempatkan di pos pemeriksaan jalan raya di luar Desa Trang Bang saat peristiwa itu terjadi. Tempat dan waktu yang sama dengan Nick Ut memotret peristiwa pengeboman itu.
Direktur Eksekutif The VII Foundation Gary Knight dan tim kecil jurnalis memulai perjalanan rumit untuk mencari kebenaran. Investigasi selama dua tahun mengungkap skandal di balik pengambilan salah satu foto paling ikonik abad ke-20, ”Napalm Girl”. Dalam investigasi film tersebut, budaya eksploitasi jurnalis lepas dan lokal yang biasa terjadi dalam pelaporan perang terungkap. Rahasia selama puluhan tahun terungkap dalam pencarian keadilan bagi seorang pria yang hanya dikenal sebagai the stringer.
Dalam pernyataan resmi The VII Foundation mengungkapkan film ini mengajak penonton dalam perburuan kebenaran yang mendebarkan. Sepanjang film, cerita bergulat dengan pertanyaan tentang kepengarangan, ketidakadilan rasial, dan etika jurnalistik sambil menyoroti kontribusi penting, tetapi sering tidak diakui dari fotografer lepas dalam membentuk lanskap media.
Meskipun film ini banyak diulas dan dibincangkan karena kontroversi yang terjadi, hingga sekarang The Stringer belum dirilis secara komersial untuk publik. Sang Sutradara, Bao Nguyen, beralasan pihaknya masih dalam tahap negosiasi untuk hak pendistribusian global.
Penayangan film tersebut menyulut keraguan bagi World Press Photo atas atribusi foto ”Napalm Girl” di tengah perdebatan yang berkembang tentang salah satu foto yang menentukan abad ke-20. Polemik mencuat ketika pada 16 Mei lalu, World Press Photo mengumumkan bahwa mereka telah ”menangguhkan” atribusi yang telah lama diberikan kepada fotografer AP yang sudah pensiun, Nick Ut. Sebuah laporan yang menyertainya mengatakan bahwa bukti ”visual dan teknis” ”cenderung” mengarah pada teori yang muncul bahwa seorang fotografer lepas Vietnam, Nguyen Thanh Nghe, mengambil foto tersebut.
Direktur Eksekutif World Press Photo Joumana El Zein Khoury mengambil dua langkah penting, yaitu penangguhan atribusi pada foto tersebut dan pembaruan teks dengan catatan bahwa foto itu sendiri tetap tidak terbantahkan sebagai foto jurnalistik terbaik tahun itu dan penghargaan untuk foto tersebut tetap berlaku. Hanya kepengarangannya yang sedang ditinjau.
”Ini mungkin bukan resolusi yang sempurna. Namun, ini adalah resolusi yang bijaksana dan berprinsip. Ini menghargai kompleksitas masalah, tetap terbuka terhadap perkembangan baru, dan yang terpenting, mengundang dialog kritis. Harapan kami adalah pendekatan ini membantu mendorong percakapan yang bermakna tentang kebenaran, kepengarangan, dan integritas dalam penceritaan visual,” ujar Khoury dalam pernyataan resmi di situs World Press Photo.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/01/97db8f38-80e8-445a-898e-2f83650895cd_jpg.jpg)
Sebelumnnya di awal Mei lalu, AP menerbitkan laporan setebal 96 halaman tentang masalah tersebut. Investigasi tersebut didasarkan pada wawancara saksi mata, pemeriksaan kamera, model 3D dari tempat kejadian, dan negatif foto yang masih ada, tidak menemukan ”bukti pasti” untuk membenarkan perubahan atribusi. Dalam laporannya, AP menyimpulkan tidak ada bukti definitif yang diperlukan oleh standar AP untuk mengubah kredit foto berusia 53 tahun tersebut.
Jika membaca laporan investigasi AP, ada potensi yang memungkinkan terjadi ”kesalahan atribusi” karena sistem dan cara kerja di Kantor AP Biro Saigon saat itu. Proses pengarsipan negatif film kemungkinan belum rapi sehingga memungkinkan tertukarnya negatif film hasil pemotretan milik staf AP dan para stringer.
Agaknya sulit untuk mencari bukti tambahan dari foto yang masih menggunakan teknologi analog. Foto tersebut awalnya juga sempat diperdebatkan di internal editor foto AP terkait kepantasan untuk dipublikasikan karena gambar ketelanjangan anak. Selain itu, sejumlah saksi mata kunci juga sudah tiada, seperti Horst Faas, Kepala Foto AP di Saigon saat itu. Faas disebut sebagai orang yang memerintahkan penulisan atribusi foto atas nama Nick Ut.
Polemik kian berlanjut tatkala keputusan World Press Photo menangguhkan atribusi pada foto tersebut juga menuai kritik dari sejumah fotografer. Mereka menganggap Yayasan World Press Photo tidak berhak menangguhkan kredit atau atribusi sebuah foto. Yayasan hanyalah pihak penyelenggara kontes foto jurnalistik yang hanya bisa menilai karya tersebut sah atau melanggar aturan sehingga harus didiskualifikasi dari kontes.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/01/2230ba8d-7a31-4ab4-9e96-f31203bd7fa4_jpg.jpg)
Sementara itu, Nick Ut telah berulang kali menepis tuduhan yang menyatakan ia tidak mengambil foto tersebut. Melalui pengacaranya, Jim Hornstein, ia menyebut keputusan World Press Photo untuk menangguhkan atribusi sebagai ”menyedihkan dan tidak profesional”. Pernyataan tersebut menambahkan bahwa klaim Nghe ”tidak didukung oleh sedikit pun bukti pendukung atau saksi mata”.
Perdebatan akan atribusi pada foto tersebut hingga kini masih ramai dibahas di berbagai forum di kalangan pewarta foto. Pro kontra akan kepemilikan atribusi juga mencuat dengan tuntutan pada penegakan etika jurnalistik dan kejujuran Nick Ut. Hingga sekarang, kita masih menunggu sampai kapan polemik ini akan menemukan ujung penyelesaian.
Penulis:
Iwan SetiyawanEditor:
Demitrius Wisnu WidiantoroPenyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul