Wajah Masa Depan Sepak Bola Putri ”Tanah Mataram”

Kekalahan itu menyakitkan, tapi memberi pelajaran. Dengan pembinaan tepat, pemain belia berpotensi jadi wajah masa depan pesepak bola ”Tanah Mataram” dan Indonesia.

29 Okt 2024 11:41 WIB · Olahraga

Oleh Rebiyyah Salasah - [email protected]

Fathiya Mumtaza (10) tak bisa lagi menahan air matanya. Tangisan pemain SD Muhammadiyah Sapen B itu pecah setelah wasit meniup peluit panjang. Laga perempat final kelompok umur 10 tahun turnamen sepak bola putri MilkLife Soccer Challenge, Sabtu (26/10/2024), berakhir dengan kemenangan tim lawan, SD Muhammadiyah Sokonandi 2, dengan skor 2-0.

Kendati sudah dihibur sang ayah sejak dari pinggir lapangan, tangisan Fathiya tak kunjung berhenti. Fathiya masih menangis saat sudah duduk di tribune selepas pertandingan. Kekalahan tetap menyakitkan, bahkan bagi anak sekecil Fathiya.

Nurul Hidayah (36), ibunda Fathiya yang turut menenangkan di tribune, memahami kesedihan anaknya. Fathiya ingin sekali membawa timnya menang dan melaju jauh, melebihi langkah pada seri pertama yang terhenti pada fase grup.

Tekad kuat itu diwujudkan Fathiya dengan berlatih lebih keras. Selain di sekolah, anak kelahiran 28 Agustus 2014 itu juga melakoni latihan tambahan bersama siswi SD lain yang terpilih untuk calon tim All Star dari Yogyakarta.

Pemain SD Muhammadiyah Sapen B, Fathiya Mumtaza (jersei pink), merebut bola dalam laga melawan SD Muhammadiyah Sokonandi 2 pada babak perempat final MilkLife Soccer Challenge seri kedua Yogyakarta di Stadion Tridadi, Sleman, DI Yogyakarta, Sabtu (26/10/2024).
Pemain SD Muhammadiyah Sapen B, Fathiya Mumtaza, ditenangkan sang ayah setelah menelan kekalahan dari SD Muhammadiyah Sokonandi 2 pada babak perempat final MilkLife Soccer Challenge seri kedua Yogyakarta di Stadion Tridadi, Sleman, Sabtu (26/10/2024).
Pemain SD Muhammadiyah Sapen B, Fathiya Mumtaza, dihibur orangtuanya selepas kekalahan dalam laga melawan SD Muhammadiyah Sokonandi 2 pada babak perempat final MilkLife Soccer Challenge seri kedua Yogyakarta di Stadion Tridadi, Sleman, Sabtu (26/10/2024).

”Memang bikin sedih, tetapi kekalahan ini bagus agar Fathiya tidak cepat merasa puas. Jadi bersemangat latihan dan belajar lagi. Kekalahan juga bagus buat perkembangan mentalnya. Dia belajar meluapkan dan mengelola emosi saat mengalami kekalahan atau bahkan kemenangan. Intinya belajar mengenali diri sendiri,” tutur Nurul.

Nurul juga melihat keikutsertaan Fathiya dalam sepak bola putri tak hanya sekadar menyalurkan minat olahraganya. Sepak bola putri juga menjadi wadah anak sulungnya itu mengekspresikan diri sekaligus memperluas pertemanan.

Maka, Nurul tak mempermasalahkan ketika Fathiya meminta ikut tim sepak bola putri di sekolah dan mengikuti turnamen. ”Saya bilang ke dia, yang penting identitas tetap harus melekat, bahwa dia muslim, perempuan, dan Muhammadiyah. Saya juga bangga karena dia bisa menikmatinya. Bayangkan, anak yang cukup introvert bisa berolahraga beregu seperti sepak bola,” tutur ibu dua anak ini.

Fathiya juga menunjukkan peningkatan kemampuan berkat intensitas latihan yang bertambah dalam waktu tiga bulan. Dia kian tajam. Dari 1 gol seri pertama, Fathiya pun mampu mencetak hingga 27 gol pada seri kedua.

Terlepas dari jumlah pertandingan yang dilakoni lebih banyak, kemampuan Fathiya dalam mengolah si kulit bulat juga memang meningkat. Meski keinginan untuk menjadi juara belum terwujud, lara hati Fathiya terobati setelah dinobatkan sebagai pencetak gol terbanyak. Hingga hari terakhir turnamen, Minggu (27/10/2024), tidak ada yang mampu mengejar torehan golnya.

Sementara itu, konsistensi ditunjukkan Fiona Andara Puri (12) yang sejak seri pertama selalu menghuni papan atas daftar pencetak gol. Siswi SDN Graulan ini mengoleksi 17 gol pada seri pertama dan meningkatkannya menjadi 20 gol pada seri kedua.

Namun, seperti Fathiya, Fiona juga bersedih lantaran timnya gagal melangkah jauh dan keluar sebagai juara. Timnya terhenti pada babak 16 besar. Padahal, Fiona ingin mencicipi rasanya juara setelah pada seri pertama kalah pada babak final.

Pemain SDN Graulan Kulon Progo, Fiona Andara Puri, menguasai bola dalam laga fase grup kelompok umur 12 tahun turnamen sepak bola putri MilkLife Soccer Challenge seri dua Yogyakarta melawan SD Dukuh 2 Sleman B di Stadion Tridadi, Sleman, Jumat (25/10/2024).

”Enggak terlalu mikirin jadi top scorer atau pemain terbaik, lebih ingin jadi juara. Yang penting tim aku menang,” tutur Fiona sebelum timnya gagal menembus perempat final setelah takluk dari SDN Nanggulan.

Fathiya, Fiona, dan pemain-pemain belia lain merasakan sedih dan sakitnya kalah dalam sebuah pertandingan. Namun, kekalahan itu akan menempa mereka. Fathiya dan kawan-kawan berpotensi menjadi wajah-wajah yang menghiasi sepak bola putri ”Tanah Mataram”, khususnya Yogyakarta, pada masa depan.

Yogyakarta dikenal sebagai ”lumbung” pesepak bola putri. Sejak timnas sepak bola putri Indonesia terbentuk pada tahun 1970-an, Yogyakarta hampir tidak pernah absen mengirimkan wakilnya.

Di skuad timnas saat ini ada nama Octavianti Dwi Nurmalita. Sejak 2018, Octa sudah dipanggil untuk seleksi timnas. Dia kemudian terpilih mengisi skuad timnas setahun kemudian.

Gelandang Indonesia, Octavianti Dwi Nurmalita (tengah), berada badan untuk berebut bola dengan bek Filipina, Dominique Randle, pada laga terakhir Grup B Piala Asia Putri 2022, Kamis (27/1/2022) malam WIB, di Stadion di Stadion Kompleks Olahraga Shree Shiv Chhatrapati, Kota Pune, India. Indonesia menutup laga fase grup tanpa mampu meraih poin dan gagal mencetak gol dalam tiga laga.

Pemain timnas era 2004-2018 asal Yogyakarta, Tugiyati Cindy, mengatakan, potensi-potensi seperti Fathiya, Fiona, dan pemain belia lain merupakan keniscayaan dari kehadiran turnamen di provinsi tersebut. Semakin muda kelompok usia yang disasar turnamen, semakin awal bakat-bakat bisa ditemukan dan diasah nantinya.

Cindy mengatakan, turnamen untuk usia sekolah juga mengenalkan sepak bola putri ke publik. Kendati sepak bola putri di Yogyakarta tidaklah asing, tetapi masih ada orang-orang yang juga masih tidak tahu kehadirannya. Tidak sedikit pula orangtua yang masih terbelenggu stigma.

”Bagusnya ada turnamen seperti ini, keluarga bisa melihat bahwa sepak bola putri itu ada. Waktu saya seusia mereka dan main bola, saya sampai menangis karena kakak saya tidak mendukung. Katanya, anak perempuan masak saja di dapur, untuk apa main bola. Waktu itu kakak saya tidak tahu bahwa perempuan juga bisa bermain bola,” tutur Cindy.

Mantan pemain timnas sepak bola putri Indonesia yang berasal dari Yogyakarta, Tugiyati Cindy, berpose di Lapangan Sepak Bola Klebengan, Sleman, DIY, Sabtu (28/10/2024).

Cindy pun berharap, dengan semakin awal bakat-bakat sepak bola putri ditemukan, akan semakin banyak pemain yang nantinya bisa membawa nama Yogyakarta di timnas. Dengan demikian, Yogyakarta benar-benar membuktikan sebagai ”lumbung” pemain.

Pembinaan tepat

Harapan serupa disampaikan Anggar Kaswati, mantan pemain klub Putri Mataram dan timnas era 1980-an. Menurut Anggar, pemain-pemain belia berpotensi menjadi wajah masa depan sepak bola putri Yogyakarta dan Indonesia asalkan mendapatkan pembinaan yang tepat.

Tidak cukup dengan turnamen antarsekolah dasar, seperti MilkLife Soccer Challenge, Anggar menilai butuh turnamen lebih banyak untuk mengasah kemampuan anak-anak tersebut. Dalam beberapa tahun terakhir, sangat sedikit turnamen sepak bola putri di Yogyakarta.

Pada tahun ini saja, kata Anggar, hanya ada turnamen Piala Pertiwi regional yang kembali digelar setelah batal dilaksanakan pada 2023. Anggar, yang pernah mendirikan dan mengelola klub Putri Bantul, mengingat, agar kemampuan anak-anak teruji di pertandingan, dia tak jarang membawa timnya ke kota lain untuk turnamen.

Mantan pemain timnas sepak bola putri Indonesia yang berasal dari Yogyakarta, Anggar Kaswati, menunjukkan foto tim Putri Bantul di rumahnya di Kasihan, Bantul, DIY, Sabtu (28/10/2024). Anggar juga merupakan mantan pemain Putri Mataram.

Dari upaya itu, muncul nama-nama yang kemudian dipanggil timnas sejak usia muda. Pada 2009, misalnya, ada tiga pemain didikan Anggar yang dipanggil memperkuat timnas U-16. Mereka adalah Madwa Ashumti, Isnaini Mukti Sari, dan Vera Lestari.

Anggar menilai, pembinaan yang belum sepenuhnya berjalan itu juga berpengaruh terhadap prestasi tim Yogyakarta dalam perhelatan nasional. Provinsi ini belum pernah sekali pun menjuarai Piala Pertiwi nasional. Prestasi di PON juga belum membanggakan.

Saat sepak bola pertama kali dipertandingkan di PON Papua 2021, Yogyakarta tidak lolos kualifikasi. Tiga tahun berselang di PON Aceh-Sumut 2024, tim tersebut lolos kualifikasi, tetapi langkahnya tidak bisa melebihi fase grup.

”Jika tidak ada perbaikan sistem pembinaan, mungkin di timnas juga akan kehabisan wakil dari Yogyakarta,” ucap Anggar.

Kekhawatiran Anggar masuk akal mengingat Octa saat ini hanya satu-satunya pemain Yogyakarta yang menghuni timnas. Pemain yang berusia di bawah Octa bahkan tidak ada yang berhasil menembus timnas kelompok umur.

Infografik Momen Penting Sepak Bola Putri Indonesia

Hanya ada dua pemain asal Yogyakarta yang dipanggil seleksi untuk timnas U-17 pada Maret 2024. Mereka adalah Amalia Ramadhani dan Olivia Kurniawan. Namun, mereka tidak lolos seleksi.

Kekhawatiran serupa disampaikan Sri Hastuti, mantan pemain timnas dan pelatih klub Putri Mataram. Itut, panggilannya, pun seperti Anggar yang kerap membawa anak-anak asuhnya turnamen ke luar kota.

Pekan depan contohnya, Itut membawa timnya ke Palangkaraya, Kalimantan Tengah, untuk ikut turnamen sepak bola putri di sana.

”Pembinaan di Yogyakarta mandiri semua. Ibarat pohon, yang seharusnya melakukan pembinaan, hanya ingin memetik buahnya, tanpa mau menanam, apalagi merawat,” kata Itut.

”Selain itu, klub juga berjalan sendiri-sendiri. Kalau bersatu dan menghilangkan ego masing-masing, tim Jogja masih lebih kuat,” tutur Itut.

Ekspresi kontras pemain MIS Al Islamiyah Grojogan (jersei biru dan pink) dan SDN 2 Wonoharjo pada pertandingan final kelompok umur 12 tahun pada turnamen MilkLife Soccer Challenge seri kedua Yogyakarta di Stadion Tridadi, Sleman, Minggu (27/10/2024).
Duel pemain SD Muhammadiyah Sapen (jersei merah) dengan pemain SD Muhammadiyah Sokonandi 2 pada pertandingan final kelompok umur 10 tahun di MilkLife Soccer Challenge seri kedua Yogyakarta di Stadion Tridadi, Sleman, Minggu (27/10/2024).
Pemain MIS Al Islamiyah Grojogan meloncat ketika menjadi "pagar hidup" untuk tendangan bebas yang dilakukan pemain SDN 2 Wonoharjo, pada pertandingan final kelompok umur 12 tahun di MilkLife Soccer Challenge seri kedua Yogyakarta melawan MIS Al Islamiyah Grojogan di Stadion Tridadi, Sleman, Minggu (27/10/2024).
Para pemain SD Muhammadiyah Sokonandi 2 merayakan gol ke gawang SD Muhammadiyah Sapen B dalam laga babak perempat final MilkLife Soccer Challenge seri kedua Yogyakarta di Stadion Tridadi, Sleman, Sabtu (26/10/2024).
Para pemain SDN 2 Wonoharjo menangis setelah timnya kalah adu penalti 4-5 melawan MIS Al Islamiyah Grojogan pada pertandingan final kelompok umur 12 tahun pada turnamen MilkLife Soccer Challenge seri kedua Yogyakarta di Stadion Tridadi, Sleman, Minggu (27/10/2024). Laga dilanjutkan ke babak adu penalti setelah kedua tim bermain imbang 2-2 dalam waktu normal 2x15 menit.
Pemain SD Muhammadiyah Sapen hendak melempar bola saat melawan SD Muhammadiyah Sokonandi 2 pada pertandingan final kelompok umur 10 tahun di MilkLife Soccer Challenge seri kedua Yogyakarta di Stadion Tridadi, Sleman, Minggu (27/10/2024).
Para pesepak bola putri belia dari MIS Al Islamiyah Grojogan berjalan didampingi orangtua masing-masing sebelum memulai pertandingan final kelompok umur 12 tahun di MilkLife Soccer Challenge seri kedua Yogyakarta melawan SDN 2 Wonoharjo di Stadion Tridadi, Sleman, Minggu (27/10/2024).
Kiper menangkap bola dalam laga fase grup kelompok umur 12 tahun turnamen sepak bola putri MilkLife Soccer Challenge seri dua Yogyakarta di Stadion Tridadi, Sleman, Jumat (25/10/2024).
Pemain SDN 2 Wonoharjo kesakitan setelah berbenturan dengan pemain MIS Al Islamiyah Grojogan dalam pertandingan final kelompok umur 12 tahun di MilkLife Soccer Challenge seri kedua Yogyakarta di Stadion Tridadi, Sleman, Minggu (27/10/2024).
Pergantian pemain dilakukan tim SDN 2 Wonoharjo pada pertandingan final kelompok umur 12 tahun pada turnamen MilkLife Soccer Challenge seri kedua Yogyakarta melawan MIS Al Islamiyah Grojogan di Stadion Tridadi, Sleman, Minggu (27/10/2024).
Pemain mengejar bola dalam pertandingan fase grup kelompok umur 12 tahun turnamen sepak bola putri MilkLife Soccer Challenge seri dua Yogyakarta di Stadion Tridadi, Sleman, Jumat (25/10/2024).
Para pemenang turnamen kelompok umur 10 tahun (U-10) dan U-12 MilkLife Soccer Challenge seri kedua Yogyakarta merayakan keberhasilan mereka di Stadion Tridadi, Sleman, Minggu (27/10/2024).

Sebelumnya, Vivin Cahyani, anggota Komite Eksekutif PSSI yang memegang tanggung jawab untuk timnas putri, mengatakan, memang tidak mudah bagi Asosiasi Provinsi PSSI untuk menggelar turnamen secara konsisten. Pihaknya pun akan mencoba mengevaluasi proses pembinaan yang berjalan di daerah.

Namun, dia berharap Asosiasi Provinsi juga lebih aktif dan kreatif membina para pesepak bola putri di daerah. Dengan segala keterbatasan, termasuk keterbatasan dana, pembinaan harus tetap berjalan untuk menyokong timnas.

Fathiya, Fiona, dan pesepak bola putri belia lain ramai-ramai memiliki mimpi baru. Mereka ingin menjadi pesepak bola yang membela Yogyakarta dan timnas Indonesia. Namun, tanpa pembinaan yang tepat, wajah-wajah masa depan ini hanya akan menjadi bakat yang terabaikan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Rebiyyah Salasah
 | 

Editor:

Emilius Caesar Alexey