Wamendiktisaintek: Bangun SDM Dulu, Baru Lapangan Kerja

Pemerintah akan lebih fokus membangun sumber daya manusianya sembari terus berupaya memperluas lapangan pekerjaan.

26 Apr 2025 16:54 WIB · Humaniora

Oleh Stephanus Aranditio

JAKARTA, KOMPAS — Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie menilai bahwa lapangan kerja tidak bisa serta-merta tercipta tanpa sumber daya manusia yang unggul. Karena itu, pemerintah akan lebih fokus membangun manusianya sembari terus berupaya memperluas lapangan kerja.

Hal ini disampaikan Stella saat orasi ilmiahnya kepada ratusan wisudawan sarjana dan pascasarjana Universitas Yarsi, Jakarta, Sabtu (26/4/2025). Menurut dia, hubungan antara sumber daya manusia (SDM) dan lapangan kerja tidaklah sejajar. Lapangan kerja tidak akan ada jika tidak ada SDM unggul yang menciptakannya.

”Jadi (mengupayakan) SDM yang berkualitas itulah yang harus dilakukan terlebih dahulu untuk menciptakan lapangan pekerjaan. Ini menjadi poin yang sangat penting yang saya rasa kurang diperhatikan pada akhir-akhir ini,” kata Stella.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie saat orasi ilmiahnya kepada ratusan wisudawan sarjana dan pascasarjana Universitas Yarsi, Jakarta, Sabtu (26/4/2025).

Pemerintah, lanjut Stella, memang berperan besar dalam memperluas lapangan kerja untuk memberi pekerjaan pada masyarakat. Namun, pemerintah juga dikelola oleh manusia akan lebih fokus mengembangkan SDM melalui pendidikan.

”Jadi, orangnya dulu (dikembangkan) oleh universitas dan dia akan menciptakan lapangan-lapangan kerja yang bisa diisi oleh orang-orang yang berkualitas yang datang dari universitas tersebut,” ujarnya.

Quote

AI adalah alat, bukan yang didewakan.

Untuk itu, pemerintah mendorong mahasiswa untuk menguasai kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sebelum lulus dan masuk ke dunia kerja. Sebab, AI bisa menggantikan pekerjaan manusia jika manusianya tidak beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Stella mengatakan, setiap mahasiswa setidaknya menguasai tiga kemampuan beradaptasi dengan AI, yaitu literasi AI, pembuatan keputusan, dan pikiran manusia. Literasi digital yang baik diperlukan karena tidak semua hasil dari proses kerja AI benar dan cenderung bias, serta belum tentu sesuai dengan konteks yang dimaksud penggunanya.

Mengandalkan AI sepenuhnya, kata Stella, dapat menyebabkan orang gagal dalam membedakan antara pengetahuan yang akurat dan informasi yang tampaknya masuk akal, tetapi sebenarnya keliru.

”Tetap harus ada manusianya yang berpikir dan mengetahui bagaimana pola-polanya. Kalau kita punya literasi AI kita bisa memutuskan dan mengintepretasikan segala sesuatu yang dikeluarkan oleh AI,” ujarnya.

Kemudian, lanjut Stella, meski sudah memiliki literasi akal imitasi (AI) dan membuat keputusan dengan mempertimbangkan AI dengan mumpuni, seseorang tetap harus memperkuat rasa dan pikirannya sebagai seorang manusia. AI hanya sebagai alat bantu manusia yang tidak bisa menggantikan humanisme.

Oleh karena itu, setiap mahasiswa harus memiliki kemampuan untuk berpikir kritis dan analitik, membagi waktu, berkomunikasi, dan berkolaborasi dengan orang lain. Dari SDM yang unggul tersebut, inovasi-inovasi baru akan lahir dan terus berkembang.

”Kalau kita membuat segala sesuatu kita harus juga menggunakan AI, tetapi juga memikirkan manusia penggunanya. AI adalah alat, bukan yang didewakan,” ucapnya.

Stella menekankan, pemanfaatan AI di institusi pendidikan tinggi Indonesia perlu meningkatkan efisiensi untuk menyederhanakan dan mempersingkat proses pendidikan dan tugas administratif. Lalu, mendukung pengembangan diri dan pengetahuan baru bagi mahasiswa dan pendidik.

Pengujung melihat AI Trns Screen, salah satu teknologi berbasis kecerdasan buatan yang dipamerkan dalam ajang GITEX ASIA 2025 x Ai Everything Singapore yang berlangsung di Marina Bay Sands, Singapura, Kamis (24/4/2025)

Kemudian, kemampuan berpikir kritis terhadap efektivitas AI harus selalu dilakukan dengan secara mendalam sebelum dan sesudah penerapannya. Terakhir, perlu dirumuskan adanya panduan kebijakan untuk memberikan arahan kepada institusi pendidikan tentang integrasi AI yang efektif dalam pendidikan.

Rektor Universitas Yarsi, Fasli Jalal menambahkan, sebagai perguruan tinggi, pihaknya sudah turut berupaya mengembangkan SDM unggul dengan mendirikan AI Center. Pemanfaatan AI di Universitas Yarsi telah dilakukan dalam berbagai pengajaran, penelitian, dan pengabdian di bidang kesehatan.

AI Center Yarsi telah melahirkan tiga hak paten, yaitu terkait pembuatan model dan sistem untuk mendukung diagnosis kanker serviks, diagnosis hipospadia, dan diagnosis osteoporosis.

”Jadi, wisudawan yang lulus sekarang, hadapilah megatrend dan disrupsi masa depan ini dengan percaya diri, jadilah pembelajar sepanjang hayat, tingkatkan berpikir analitik dan kreatif,” kata Fasli.


Kerabat Kerja

Penulis:

Stephanus Aranditio
 | 

Editor:

Nasrullah Nara
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase