Wapres Gibran: Anak Muda Diharapkan Jadi Penggerak Inovasi Pertanian

Inovasi pertanian itu terentang dari mekanisasi sampai pemanfaatan akal imitasi. Diharapkan, cara-cara itu mendongkrak produksi pertanian nasional.

25 Sep 2025 20:57 WIB · Politik & Hukum

Oleh Nino Citra Anugrahanto

BANYUASIN, KOMPAS — Wakil Presiden Gibran Rakabuming menekankan pentingnya peran generasi muda dalam industri pertanian. Baginya, anak-anak muda mesti menjadi penggerak inovasi pertanian guna meningkatkan produktivitas pertanian. Bukan hanya anak muda berpendidikan formal yang didorong berinovasi, para santri turut diminta ikut menguasai perkembangan teknologi pertanian. 

Pesan itu disampaikan Wapres Gibran saat menghadiri panen raya jagung di Desa Mulya Sari, Kecamatan Tanjung Lago, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, Kamis (25/9/2025).

Turut hadir mendampinginya sejumlah pejabat lain, seperti Kepala Staf Kepresidenan M Qodari, Pelaksana Tugas Sekretaris Wapres Al Muktabar, Staf Khusus Wapres Tina Talisa, Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru, Bupati Banyuasin Askolani Jasi, serta 950 petani Desa Mulya Sari yang ikut memanen jagung di lahan mereka. 

”Tolong, ini anak-anak muda diberikan kesempatan untuk riset, R&D (riset dan pengembangan), penggunaan mekanisasi untuk peningkatan produksi,” sebut Wapres Gibran dalam keterangan tertulis yang diterima, Kamis petang.

Wakil Presiden Gibran Rakabuming menghadiri panen raya jagung, di Desa Mulya Sari, Kecamatan Tanjung Lago, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, Kamis (25/9/2025). Lahan panen itu

Sederet tantangan pertanian terkini, jelas Wapres Gibran, bisa teratasi melalui riset dan pengembangan yang mumpuni. Tak melulu mendongkrak produktivitas, tetapi diversifikasi produk turunan komoditas pertanian bisa ikut ditemukan pula. Untuk itu, kemauan anak-anak muda menggeluti riset dalam sektor itu akan sangat krusial menghadapi waktu-waktu mendatang. 

Di sisi lain, Gibran menyatakan, pemerintah juga akan terus memberikan dukungan untuk mengoptimalkan produksi pertanian nasional. Lebih-lebih untuk daerah-daerah yang menjadi lumbung pangan. Ini sejalan dengan visi Presiden yang menginginkan swasembada pangan.

Wujud dukungan itu antara lain infrastruktur pertanian dan kemudahan distribusi. Upaya pengendalian harga juga terus dilakukan agar petani bisa memperoleh kesejahteraan yang lebih baik dari hasil panennya.

”Banyuasin ini salah satu lumbung pangan, lumbung jagung terbesar ketiga di Sumsel. Ini kita sebagai pembantu Presiden, kita pastikan program prioritas beliau, visi dan misi beliau, yang salah satunya adalah swasembada pangan, bisa berjalan dengan baik,” kata Wapres Gibran.

Yayasan Panglima Besar Soedirman bekerja sama dengan Lookheed UAV Research Insitute mengembangkan drone atau pesawat tanpa awak untuk menyemprotkan pupuk cair di lahan pertanian. Dengan drone, per hektar sawah bisa disemprot pupuk cair hanya dalam waktu 16 menit. Tampak drone bersiap terbang menyemprotkan pupuk di sawah di Desa Limbasari, Kecamatan Bobotsari, Purbalingga, Jawa Tengah, Senin (22/5).Kompas/Megandika Wicaksono (DKA)22-05-2017

Tak hanya itu, pemerintah juga telah mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 10 Tahun 2025 tentang Pengadaan dan Pengelolaan Jagung Dalam Negeri serta Penyaluran Cadangan Jagung Pemerintah. 

Berdasarkan aturan itu, pemerintah menetapkan target pengadaan jagung pipilan kering yang bersumber dari dalam negeri sebesar 1 juta ton pada tahun 2025. Harga pembelian pemerintah juga telah ditetapkan sebesar Rp 5.500 per kilogram. Adapun kadar airnya ditentukan 18-20 persen. 

Menurut Wapres Gibran, regulasi itu memastikan perlindungan harga di tingkat petani. Serapan jagung dalam negeri juga terjamin. Pemerintah pun memiliki program Koperasi Merah Putih yang dinilai mampu memperbesar skala usaha sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani. 

”Saya mohon nanti kita sama-sama mengawal ini. Apalagi sekarang sudah ada Koperasi Merah Putih. Jadi, nanti harapannya bisa menjadi salah satu instrumen untuk mempermudah dan meningkatkan skala ekonomi para petani dan juga meningkatkan produksi para petani,” kata Wapres Gibran.

Peresmian Koperasi Desa Merah Putih Holtekamp, Kota Jayapura, Papua, Senin (21/7/2025).

Sementara itu, Gubernur Sumsel Herman Deru menyampaikan, wilayah yang dipimpinnya memiliki tiga tantangan utama, yakni kemacetan, kerusakan jalan, dan ketiadaan pelabuhan. Masalah kemacetan terjadi di ruas Palembang-Betung. Pemicunya ialah lambatnya penyelesaian tol Kapal Betung. 

Herman melanjutkan, kerusakan jalan terjadi di jalan lintas tengah dan timur akibat kendaraan-kendaraan kelebihan muatan. Terakhir, tidak adanya pelabuhan samudra turut menghambat distribusi hasil pertanian. Untuk itu, pelabuhan sungai yang masih diandalkan.

Masalah-masalah itu, sebut Herman, sangat mendesak untuk segera diselesaikan. Ia meyakini, teratasinya permasalahan tersebut akan mengoptimalkan peranan wilayah itu sebagai lumbung pangan nasional. 

”Kami berharap hari ini Bapak (Wapres) bisa berkeliling di tempat-tempat yang strategis untuk dapat memberikan semangat bagi kami semua dan bagi seluruh masyarakat Sumatera Selatan,” jelas Herman. 

Ketua Kelompok Tani Laju Bersama, Koris Sajuna mengecek tanaman jagung di Desa Manusak, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, NTT, Sabtu (21/9/2024). Lahan pertanian ini berjarak 5 km dari Bendungan Raknamo. Bendungan itu dapat menyuplai kebutuhan air bagi 841 hektar areal lahan pertanian di Kupang sehingga mengubah daerah yang semula tandus itu menjadi salah satu sentra pertanian di NTT. KOMPAS/AGUS SUSANTO (AGS) 21-9-2024 untuk koko

Santri dan tani

Panen raya yang dikunjungi Wapres Gibran itu diadakan Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPPNU) bersama Pondok Pesantren Bahrul Ulum Muliasari. Dari lokasi itu, lahan yang ditanami jagung seluas 4.453 hektar dan diproyeksikan menghasilkan 26.718 ton jagung. Adapun total luas lahan yang dimiliki LPPNU di Banyuasin mencapai 10.000 hektar. 

Dalam kunjungannya, Wapres juga bersilaturahmi dengan para kiai, tokoh agama, guru, dan santri dari pondok pesantren tersebut. Lewat kehadirannya, ia ingin menegaskan peran pesantren yang tak melulu berkutat pada pendidikan agama, tetapi juga menggerakkan penguasaan teknologi yang relevan dengan kebutuhan negeri, termasuk pertanian. 

Quote

Ini ada berapa ratus santri di sini, santri-santriwati? 700 orang? Masih muda-muda semua, ya? Nanti harapannya ini ke depan bisa diperbantukan, bisa ikut serta dalam sektor pertanian.

Sebagai bagian dari generasi muda, para santri juga didorong ikut mengembangkan inovasi pertanian. Menurut Wapres, tingginya kreativitas anak muda memiliki potensi besar guna mendukung mekanisasi dan digitalisasi pertanian, baik melalui pemanfaatan akal imitasi (AI) maupun penggunaan pesawat nirawak (drone). 

Wakil Presiden Gibran Rakabuming menyapa para santri dan santriwati di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Muliasari, di Banyuasin, Sumatera Selatan, Kamis (25/9/2025).

”Ini ada berapa ratus santri di sini, santri-santriwati? 700 orang? Masih muda-muda semua, ya? Nanti harapannya ini ke depan bisa diperbantukan, bisa ikut serta dalam sektor pertanian,” kata Wapres Gibran. 

Pada momen itu, ia juga menyoroti pentingnya sinergi antara pemerintah dan organisasi keagamaan seperti pesantren dan PBNU. Keikutsertaan lembaga semacam itu sejalan pula dengan program kemandirian pangan Presiden Prabowo. Ini menunjukkan bukti nyata soal kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat. 

”Tadi pagi, sebelum ke pondok ini, kami sempatkan dulu untuk melakukan panen jagung. Terima kasih sekali, ini karena keluarga besar NU sudah selaras bersinergi dengan program dari Bapak Presiden, yaitu program swasembada pangan,” kata Gibran.


Kerabat Kerja

Penulis:

Nino Citra Anugrahanto
 | 

Editor:

C. Wahyu Haryo P
 | 

Penyelaras Bahasa:

Amin Iskandar