Banyak ketimpangan di NTT memerlukan akselerasi kebijakan yang lebih luas. Bagi-bagi bantuan tidak bisa menyelesaikan persoalan secara utuh.
07 Mei 2025 08:24 WIB · Nusantara
Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka berkunjung ke sejumlah wilayah di Nusa Tenggara Timur selama dua hari berturut-turut mulai Selasa (6/5/2025). Dalam kunjungan itu, ia membagikan berbagai bantuan kepada masyarakat.
Dikutip dari laman wapresri.go.id, salah satu lokasi penyerahan bantuan adalah di Kelurahan Wolomarang, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka, pada Selasa pagi. Di tempat itu, Gibran menyerahkan 100 unit paket bantuan, antara lain alat tangkap, kepada nelayan.
Pesisir Wolomarang merupakan salah satu kampung nelayan yang memasok ikan bagi warga Kabupaten Sikka dan sekitarnya. Ekonomi masyarakat ditopang sektor perikanan tetapi kerap pasang surut. Kemiskinan menggurita di sana.
Gabriel Mboe, nelayan, juga mengungkapkan harapannya langsung kepada Gibran. Ia mengeluhkan keterbatasan cold storage dan es balok. Di luar itu, nelayan lain mengeluh kelangkaan bahan bakar minyak yang masih sering terjadi. Belum lagi, harga pasar yang sering tidak berpihak. Juga ketiadaan industri pengolahan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/06/17b1b30cf3ac8841c804dee0dc78dcc7-IMG_20250506_WA0224.jpg)
Kondisi ini menguak persoalan sektor perikanan yang merambat dari hulu ke hilir, dan mendesak dibenahi pemerintah. Jadi, tak cukup sekadar membagi alat tangkap. Lebih dari itu, butuh kebijakan yang terintegrasi.
Data Dinas Kelautan dan Perikanan NTT menyebutkan, laut di NTT membentang seluas 191.484 kilometer persegi dengan potensi perikanan tangkap sebanyak 393.360 ton. Dari potensi itu, baru 48,55 persen yang sudah dikelola.
Gibran berjanji akan mengoordinasikan persoalan perikanan dengan berbagai pihak. Ia memastikan pemerintah berkomitmen memperkuat sektor kelautan dan perikanan sebagai salah satu pilar penting dalam pembangunan nasional.
Gibran juga mengunjungi petani setempat dan menyerahkan alat pertanian. Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena mengatakan, kehadiran Gibran sebagai bentuk dukungan terhadap persiapan NTT menjadi lumbung pangan nasional.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/06/b66341db2cf9086f478f6c8bf383eead-IMG_20250506_WA0246.jpg)
Sejauh ini, NTT masih jauh dari swasembada pangan sehingga butuh percepatan jika ingin menjadi lumbung pangan. Sebagian besar pangan NTT dipasok dari luar. Beras, misalnya, kurang dari 30 persen yang dihasilkan dari petani lokal.
Banyak tentangan, seperti dari sisi kebijakan nasional yang belum memberikan dukungan terhadap keberagaman pangan. Pemerintah masih fokus pada padi, jagung, dan kedelai, sementara wilayah NTT yang didominasi lahan kering lebih cocok pisang, umbi-umbian, dan kacang-kacangan.
Gibran juga menyambangi sekolah dengan membagi peralatan belajar. Namun, muncul harapan akan adanya akselerasi kebijakan pemerintah pusat untuk memajukan pendidikan di NTT, antara lain pembangunan gedung sekolah, jaringan internet hingga pelosok, dan kesejahteraan guru honorer.
NTT hari ini masih berkutat pada baca tulis. Indeks literasi untuk tingkat sekolah menengah atas di NTT tahun 2024 masih rendah. Pada kategori baik hanya 24,7 persen, kategori sedang 25,80 persen, kategori kurang 25,36 persen, dan kategori paling rendah dari semua kategori 24,15 persen.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/03/28/c1617bab-ec15-48a1-8fcc-5b8f0c37932f.jpg)
Pengamat politik dari Universitas Katolik Widya Mandira, Kupang, Mikhael Rajamuda Bataona, mengatakan, cara Gibran melakukan blusukan sambil membagi-bagi bantuan adalah cara khas Joko Widodo, mantan presiden yang juga ayah Gibran. ”Gibran coba menjahit citra dirinya sebagai Jokowi,” ujar Mikhael.
Menurut Mikhael, oleh Gibran, politik dipraktikkan dalam budaya konteks tinggi atau high-context culture melalui simbol yang tersirat. Gibran menyamarkan maksud dan tujuannya untuk dipersepsi sebagai Jokowi. Membagikan bantuan jadi salah satu cara.
Namun, Mikhael berharap bantuan harus diarahkan untuk mendorong masyarakat masuk laut, masuk lahan pertanian, atau memelihara ternak. Bukan bantuan diberikan untuk melemahkan daya juang, membunuh kreativitas, dan memelihara ketergantungan struktural.
Ia melihat ada semacam sindrom ketergantungan yang makin menguat di tengah masyarakat. Kondisi itu sengaja dipupuk terutama oleh kalangan politisi. Bukan hal baru apabila para elit berkuasa mempertahankan kursi mereka lewat guyuran bantuan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/03/16/6fb8b2bc-f223-486e-afb8-faf745ca762c_jpg.jpg)
"Ini sejalan dengan tesis paling terkenal dari filsuf Amartya Sen bahwa kemiskinan tidak semata-mata karena lack of income, tapi lebih dipengaruhi lack of capability. Orang menjadi miskin karena rendahnya kapabilitas untuk berjuang menjadi mandiri,” katanya.
Mikhael mengingatkan, yang dibutuhkan NTT adalah dukungan dana pembangunan infrastruktur pendidikan, internet ke desa-desa, air bersih, jalan, dan listrik. Selain itu, pengentasan masalah stunting, kemiskinan ekstrem, gizi buruk, serta pencegahan penyakit pada hewan, seperti demam babi afrika.
Sepanjang Selasa siang hingga petang, Gibran mengunjungi sejumlah tempat di Pulau Flores. Ia kemudian terbang ke Kupang. Malamnya, ia datang ke pelataran Kantor Gubernur NTT untuk menyaksikan pentas budaya. Rabu (7/5/2025) hari ini ia akan kembali ke Jakarta.
Pemerintah daerah dan masyarakat NTT menyambut baik kunjungan Gibran. Selalu ada harapan bahwa kunjungan itu akan diikuti lahirnya kebijakan dalam skala lebih luas untuk memajukan NTT. Jangan sampai sebatas bagi-bagi bantuan atau hanya gimmick politik.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/07/95a889cc3be31a787a6a1e8a9a16ac1c-1000829939.jpg)
Penulis:
Fransiskus Pati HerinEditor:
Rini KustiasihPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari