Sejumlah elemen masyarakat menggelar aksi di Banda Aceh menuntut pemerintah lebih serius menangani bencana. Banyak warga belum merasakan perhatian yang memadai.
18 Des 2025 18:06 WIB · Lingkungan
KOMPAS/ADRIAN FAJRIANSYAH
BANDA ACEH, KOMPAS — Sejumlah kalangan menggelar aksi bendera putih di Banda Aceh, Aceh. Mereka menuntut pemerintah lebih serius dan tidak setengah hati menangani dampak bencana ekologis di Sumatera, terutama di Aceh.
Aksi ini diinisiasi sejumlah elemen masyarakat yang tergabung dalam Koalisi Masyarakat Sipil Aceh Peduli Bencana Sumatera. Ada ratusan warga yang turut serta, baik perempuan maupun laki-laki, mulai dari anak-anak hingga orang lanjut usia.
Mereka menyuarakan keresahannya di seberang Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Kamis (18/12/2025) mulai dari pukul 10.30 hingga 12.00 WIB. Selama aksi, mereka mengibarkan puluhan bendera putih yang dibuat dari kain seadanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/18/dd3cc20b5224cb3849b4cb726847028d-WhatsApp_Image_2025_12_18_at_15.08.14.jpeg)
Salah seorang peserta aksi, Nurmi Ali (49), mengatakan, dampak bencana yang berkepanjangan membuat puluhan ribu warga masih terisolasi. Hal itu terjadi di pelosok kawasan pesisir timur dan wilayah tengah atau pegunungan Aceh.
Berhari-hari, kata Nurmi, warga bertahan hidup dengan stok konsumsi yang kian menipis. Obat-obatan ataupun layanan medis juga tidak memadai.
Menurut dia, perempuan, bayi hingga anak-anak, dan warga lansia menjadi kelompok paling rentan. Mereka tidak bisa berbuat banyak untuk berjalan kaki jauh guna mencari bantuan konsumsi atau obat-obatan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/18/317dc2ee61c0be7595b275915ce0bec3-WhatsApp_Image_2025_12_18_at_15.08.16.jpeg)
”Tak pelak, banyak dari kelompok rentan yang kelaparan, sakit, hingga meninggal di pengungsian,” ujarnya.
Nurmi menuturkan, saat kelompok rentan merasakan penderitaan akibat ketimpangan perhatian negara, hal itu berisiko menimbulkan konflik. Maka dari itu, ia mengingatkan agar pemerintah pusat tidak main-main dengan dampak bencana kali ini.
Munawar Liza (51), mantan Wali Kota Sabang, juga mengatakan hal yang sama. Munawar mengatakan, dahulu, bencana tsunami 2004 berhasil mendekatkan kembali Aceh dan Indonesia. Sebaliknya, bencana ekologis kali ini berpotensi menjauhkan lagi Aceh dan Indonesia.
Bencana kali ini, lanjutnya, berimbas sangat besar dan kian meluas. Imbasnya tidak hanya dirasakan warga di lokasi bencana, tetapi juga warga di lokasi-lokasi yang tidak terkena bencana.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/18/fe6cd14b697246567eb5e08e3ede89f1-WhatsApp_Image_2025_12_18_at_15.08.17.jpeg)
Dampak luas tersebut meliputi padam listrik, gangguan sinyal komunikasi, hingga kelangkaan sejumlah kebutuhan pokok, seperti elpiji dan beberapa bahan makanan. Kondisi itu sangat memukul aktivitas masyarakat, termasuk perekonomian.
Oleh karena itu, Nurmi dan Munawar mendesak pemerintah pusat segera menetapkan bencana Sumatera menjadi bencana nasional. Tujuannya, agar semua komponen nasional memberikan perhatian dan dukungan penuh terhadap percepatan penanganan ataupun pemulihan dampak bencana.
”Warga terdampak di lokasi yang masih terisolasi mulai kelaparan dan sakit. Jangan biarkan mereka meninggal. Warga yang tidak terdampak langsung juga ikut menderita karena listrik, jaringan komunikasi, dan pasokan kebutuhan pokok terganggu,” kata Munawar.
Rahmad Maulidin, koordinator aksi, mengatakan, masyarakat sudah lelah dengan buruknya penanganan bencana di Aceh. Selain belum menetapkan status bencana nasional, pemerintah juga masih menolak bantuan asing.
Padahal, katanya, dampak bencana sangat mengkhawatirkan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana hingga 18 Desember 2025 mencatat, banjir bandang dan longsor Sumatera menyebabkan 1.059 tewas, 192 orang masih hilang, 7.000 orang luka-luka, serta 514.200 orang harus mengungsi.
Bencana itu pun mengakibatkan kerusakan terhadap 147.256 rumah, 1.600 fasilitas umum, 967 fasilitas pendidikan, 434 rumah ibadah, 290 gedung perkantoran, 219 fasilitas kesehatan, dan 145 jembatan. Semua dampak itu tersebar di 52 kabupaten/kota di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/18/4ba5bdf3ff0821e173d0c8b3985d7cb4-20251217YGA43.jpg)
”Kita juga terus dipertontonkan sikap pejabat negara yang tidak berempati. Mereka berulang kali memberikan keterangan yang menyakitkan hati masyarakat,” kata Rahmad.
Sebaliknya, penanganan bencana cenderung masih jalan di tempat selama lebih kurang tiga pekan pascabencana terjadi. Banyak akses jalan darat yang masih putus. Akibatnya, tak sedikit wilayah terdampak yang masih terisolasi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/12/14/61ce102a-0a4d-4ddc-926c-bb33c0293bdd_jpg.jpg)
Hal itu membuat warga mengalami krisis pangan dan sakit-sakitan. Rahmad menuturkan, jumlah armada udara yang dijadikan tulang punggung pendistribusian bantuan pun sangat terbatas.
Dampak bencana juga meluas ke wilayah-wilayah yang tidak dilanda bencana. Aktivitas masyarakat terhambat karena sistem kelistrikan tak kunjung pulih sepenuhnya.
Warga harus antre berjam-jam demi mendapatkan satu tabung elpiji. Harga bahan makanan melonjak tajam karena pasokan baik dari dalam maupun luar Aceh terganggu. ”Semua itu sangat memukul perekonomian Aceh,” katanya.
Penulis:
Adrian FajriansyahEditor:
Cornelius Helmy HerlambangPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti