KENAIKAN HARGA

Warga Kecewa Pertamax Naik, tetapi Tidak Bisa Apa-apa

Selain harga Pertamax, harga oli dan suku cadang kendaraan telah naik sejak Mei lalu. Ini menambah beban warga di tengah menyusutnya daya beli.

10 Jun 2026 09:39 WIB · Ekonomi & Bisnis

KOMPAS/NIKSON SINAGA

Oleh Budi Suwarna, Yosepha Debrina Ratih Pusparisa

Masyarakat kelas menengah hanya bisa pasrah menghadapi kenaikan harga Pertamax yang mencapai Rp 3.950 per liter atau sekitar 32 persen dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250. Kenaikan harga Pertamax menambah beban kepada kelas menengah yang daya belinya telah tergerus.

”Mau apa lagi, selain mesti berhemat. Jujur gue kecewa banget dengan kenaikan harga Pertamax yang hampir Rp 4.000 per liter. Gue cuma bisa pasrah,” ujar Andrie Latif, warga Tangerang Selatan, Banten, yang hampir setiap hari menggunakan mobil pribadi berbahan bakar Pertamax RON 92 untuk ke kantor, Rabu (10/6/2026).

Andrie menceritakan, ia berencana mengisi bahan bakar untuk mobilnya Rabu pagi ini. Dia kaget ketika mengetahui harga Pertamax RON 92 yang biasa ia pakai telah naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 mulai Rabu dini hari.

”Akhirnya gue putusin untuk nunda isi Pertamax. Selisih Rp 4.000 per liter itu bukan cuma angka. Ini artinya setiap isi penuh tangki mobil, tambahan biaya yang dibayar Rp 120.000. Belum lagi tambahan biaya dari kenaikan harga oli dan suku cadang kendaraan yang sudah melambung duluan. Bahkan, biaya cuci mobil aja udah naik,” ujar Andrie.

Dia mencatat, harga oli sepeda motor yang biasa ia pakai sudah naik Mei lalu dari Rp 90.000 menjadi Rp 155.000. Ia menduga harga tersebut akan kembali naik hingga Rp 170.000 seiring dengan depresiasi rupiah terhadap dolar AS. Harga CDI (capacitor discharge ignition) atau komponen pengapian sepeda motor, menurut Andrie, juga naik sekitar 20 persen.

Selain itu, lanjut Andrie, harga satu set ban sepeda motor ukuran ring 17 naik dua kali lipat dari biasanya Rp 700.000-Rp 800.000 menjadi Rp 1,6 juta. Rencananya untuk ganti ban sepeda motor beberapa hari lalu terpaksa ia urungkan. Adapun biaya cuci mobil di tempat langganannya juga naik dari Rp 40.000 menjadi Rp 48.000.

Quote

Mau apa lagi, selain mesti berhemat. Jujur gue kecewa banget dengan kenaikan harga Pertamax yang hampir Rp 4.000 per liter. Gue cuma bisa pasrah.

Seiring dengan kenaikan harga Pertamax, oli, dan produk serta jasa terkait kendaraan, Andrie berencana beralih dari mobil ke sepeda motor untuk pergi pulang ke kantor. ”Itu pun sepeda motornya akan gue setel di mode irit bahan bakar. Yang pasti gue akan mengurangi bepergian dengan mobil. Sejauh ini hanya ini yang bisa dilakukan warga: hemat sehemat-hematnya,” tambahnya.

Andrie berharap pemerintah mengeluarkan kebijakan yang benar-benar bisa menjaga daya beli, bukan sekadar meminta rakyat untuk terus beradaptasi. ”Sebab, pada akhirnya, yang paling sering diminta berkorban ya rakyat. Dari zaman dulu sampai sekarang enggak berubah, pengorbanan rakyat harus full,” tegas Andrie.

Petugas mengisikan bahan bakar jenis Pertamax ke mobil pemudik yang singgah di tempat peristirahatan KM 487 B pada Jalan Tol Solo-Semarang di Kecamatan Teras, Boyolali, Jawa Tengah, Rabu (25/3/2026). Selama arus balik pada tiga hari terakhir penjualann bahan bakar di tempat itu berkisar 8 - 11 ton per hari. Pada hari biasa, penjualan bahan bakar di tempat itu hanya sekitar 2 ton per hari. 

Kompas/Ferganata Indra Riatmoko

Kekecewaan serupa disampaikan Ike Hamdan, warga Tangerang Selatan lainnya. Kenaikan harga Pertamax yang mencapai sekitar 30 persen akan meningkatkan biaya transportasi untuk kelas menengah yang memiliki mobilitas tinggi.

Menurut Ike, wajarnya biaya transportasi itu 10-15 persen dari pendapatan bulanan atau sampai 20 persen masih relatif aman. Namun, kalau sudah di atas 20 persen, tingkat kenyamanan kelas menengah terganggu. Belum lagi kenaikan harga ini akan memicu kenaikan harga-harga lainnya.

”Jadi wajar dong kalau ada perasaan teraniaya di kalangan kelas menengah yang sering jadi bantalan ekonomi,” ujar Ike.

Sebagai konsumen, saat ini dia merasa berada di persimpangan. Di satu sisi tetap butuh Pertamax, di sisi lain kenaikan harga Pertamax akan menambah beban pengeluaran. Yang pasti, dia akan mulai berhemat meski tidak berlebihan agar tetap berkontribusi pada perputaran ekonomi riil.

Kenaikan harga

Pengumuman kenaikan harga BBM nonsubsidi untuk produk Pertamax dan Pertamax Green disampaikan menjelang Rabu dini hari. Harga baru mulai berlaku per Rabu, 10 Juni 2026.

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menjelaskan, penyesuaian harga BBM nonsubsidi mengikuti regulasi yang berlaku dan merupakan bagian dari implementasi tata kelola energi yang bertujuan untuk menjaga keseimbangan antara keberlangsungan bisnis, kualitas layanan, dan kepastian pasokan energi bagi masyarakat.

”Penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green dilakukan setelah melalui proses evaluasi sesuai formula harga yang ditetapkan pemerintah. Harga jual tersebut diputuskan dengan tetap dikoordinasikan dengan pemerintah sebagai regulator dan menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan penyediaan energi dan distribusi BBM berkualitas bagi masyarakat terus berjalan optimal,” ujar Roberth.

Berikut harga baru BBM nonsubsidi per 10 Juni 2026:

  • Pertamax (RON 92), dari Rp 12.300 per liter menjadi Rp 16.250 per liter.
  • Pertamax Turbo (RON 98), Rp 20.750 per liter (harga tetap).
  • Pertamina Dex (CN 53), Rp 24.800 per liter (harga tetap).

Sementara itu, harga Pertalite dan BBM jenis gasoil, yaitu Biosolar, tidak berubah, yakni masing-masing Rp 10.000 dan Rp 6.800 per liter.

Pertamina Patra Niaga menegaskan, pihaknya berupaya menjaga ketersediaan dan kualitas produk BBM di seluruh wilayah Indonesia, sekaligus memastikan pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan dengan baik.

”Kami memastikan pasokan Pertamax dan Pertamax Green tetap aman serta tersedia di jaringan SPBU Pertamina. Masyarakat dapat memperoleh informasi harga BBM terbaru melalui kanal resmi Pertamina, Pertamina Patra Niaga, maupun aplikasi MyPertamina,” jelas Roberth.

Dampak kenaikan

Media Wahyudi Askar, Direktur Kebijakan Publik Celios, dalam rilis Rabu pagi menyayangkan adanya pandangan bahwa kenaikan harga Pertamax 92 hanya memukul orang kaya. Itu penyederhanaan dan keliru.

”Pengguna Pertamax 92 bukan cuma orang kaya, tetapi juga kelas menengah rentan. Ada pekerja, pegawai, guru, ojol, dan jutaan kelas menengah yang selama ini memilih BBM yang lebih baik untuk kendaraannya,” tegasnya.

Ketika margin kenaikan harga Pertamax 92 terlalu jauh, opsi bagi masyarakat adalah membayar lebih mahal atau turun ke Pertalite. Turun ke Pertalite juga berarti memperbanyak jumlah pengguna Pertalite yang selama ini mendapatkan subsidi dari pemerintah.

Media Askar menekankan, dampak kenaikan harga Pertamax 92 yang mencapai 32 persen akan membuat daya beli kelompok kelas menengah dan kelompok aspiring middle class (menuju kelas menengah) makin merosot.

Hal ini juga akan berdampak pada bertambahnya jumlah penduduk rentan miskin, kenaikan harga bahan pangan, transmisi penyesuaian suku bunga kredit lebih cepat, jumlah PHK melonjak pada kuartal ketiga, serta meningkatnya kriminalitas dan gejolak sosial.

Quote

Pemerintah sudah kehabisan amunisi menjaga harga energi tetap stabil.

Direktur Eksekutif Celios Bhima Yudhistira menambahkan, kenaikan harga Pertamax bukan sekadar penyesuaian harga biasa. Hal ini membuktikan ruang fiskal atau APBN kian menyempit. Utang jatuh tempo dan kewajiban bunga menembus Rp 1.434 triliun. Tahun ini salah satu puncak pembayaran utang. Outlook penerimaan pajak shortfall diperkirakan Rp 300 triliun-Rp 340 triliun dan kebutuhan belanja program masih besar.

”Pemerintah sudah kehabisan amunisi menjaga harga energi tetap stabil,” tegas Bhima.

Selain ruang fiskal yang menyempit, Bhima menyebut masalah akut pelemahan kurs rupiah yang merosot 8 persen sejak awal tahun menjadi tekanan ganda ke belanja energi APBN dan pengeluaran masyarakat.

”Harga minyak yang tinggi berada di luar faktor pemerintah, tetapi nilai tukar rupiah yang melemah berada dalam kendali pemerintah dan BI sehingga punya andil besar terhadap penyesuaian harga BBM. Begitu rupiah semakin melemah ke Rp 18.000 per dolar AS, harga importasi BBM makin mahal dan makin menekan komponen belanja kompensasi dan subsidi energi,” tuturnya.

Hasil simulasi sensitivitas perubahan asumsi makro APBN 2026, lanjut Bhima, menjelaskan adanya kaitan kegagalan mengendalikan kurs rupiah menyebabkan belanja negara bertambah Rp 91,5 triliun, salah satunya semakin berat biaya kompensasi ke Pertamina.


Kerabat Kerja

Penulis:

Budi Suwarna, Yosepha Debrina Ratih Pusparisa
 | 

Editor:

Budi Suwarna
 | 

Penyelaras Bahasa:

Amin Iskandar