Warga Menanti ”Moncernya” Pengendalian Banjir Rob

Warga pesisir Jakarta menanti pengendalian banjir rob yang terus melanda kawasannya.

18 Des 2024 17:19 WIB · Metro

Oleh Fransiskus Wisnu Wardhana Dany

Banjir rob terjadi setiap tahun di utara Jakarta. Warga sampai terbiasa dan sedikit demi sedikit beradaptasi. Namun, upaya pengendalian harus terus dikebut agar dampaknya tidak meluas atau kian parah.

Sisa-sisa banjir rob belum surut ketika air laut kembali mengalir ke permukiman warga Muara Angke, Kelurahan Pluit, Jakarta Utara, Rabu (18/12/2024) pagi. Alirannya cukup deras sehingga dalam sekejap akses jalan sudah berganti jadi kolam.

Anak-anak dari RT 003 RW 022 Pluit asyik bermain di kolam dadakan itu. Mereka berendam, berkejaran, dan menyulap boks jadi kapal.

Saat yang sama sejumlah warga buru-buru memindahkan perabotan atau perlengkapan rumah tangga. Kasur dan jemuran pakaian, misalnya, segera dipindahkan ke lantai dua atau atap rumah.

Kasini (29), salah seorang warga, duduk di depan rumah sambil memperhatikan tetangganya wara-wiri memindahkan barang. Teras rumahnya bahkan jadi tempat penitipan kasur untuk sementara.

”Setiap tahun begini. Tapi seminggu ini airnya lebih tinggi sampai masuk ke dalam rumah,” ujar Kasini sambil menunjuk pinggang sebagai tanda ketinggian air.

Rumahnya itu bangunan semipermanen dengan dua lantai. Fondasinya sudah ditinggikan hingga lebih dari 50 sentimeter (cm).

Selain itu, lantai dua berfungsi sebagai tempat penampungan alat rumah tangga agar tak terendam banjir.

”Kami harap pembangunan tanggul pantai dipercepat. Capek kebanjiran terus. Aktivitas terhambat, kan, susah kerja,” kata Kasini.

Tanggul pantai yang dimaksud Kasini ialah tanggul pengaman pantai atau national capital integrated coastal development (NCICD).

Warga memindahkan perlengkapan rumah tangga ketika banjir rob kembali melanda RT 03 RW 22 Kelurahan Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, Rabu (18/12/2024).

Adi (40), warga lainnya, cekatan memindahkan kasur agar tak basah. Sebab, ketinggian air perlahan-lahan sampai ke teras rumahnya.

”Saya heran, kok, gedung pompa sudah jadi, tapi mesinnya enggak nyala. Bagaimana air mau keluar dari sini (permukiman) kalau pompa tidak berfungsi,” ucap Adi.

Ia mempertanyakan tidak berfungsinya salah satu pompa di Rumah Pompa Muara Angke. Diketahui, Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta mengoperasikan lima pompa di Muara Angke dan dua pompa di Kali Asin untuk pengendalian banjir rob.

Dodi Permana (38), salah satu pelaku usaha, juga kerepotan. Usahanya tutup karena air masuk sampai ke dalam toko.

”Sudah ditinggikan sampai 80 sentimeter, tapi (air rob) masuk, sampai sebetis,” ujar Dodi. Ia hanya berharap NCICD bisa segera rampung agar kawasan tersebut tak kebanjiran.

Limpasan air laut merendam Kampung Marundo Pulo, Kelurahan Marunda, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, Rabu (18/12/2024). Banjir rob sudah merendam kawasan tersebut dalam enam hari terakhir. Puncak banjir rob terjadi pada pukul 10.00 WIB dan mulai surut pukul 14.00 WIB. Ketinggian banjir rob mulai 20 sentimeter hingga 45 sentimeter. Sebanyak empat RT di RW 07 terdampak akibat limpasan air laut tersebut. Meski tiap tahun hunian ditinggikan banjir rob terus menerjang kawasan ini tiap tahun. Fenomena pasang maksimum air laut bersamaan dengan fenomena bulan baru ini berpotensi meningkatkan ketinggian pasang air laut maksimum berupa banjir rob di wilayah pesisir utara Jakarta. Wilayah pesisir utara Jakarta, seperti Kamal Muara, Kapuk Muara, Penjaringan, Pluit, Ancol, Kamal, Marunda, Cilincing, Kalibaru, dan Muara Angke, menjadi daerah yang terdampak rob. Kawasan pesisir Jakarta menghadapi tekanan relatif berat menyusul perubahan kondisi lingkungan. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), dinamika atmosfer seperti Madden-Julian Oscillation (MJO), bibit siklon di Samudra Hindia, dan angin monsun dari Asia akan meningkatkan curah hujan di wilayah Jawa, termasuk Jakarta. KOMPAS/AGUS SUSANTO 18-12-2024

Pengendalian banjir rob

Badan Penanggulangan Bencana Daerah DKI Jakarta melaporkan, 3 RT masih terdampak banjir rob sampai Rabu pukul 16.00 WIB. Lokasinya di Pluit dengan ketinggian air 20-50 cm. Sementara dua titik lainnya di Kelurahan Marunda dan Jalan RE Martadinata sudah surut.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta Ika Agustin Ningrum menuturkan, durasi banjir rob bervariasi karena faktor siklus pasang surut, topografi wilayah, dan kondisi cuaca. Namun, biasanya berlangsung dua hingga enam jam saat pasang.

Quote

Sampai saat ini, kapasitas teknis polder-polder yang terbangun, terutama di pantai, belum sesuai dengan masalah hidrologi yang dihadapi. Perlu kajian sesuai isu strategis atau kondisi terkini.

Langkah pengendalian yang telah dilakukan ialah mengoptimalkan pompa untuk mengalirkan kembali air ke laut. Kemudian, memastikan tali-tali air atau drainase berfungsi dengan baik agar air mengalir dengan lancar.

Ika juga memastikan pompa berfungsi dengan baik. Akan tetapi, pengoperasian pompa sesuai dengan level ketinggian air, secara bergantian, dan ada pompa cadangan.

”Untuk langkah jangka panjang, kami terus menggenjot pembangunan tanggul pengaman pantai,” kata Ika.

Sejumlah anak bermain di depan tanggul laut di Kalibaru, Jakarta Utara, Kamis (14/11/2024). Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono, mengatakan, masyarakat pesisir utara Jakarta dihadapi dua masalah utama yakni banjir rob dan penurunan permukaan tanah. Ratusan titik di Jakarta mengalami penurunan tanah bervariasi hingga 10 sentimeter. Saat ini Kementerian Pekerjaan Umum (PU) telah merampungkan pembangunan sejumlah tanggul pantai melalui proyek National Capital Integrated Coastal Development (NCICD), salah satunya Kalibaru NCICD yang memiliki tinggi 4,8 meter. Tanggul ini diprediksi akan hingga 2033. Saat ini pemerintah tengah mengkaji opsi pembangunan tanggul laut raksasa. Diharapkan kajian tersebut bisa menjadi salah satu solusi untuk memberikan perlindungan masyarakat pesisir pada masa mendatang. KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK) 14-11-2024

Secara terpisah, pengajar pada Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia, Rudy P Tambunan, menyebutkan, kawasan pesisir Jakarta adalah submerged land atau berada di bawah permukaan laut. Alhasil, kawasan ini akan tergenang air laut pada waktu-waktu tertentu.

Oleh karena itu, Herman van Breen pada tahun 1922 mengingatkan Pemerintah Hindia Belanda untuk berhati-hati menata perkembangan kota. Ia menyarankan pendekatan polder.

”Sampai saat ini, kapasitas teknis polder-polder yang terbangun, terutama di pantai, belum sesuai dengan masalah hidrologi yang dihadapi. Perlu kajian sesuai isu strategis atau kondisi terkini,” ucap Rudy.

Bertahun-tahun dan berulang kali didera banjir rob, warga di pesisir Jakarta menanti solusi yang komprehensif. Tanpa penanganan yang komprehensif, warga tak punya pilihan selain menerima kondisi terendam banjir tanpa bisa berbuat banyak untuk menanggulanginya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Fransiskus Wisnu Wardhana Dany
 | 

Editor:

C. Wahyu Haryo P
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji