Banjir kembali melanda Jakarta. Hujan deras sejak Minggu (2/3/2025) malam membuat Sungai Ciliwung meluap hingga 57 RT kebanjiran antara 30 sentimeter dan 3 meter.
03 Mar 2025 14:43 WIB · Metro
JAKARTA, KOMPAS — Warga menanti gebrakan Pramono Anung dan Rano Karno dalam pengendalian banjir di Jakarta. Mereka yang tinggal di bantaran kali berharap tersentuh normalisasi.
Hujan deras yang mengguyur Jakarta dan sekitarnya sejak Minggu (2/3/2025) malam membuat Sungai Ciliwung meluap. Dampaknya, hingga Senin (3/3/2025) siang ini, 57 RT di Jakarta Selatan dan Jakarta Timur kebanjiran antara 30 sentimeter dan 3 meter.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta melaporkan, sebanyak 18 RT terendam di Jakarta Selatan. Rawajati menjadi daerah paling parah dengan banjir setinggi 3 meter.
Wilayah lain, yaitu Pejaten Timur, Kebon Baru, Pengadegan, dan Tanjung Barat, kebanjiran dengan ketinggian air 30 sentimeter-1,4 meter.
Minharudi (43), warga RT 005 RW 008 Pejaten Timur, mengungsi ke area yang lebih tinggi bersama warga. Sebelumnya, mereka menyelamatkan barang-barang berharga ke loteng rumah.
”Kami pengin ada solusi untuk mengatasi banjir. Karena sejak tinggal di sini dari tahun 2001 itu selalu banjir. Sampai sekarang, belum ada solusi yang pasti,” ujar Minharudi.
Permukiman warga ini dekat dengan Kali Ciliwung. Sebagian menyelamatkan diri ke lantai dua rumah, sedangkan lainnya ke area yang lebih tinggi, seperti jalan raya.
Kondisi warga terdampak banjir di Jakarta Timur tak jauh beda. Ada 39 RT kebanjiran dan ketinggian air di Cawang mencapai 3 meter.
Wilayah lain di Kampung Melayu, Bidara Cina, Balekambang, Cililitan, dan Gedong juga terdampak dengan ketinggian air 30 sentimeter hingga 2,6 meter.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/03/7f70bf42-f38a-4459-a948-14ac0a37412d_jpg.jpg)
BPBD DKI Jakarta mencatat 217 warga mengungsi ke SDN Kampung Melayu 01/02, kantor sekretariat RW 011, aula kelurahan, mushala, dan ruko di tepi jalan.
Ketua RT 013 RW 004 Kampung Melayu Sanusi berharap Pemprov DKI Jakarta menormalisasi aliran Kali Ciliwung dekat permukiman warga. Mereka siap mengikuti prosesnya, termasuk peluang relokasi ke rusun.
”Kami minta dinormalisasi saja. Biar bisa mengurangi banjir. Kami berkenan kena pembebasan lahan atau relokasi karena capek menghadapi banjir,” kata Sanusi.
Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno meninjau banjir di Kampung Melayu dan Bidara Cina pada Senin pagi. Kemudian, ia dan rombongan melihat sodetan Ciliwung.
Rano menuturkan, pengendalian banjir menjadi salah satu fokus tim transisi. Dalam tahap awal sudah dimulai pengerukan kali ataupun waduk untuk menambah daya tampung agar air tidak meluap ke permukiman warga.
Seusai peninjauan, pihaknya akan menggelar rapat koordinasi dengan pemangku kepentingan terkait untuk membahas langkah yang bisa dilakukan dalam jangka pendek.
”Kami juga undang BMKG supaya bisa paham. Kerja harus pakai metode, bukan pakai perasaan. Jadi, harus paham apa yang akan terjadi. Misalnya, seminggu ini curah hujan seberapa besar. Jadi, bisa diantisipasi,” kata Rano.
Menurut Rano, idealnya Kali Ciliwung harus dinormalisasi. Sebab, dulu lebarnya bisa mencapai 50 meter. Namun, itu butuh waktu panjang dan kerja sama antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
”Saya menawarkan relokasi ke rusun sambil membenahi area banjir. Di Jagakarsa ada tiga tower. Sebagian mau,” kata Rano.
Secara terpisah, anggota Komisi A DPRD DKI Jakarta, William Aditya Sarana, menyarankan Pemprov DKI Jakarta dan pemerintah pusat untuk melanjutkan operasi modifikasi cuaca yang selama ini sudah dilakukan di Jakarta dan sekitarnya. Kemudian, meningkatkan koordinasi dengan wilayah Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, dan Cianjur untuk mitigasi banjir.
”Terutama Bogor, harus lebih intens untuk mengetahui apa yang bisa dilakukan atau dibantu pemprov untuk pengendalian di sana sehingga tidak terjadi banjir di Jakarta,” kata William.
Penulis:
Fransiskus Wisnu Wardhana DhanyEditor:
Neli TrianaPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra