Frustrasi, Warga Gaza Marah pada Hamas dan Menuntut Perang Dihentikan

Unjuk rasa diawali dari utara Gaza, lalu meluas ke kota-kota lain. Warga Palestina menuntut jangan ada perang, mereka sudah kehilangan segalanya.

27 Mar 2025 17:25 WIB · Internasional

Oleh Helena Fransisca Nababan

KAIRO, KAMIS — Jenuh, frustrasi, dan lelah karena terus terdampak perang, ribuan warga Palestina turun ke jalan utama Gaza yang dipenuhi puing. Mereka berunjuk rasa menuntut agar perang Hamas-Israel segera dihentikan. Bahkan, mereka mendesak agar Hamas keluar dari Jalur Gaza.

Seorang warga Palestina berusia 19 tahun mengatakan, keluarganya menderita karena perang. Ibunya menderita kanker dan saudara laki-lakinya yang berusia 10 tahun dirawat di rumah sakit karena kelumpuhan otak. Mereka sekeluarga telah mengungsi beberapa kali sejak rumah mereka dihancurkan.

”Orang-orang marah kepada seluruh dunia termasuk Amerika Serikat, Israel, dan Hamas,” katanya sebagaimana dikutip Kantor Berita Associated Press, Kamis (27/3/2025). ”Kami ingin Hamas menyelesaikan situasi ini, memulangkan para sandera, dan mengakhiri semua ini.”

Protes tersebut meletus seminggu setelah Israel mengakhiri gencatan senjata dengan Hamas. Langkah itu disusul dengan gelombang serangan baru yang menewaskan ratusan orang. Konflik baru juga menyebabkan arus bahan makanan, bahan bakar dan obat-obatan kembali macet.

Palestinians chant slogans during an anti-war protest and against Hamas in a rare show of public anger against the militant group that rules the territory, in Beit Lahiya, northern Gaza Strip, Wednesday, March 26, 2025. (AP Photo/Jehad Alshrafi)

Unjuk rasa awal berlangsung di kota Beit Lahiya pada Selasa (25/3/2025), tepat sepekan setelah Israel melakukan serangan udara pascagencatan senjata tahap pertama usai. Awalnya, unjuk rasa di Gaza itu memang digagas sebagai aksi antiperang yang diikuti beberapa lusin orang. Akan tetapi, peserta membengkak menjadi lebih dari 3.000 orang.

”Kami ingin hidup!” teriak seorang warga Gaza yang turut dalam unjuk rasa hari kedua di kota Beit Lahiya, sebagaimana dikutip The New York Times, Rabu (26/3/2025).

New York Times menulis, sekelompok warga Gaza berbaris di jalan-jalan Kota Beit Lahiya dan Kota Gaza yang hancur. Para demonstran membawa spanduk bertuliskan, ”Hamas tidak mewakili kami,” juga spanduk yang menentang kelanjutan perang. Sementara lainnya meneriakkan slogan-slogan yang menyerukan Hamas untuk keluar.

Unjuk rasa berlanjut pada Rabu dan meluas ke Nuseirat dan di Deir al-Balah di Gaza tengah. Kali ini, unjuk rasa hari kedua itu lebih terorganisir ditandai dengan adanya seruan yang disebar melalui jejaring media sosial. Seruan itu berisi ajakan untuk menentang kekuasaan Hamas, dan tindakannya dalam perang melawan Israel.

Tekanan pada Hamas

Banyak warga Gaza menyambut ajakan tersebut. Dalam unjuk rasa itu mereka menyerukan slogan berisi protes terhadap Hamas dan menentang kelompok itu. Mereka juga mengkritik Hamas karena kelompok itu selalu meredam perbedaan pendapat di Gaza dengan kekerasan.

Di Beit Lahiya, para pengunjuk rasa dengan berani meneriakkan slogan-slogan seperti, ”Hamas keluar!” Mereka juga berteriak, ”Kami ingin hidup merdeka.”

”Tuntutan kami jelas, yaitu akhiri perang dengan cara apa pun," kata Said Lulu (38), warga Kota Gaza. ”Kami sama sekali tidak akan kehilangan apa pun karena kami telah kehilangan segalanya, jadi kami tidak takut,” kata Said menambahkan.

Palestinians attend an anti-war protest and against Hamas in a rare show of public anger against the militant group that rules the territory, in Beit Lahiya, northern Gaza Strip, Wednesday, March 26, 2025. (AP Photo/Jehad Alshrafi)

”Kami tidak menginginkan Hamas! Kami lelah,” kata Muayed Zahir, seorang pengunjuk rasa di Kota Gaza. ”Setelah lebih dari 17 bulan perang yang menghancurkan, tidak ada pendidikan, tidak ada makanan, tidak ada pakaian. Semua ini karena Hamas,” kata Zahir menambahkan.

”Anak-anak kami telah terbunuh. Rumah-rumah kami telah hancur,” kata Abed Radwan. Ia mengaku bergabung dalam protes di Beit Lahiya untuk menentang perang, menentang Hamas dan faksi-faksi (politik Palestina), menentang Israel, dan menentang kebungkaman dunia.

Hamas turut menjadi sasaran karena menurut warga, Hamas adalah satu-satunya pihak yang dapat mereka pengaruhi. ”Protes tidak akan menghentikan pendudukan (Israel), tetapi dapat memengaruhi Hamas,” kata Ammar Hassan, seorang pengunjuk rasa melalui telepon.

Seorang pengunjuk rasa lain di Jabaliya mengungkapkan, ia memilih bergabung dengan unjuk rasa itu lantaran semua pihak, termasuk Otoritas Palestina, Barat, dan mediator, telah mengecewakan warga Gaza.

Palestinians chant slogans during an anti-war protest and against Hamas in a rare show of public anger against the militant group that rules the territory, in Beit Lahiya, northern Gaza Strip, Wednesday, March 26, 2025. (AP Photo/Jehad Alshrafi)

Kondisi dan situasi Gaza

Unjuk rasa itu meletus tepat seminggu setelah Israel mengakhiri gencatan senjata dengan Hamas. Israel diketahui meluncurkan gelombang serangan mendadak yang menewaskan ratusan orang.

Sebelum menyerang, di awal bulan ini Israel menghentikan pengiriman makanan, bahan bakar, obat-obatan, dan bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza. Tindakan Israel itu memperburuk kondisi sekitar 2 juta warga Palestina di Gaza.

Tidak adanya kesepakatan untuk gencatan senjata tahap II membuat Israel bersumpah untuk meningkatkan intensitas serangan. Tujuannya untuk menekan dan memaksa Hamas supaya mengembalikan 59 sandera yang masih ditahan. Israel meyakini 24 di antaranya masih hidup. Israel juga menuntut agar kelompok itu menyerahkan kekuasaan, melucuti senjata, dan mengirim para pemimpinnya ke pengasingan.

Hamas mengatakan, mereka hanya akan membebaskan sandera yang tersisa dengan imbalan tahanan Palestina, gencatan senjata permanen, dan penarikan Israel dari Gaza.

Palestinians inspect the site hit by an Israeli strike in Deir al-Balah, Gaza Strip on Tuesday, March 25, 2025. (AP Photo/Abdel Kareem Hana)

142.000 pengungsi

Akibat serangan intensif kembali Israel, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat dalam sepekan serangan kembali Israel, 142.000 warga Gaza kembali mengungsi. Padahal, selama 17 bulan perang, 90 persen warga Gaza sudah mengungsi dan kehilangan tempat tinggal.

PBB juga mengingatkan kurangnya bantuan kemanusiaan. ”Hanya dalam satu minggu, 142.000 orang mengungsi,” kata Juru Bicara Sekretaris Jenderal PBB Stephane Dujarric.

”Ruang yang tersedia untuk keluarga, menyusut. Dalam setiap gelombang pengungsian, ribuan orang tidak hanya kehilangan tempat tinggal, tetapi juga akses ke kebutuhan pokok seperti makanan, air minum, dan perawatan kesehatan,” kata Dujarric.

Dengan penderitaan demi penderitaan yang mendera warga Palestina di Gaza, Munther al-Hayek, Juru Bicara Faksi Fatah Palestina yang berbasis di Tepi Barat, meminta Hamas untuk mendengarkan suara rakyat dan menarik diri dari pemerintahan di Gaza.

Dalam sebuah wawancara dengan radio Palestina, Rabu kemarin, al-Hayek mengatakan, Hamas harus menyerahkan kekuasaan kepada Otoritas Palestina (PA) yang didominasi Faksi Fatah. PA saat ini memerintah di sebagian wilayah Tepi Barat yang diduduki Israel.

Al-Hayek mengatakan, ”Kehadiran Hamas telah menjadi berbahaya bagi perjuangan Palestina.” Ia menambahkan bahwa gerakan tersebut harus mendengarkan suara-suara yang muncul di Gaza dan menyelamatkan penduduk yang hancur.

Seruan al-Hayek itu mengulangi lagi seruan yang sudah ia sampaikan pada Sabtu (22/3/2025). Akhir pekan lalu, al-Hayek meminta Hamas untuk menyingkir dari pemerintahan wilayah tersebut untuk menjaga keberadaan warga Palestina di sana.

Palestinians chant slogans during an anti-war protest and against Hamas in a rare show of public anger against the militant group that rules the territory, in Beit Lahiya, northern Gaza Strip, Wednesday, March 26, 2025. (AP Photo/Jehad Alshrafi)

Beberapa jam kemudian, Pejabat Senior Hamas Basem Naim mengatakan, warga Palestina memiliki hak untuk memprotes penderitaan yang ditimbulkan oleh perang. Namun, ia mengecam aksi unjuk rasa yang ia katakan sebagai agenda politik mencurigakan dengan mengeksploitasi situasi.

"Dari mana mereka berasal, apa yang terjadi di Tepi Barat? Mengapa mereka tidak memprotes agresi di sana atau membiarkan orang turun ke jalan untuk mengecam agresi ini?"

Pernyataan Naim tersebut mencerminkan masih adanya ketegangan di antara Faksi Fatah dan Faksi Hamas, dua faksi Palestina, terkait Gaza. Diketahui, Hamas mulai menguasai Gaza pada 2007. Hamas menang telak dalam pemilihan umum Palestina terakhir, yang diselenggarakan pada 2006.

Kemenangan Hamas menimbulkan kerusuhan berbulan-bulan antarfaksi. Hamas merebut kekuasaan di Gaza dari Otoritas Palestina yang didominasi Fatah dan didukung Barat pada tahun berikutnya.

Meski dalam unjuk rasa warga menentang dan minta Hamas keluar, jajak pendapat pada September tahun lalu oleh Pusat Penelitian Kebijakan dan Survei Palestina berkata beda. Sebanyak 35 persen warga Gaza mendukung Hamas. Sementara dukungan warga Gaza untuk Fatah, pesaing politik utama Hamas, diperkirakan sebesar 26 persen.

PM Israel Benjamin Netanyahu juga memperhatikan kejadian unjuk rasa di Gaza. ”Dalam beberapa hari terakhir, kami telah menyaksikan perubahan baru, sesuatu yang belum pernah kami lihat sebelumnya,” katanya pada hari Rabu dalam sambutannya di Parlemen Israel.

”Kami melihat protes besar dan terbuka di Jalur Gaza terhadap kekuasaan Hamas,” jelasnya. (AP/AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Helena Fransisca Nababan
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase