Sejak pertengahan Maret 2025, Israel kembali menyerang Gaza, Tepi Barat, serta Lebanon dan Suriah. Warga sipil tewas dalam serangan itu.
07 Apr 2025 16:28 WIB · Internasional
GAZA, SENIN — Kerusakan masif tak menghentikan Israel kembali melakukan serangan militer ke wilayah Gaza. Serangan pada Minggu (6/4/2025) menewaskan puluhan warga sipil Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak.
Data yang dikeluarkan oleh Badan Pertahanan Sipil Gaza menyebut, 44 warga sipil Palestina tewas akibat serangan udara Israel. Sebanyak 21 korban tewas di antaranya adalah warga yang tinggal di Khan Younis.
Mahmud Bassal, juru bicara Badan Pertahanan Sipil Gaza, mengatakan, serangan udara Israel menewaskan enam warga yang tengah berkumpul di dekat sebuah toko roti di lingkungan Al Tuffah, Gaza. Korban tewas akibat serangan itu termasuk tiga anak.
Serangan udara Israel juga menghantam rumah milik keluarga Abu Issa di Deir el-Balah. Rumah itu dihuni perempuan, remaja dan anak-anak. ”Tidak ada orang yang dicari di rumah itu. Para pria tengah berada di masjid,” kata Mohammad al-Azaizeh, salah satu warga.
Dia menambahkan, ledakan keras akibat rudal yang jatuh di rumah tersebut meratakan bangunan rumah itu dengan tanah.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/07/c55877258b5b5c36d2b76469ee3c8c8d-000_394W2T2.jpg)
Sejumlah rekaman video yang beredar di media sosial memperlihatkan ledakan dahsyat ketika rudal-rudal Israel menghunjam ke rumah atau kamp pengungsi yang dihuni warga Palestina. Asap membubung ke langit disertai percikan api besar dan suara yang menggelegar.
Terlihat juga warga berlarian menghindari bongkahan batu yang terlempar ke segala penjuru ketika ledakan terjadi. Warga mendatangi berbagai fasilitas kesehatan untuk mencari kejelasan tentang nasib anak-anak atau kerabat mereka.
”Kami mendengar ledakan itu dan bergegas untuk memeriksa anak-anak,” kata Umm Haytham al-Salakhi sambil menangis karena mendengar kabar salah satu kerabatnya tewas.
Tidak jauh dari tempat Umm Haytham berdiri, seorang pria memeluk jenazah kerabatnya. Puluhan warga lain yang berada di dekatnya berkumpul untuk melakukan shalat jenazah sebelum jenazah-jenazah tersebut dimakamkan di pemakaman massal.
”Mereka menyerang warga sipil yang tidak bersenjata saat mereka tidur,” kata warga lainnya, Mohammad Rahmi, yang juga kehilangan seorang kerabat dalam pengeboman itu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/07/625f7403a5dd71629b5ad2cc2f8a6f96-000_39BL7NQ.jpg)
Serangan Israel menyasar fasilitas-fasilitas sipil, seperti tenda pengungsi dan rumah-rumah warga. Pekerja Rumah Sakit Nasser di Khan Younis menyebut, mereka memulasarakan 15 jenazah warga sipil yang tewas akibat serangan militer Israel ke sebuah tenda dan rumah.
Lima laki-laki, lima perempuan, dan lima anak menjadi korban serangan tersebut. Korban tewas juga termasuk seorang anak balita.
Serangan Israel ke sebuah kamp pengungsi di Jabaliya, Gaza utara, menewaskan sedikitnya empat orang.
Serangan militer Israel ke lokasi-lokasi hunian warga sipil disebut Hamas sebagai tindakan pembunuhan yang disengaja terhadap anak-anak Palestina. Hamas juga menyebut serangan ini sebagai serangan yang sadis dan biadab dari para pemimpin pemerintahan pendudukan Israel.
Serangan Israel sepanjang Minggu membuat Hamas bergerak. Hamas menembakkan 10 roket ke wilayah Israel, salah satunya jatuh di Kota Ashkelon.
Militer Israel menyatakan bahwa mereka berhasil mencegat lima roket yang ditembakkan dari Gaza. Layanan Darurat Israel menyebut seorang pria terluka ringan akibat serangan tersebut.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/07/5a370dc0679625b1bef2300e300104c9-000_38V46WD.jpg)
Serangan balasan Hamas direspons keras oleh Israel. ”Perdana menteri menginstruksikan untuk memberikan respons keras dan menyetujui kelanjutan operasi intensif IDF di Gaza terhadap Hamas,” kata kantor PM Israel dalam sebuah pernyataan.
Pascaserangan balasan Hamas, militer Israel mengeluarkan perintah bagi para pengungsi Palestina untuk menghindari wilayah Deir el-Balah. Pengumuman itu diunggah juru bicara IDF, Avichay Adraee, di platform X.
”Kepada semua penduduk Jalur Gaza yang tinggal di daerah Deir el-Balah, ini adalah peringatan terakhir dan mendesak sebelum serangan,” kata Adraee.
”Kami akan melancarkan serangan hebat di daerah mana pun tempat roket ditembakkan. Demi keselamatan, Anda harus segera pindah ke selatan ke tempat perlindungan yang diketahui di daerah Mawasi.”
Di Tepi Barat, seorang remaja Palestina tewas dan dua lainnya terluka karena melakukan perlawanan pada pemukim garis keras Israel dengan menggunakan batu.
Setelah upaya gencatan senjata tahap II gagal dan Israel kembali menyerang Gaza, sejumlah upaya dilakukan untuk mendorong para pihak mau kembali berunding. Salah satunya didorong oleh Presiden Perancis Emmanuel Macron, Raja Abdullah II dari Jordania, dan Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi.
”Situasi di Gaza akan dibahas secara luas,” kata Macron, yang tengah berada di Mesir untuk kunjungan dua hari.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/07/58067dded98a222462415033ddb76ba3-000_38YN6ZP.jpg)
Pertemuan Macron, Abdullah, dan el-Sisi direncanakan berlangsung di kota pelabuhan el-Arish yang berada di dekat perbatasan Mesir-Gaza, el-Arish, 50 kilometer barat Gaza. Pelintasan itu menjadi titik transit utama bantuan kemanusiaan internasional untuk Palestina setelah Rafah ditutup sepihak oleh Israel.
Macron mencoba mendorong inisiatif penurunan eskalasi di Gaza. Selain berbicara dengan Raja Abdullah dan Presiden el-Sisi, Macron juga berencana menyelenggarakan konferensi perdamaian untuk Palestina pada Juni nanti.
Macron, dalam cuitannya, Jumat (4/4/2025), mengatakan, dia akan berbicara dengan Presiden RI Prabowo Subianto mengenai hal ini. Ia berencana ke Jakarta pada Mei 2025.
Dorongan untuk Israel agar mau kembali ke meja perundingan juga disampaikan Menteri Luar Negeri Uni Emirat Arab (UEA) Sheikh Abdullah bin Zayed Al Nahyan saat bertemu Menlu Israel Gideon Saar, Minggu (6/4/2025). Abdullah mengatakan kepada Saar perlunya gencatan senjata untuk menghindari krisis kemanusiaan yang semakin memburuk di Gaza.
”Sheikh Abdullah menekankan prioritas untuk mencapai gencatan senjata dan pembebasan sandera, serta pentingnya menghindari eskalasi konflik lebih lanjut di kawasan tersebut,” kata Kemenlu UEA dalam pernyataanya, dilansir Arab News.
Sheikh Abdullah juga menegaskan kembali kebutuhan mendesak untuk bergerak maju dengan memulai kembali perundingan, mencapai perdamaian yang komprehensif berdasarkan solusi dua negara. (AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
Mahdi MuhammadEditor:
Kris MadaPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra