CATATAN URBAN

Warga-wargi, Sambatmu Kini adalah Tawamu

”Selamat jadi CEO. Iya, CEO, Cepat Emosian di Office”. Unggahan serupa marak di media sosial, mengena dan memantik tawa. Buzzer yang coba nimbrung, garang dihalau.

04 Sep 2026 13:00 WIB · Kolom

Kompas/Supriyanto

Oleh Neli Triana

Di antara banyak unggahan di media sosial yang penuh amarah, protes, saling sindir sampai gosip, kini makin banyak akun-akun berbagi curahan hati alias sambat tetapi jenaka.

”Boro-boro mikirin cicilan rumah, lihat saldo ATM setelah bayar paylater aja udah butuh napas buatan”. Tak sedikit warganet yang merasa unggahan di salah satu akun media sosial itu fakta menohok yang nyata menimpa mereka. Namun, dari cara penyampaiannya yang ringan dan apa adanya, kelakar itu justru membuat ”auto ngakak”.

Digerakkan rasa senasib sepenanggungan, jari mengklik tanda ”like”, ”repost”, meneruskan di grup-grup percakapan. Tak lupa ikut berkomentar ”Aku seperti di slide terakhir, di kantor kalau ga serbaguna, ya, serba salah…ha-ha-haa”.

Di kota-kota besar saat ini, mengunggah penderitaan hidup sehari-hari yang dibungkus dengan komedi telah berubah dari sekadar keisengan menjadi rutinitas harian yang nyaris wajib. Kita mengeluh, tetapi bisa membelokkannya dengan mulus menjadi komedi gelap menggelitik. ”Enggak apa-apa asam lambung naik, punggung encok demi cuan, yang penting tetap enggak bisa beli rumah. Yeayyy”. Yang membacanya terasa terpacu untuk tepuk tangan, diakhiri tepuk jidat sembari disergap sedih walau tetap terpingkal-pingkal.

Menertawakan diri sendiri dan membuat lelucon atas kemalangan yang dialami memang telah lama disebut sebagai bagian dari mekanisme koping. Bagi kaum urban kelas menengah, cara ini merilis stres. Terlebih ketika unggahan direspons banyak orang yang menunjukkan, ia tidak sendiri.

Ilustrasi Berbahasa di media sosial

Realitas kehidupan urban memang penuh dengan paradoks yang melelahkan. Di satu sisi, ada tuntutan untuk terus produktif, inovatif, dan tampil sempurna di tengah iklim persaingan kerja yang brutal. Di sisi lain, realitas ekonomi tidak selalu sejalan dengan kerja keras tersebut. Stagnasi upah, ancaman pemutusan hubungan kerja, harga properti yang melangit, hingga inflasi gaya hidup menciptakan ruang sempit yang mencekik kaum pekerja.

Ketika menghadapi kebuntuan struktural ini, marah secara frontal sering kali menghabiskan terlalu banyak energi dan berisiko. Sebagai jalan keluarnya, penderitaan tersebut diterjemahkan ke dalam bentuk narasi komikal. Mengeluh dengan gaya humoris menjadi cara paling aman untuk menyuarakan rasa frustrasi tanpa harus terlihat seperti orang yang sedang putus asa.

Secara psikologis, fenomena ini dapat dijelaskan melalui konsep self-deprecating humor atau lelucon yang merendahkan diri sendiri. Sebuah studi psikologi eksperimental membuktikan bahwa strategi menghadapi situasi negatif dengan humorous coping sangat efektif dalam jangka pendek untuk menurunkan emosi negatif dan meningkatkan emosi positif.

Humor mengubah perspektif atas masalah dan memungkinkan seseorang mengambil jarak dari isu tersebut. Lelucon sarkas mengubah masalah makro yang menakutkan menjadi persoalan mikro konyol dan lebih mudah dicerna.

Tulisan di mobil yang aneh dan lucu.

Dari kacamata sosiologi digital, tren ini berkaitan dengan apa yang disebut para peneliti sebagai self-deprecating relatability atau membangun koneksi lewat merendahkan diri sendiri. Peneliti Kristine Ask dan Crystal Abidin (2017) menyoroti bagaimana publik di dunia maya gemar menyebarkan meme atau cerita yang menunjukkan bahwa ”hidup mereka berantakan” semata-mata untuk membangun rasa kebersamaan.

Jika pada masa awal media sosial orang-orang berlomba memamerkan kesuksesan dan estetika hidup yang terpoles rapi, tren kini justru berbalik arah. Kaum urban saat ini seolah sedang berkompetisi memamerkan kelelahan dan kemalangan mereka demi mencari validasi. Saat satu unggahan tentang betapa hancurnya mental seorang pekerja di hari Senin mendapatkan ribuan likes, terciptalah mekanisme pertahanan kolektif.

Menariknya, mekanisme pertahanan kolektif ini sukses melintasi batas demografi dan menginfeksi hampir seluruh kelompok usia produktif. Generasi milenial yang bisa dikatakan generasi pertama manusia era digital, mengawali penggunaan media sosial sebagai ruang keluh kesah utama.

Topik curhatan mereka sangat spesifik dan mencerminkan beban usia mereka saat ini, seperti sakit punggung akut, asam lambung kambuh menjelang tenggat, beratnya membiayai gaya hidup sebagai generasi sandwich yang menopang orangtua sekaligus anak atau keluarganya.

Sementara itu, Gen Z yang baru memasuki dunia kerja membawa humor ini ke level yang lebih sinis dan nihilis. Mereka dihadapkan pada realitas pasar tenaga kerja yang hancur, upah tak sebanding dengan pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari apalagi untuk self reward. Belum lagi harga tempat tinggal terus melambung dengan kualitas tak sebanding. Tuntutan hustle culture alias bekerja berlebihan yang semakin tidak manusiawi tanpa jaminan kesejahteraan atau kesuksesan. Apalagi hidup dengan pemimpin negara maupun tempat kerja yang buruk.

Lelucon Gen Z menertawakan absurditas dari realitas yang riil dihadapi. Konten curhat mereka berputar pada penolakan terhadap loyalitas buta pada perusahaan, hingga keputusasaan soal menukar kewarasan demi upah minimum. Bagi Gen Z, menertawakan penderitaan di tempat kerja sudah menjadi bentuk protes terbuka.

Warga melintasi mural kutipan Wiji Thukul di kawasan Jatinegara, Jakarta Timur, Rabu (19/8/2026). 

KOMPAS/AGUS SUSANTO
19-8-2026

Gelombang kecemasan komikal ini mulai merembes ke generasi di bawahnya, yakni Gen Alpha. Generasi ini sekarang paling tua berkisar di usia 13-16 tahun dan rata-rata belum mengenal kerasnya jam kerja atau tagihan bulanan. Akan tetapi, mereka tumbuh dengan orangtua atau kakak mengalami burn out. Mereka terpapar koping humor ala milenial juga sarkasme jenaka orang dewasa di sekitarnya.

Muncullah tren absurdisme Gen Alpha di media sosial. Mereka menggunakan humor brainrot untuk menertawakan tuntutan akademik, tekanan sosial, pun bayangan masa depan yang tampak suram dari kacamata remaja kota besar. Hal ini membuktikan bahwa beda generasi ternyata hanya membedakan pemicu stresnya, solusi instannya tetap sama, yaitu jadikan saja bahan guyonan.

”Warga-wargi”, sebutan lain yang baru-baru ini muncul untuk menyebut khalayak di dunia digital media sosial dari berbagai kalangan umur, kian kreatif dengan konten sambat yang memicu tawa ini. Banyak akun yang memanen banyak perhatian dan terpicu untuk secara berkala memroduksi unggahan serupa sampai bisa memonetisasinya. Akun resmi dari berbagai lembaga swasta ataupun pemerintah meramaikan tren demi memperteguh posisi brand mereka. Salah langkah sedikit, akun lembaga itu bisa di-bully sampai harus minta maaf secara terbuka. Meskipun demikian, banyak pula yang kian eksis berkat strategi sambat lucu nan satire, tetapi terasa penuh simpati.

Baliho ajakan untuk menolak politik uang bernada satire terpasang di sudut salah satu pasar di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, sehari menjelang pemungutan suara pemilihan kepala daerah serentak 2020, Selasa (8/12/2020). Pada 9 Desember, warga Banjarmasin akan memilih gubernur dan wali kota periode 2021-2024.

Yang menarik, unggahan-unggahan yang mendapat sambutan luar biasa dari warganet kerap pula dimanfaatkan para pendengung dengan kepentingannya maupun akun affiliate untuk memasarkan produk tertentu. Siap-siap saja, amarah dan rasa putus asa yang sebenarnya masih menyergap kaum urban kelas menengah ini bisa langsung ditumpahkan kepada akun-akun bayaran dan pemasar produk jika dinilai nirempati.

Unggahan curhat lucu bertebaran di linimasa kita adalah jeritan hati terdalam dan nyata dari masyarakat yang sepenuhnya sadar bahwa sistem yang melingkupinya tidak sedang baik-baik saja. Setidaknya, masih ada keleluasaan di antara jeratan kencang masalah, bebas untuk curhat dan tertawa. Hadir pula kesadaran bahwa kita tidak sendiri dan bisa menghadapi, bahkan mengatasinya bersama asal ada niat, tekad, dan usaha.

Namun, jangan salah tekad, ya. Ini seperti bertekad bulat untuk langsing, bagaimana mungkin? Nah, kan!


Kerabat Kerja

Penulis:

Neli Triana
 | 

Editor:

Gesit Ariyanto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase