Warisan Perjalanan Paus Leo XIV di Indonesia dan Harapan Perdamaian untuk Tanah Papua

Paus Leo XIV diharapkan menjadi jembatan memutus konflik di Tanah Papua. Dia pernah kagum dengan kekayaan Papua, tetapi prihatin dengan nasib warga di pedalaman.

09 Mei 2025 17:01 WIB · Nusantara

Oleh Fabio Maria Lopes Costa, Nasrun Katingka, Cornelius Helmy

Terpilihnya Paus Leo XIV memimpin umat Katolik dunia ikut menumbuhkan harapan bagi masa depan bangsa ini. Pernah datang ke Papua 22 tahun lalu, ia dianggap sebagai sosok yang tepat untuk menjembatani perdamaian di Tanah Papua yang lama diimpit konflik.

Ketika mendengar kabar Robert Francis Prevost terpilih sebagai paus yang baru, kenangan Floridus Angelus Naja OSA (50) kembali ke peristiwa pada 2003. Dia masih ingat, saat itu Prevost antusias bercerita tentang indahnya alam Papua.

Saat itu, Prevost memang baru saja pulang dari Papua. Sebagai pemimpin tertinggi atau Prior General Ordo Santo Agustinus (OSA) Prevost hadir dalam peringatan 50 Tahun OSA berkarya di Tanah Papua. Di sana, Prevost menyapa para iman OSA dan umat Katolik di pedalaman Papua.

Francis Prevost atau yang saat ini sebagai Paus Leo XIV (kanan) mengunjungi Kota Sorong, Papua Barat Daya, tahun 2003.

Sejak tahun 1953, OSA telah hadir di Papua. Pionirnya adalah misionaris Augustinian dari Belanda. Mereka tidak hanya fokus pada pelayanan pastoral. Kedatangannya ikut memperjuangkan pendidikan dan kesehatan di berbagai wilayah Papua, termasuk yang sulit dijangkau.

Floridus tidak berada di Papua saat Prevost datang. Dia masih menjalani studi di Universitas Kepausan Lateran, Roma, Italia.

”Saat itu, beliau sebagai Prior General tinggal satu kawasan bersama kami. Dia menemui kami dan membagikan impresinya atas keramahan dan kekayaan alam Papua,” kata Floridus, pengajar di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Fajar Timur di Kota Jayapura, Jumat (9/5/2025).

Menurut Floridus, Prevost mengatakan jatuh hati kepada Papua yang memiliki alam subur serta sumber daya alam melimpah. Namun, ia juga tidak dapat menyembunyikan keprihatinannya melihat nasib orang-orang di pedalaman.

Saat itu, banyak dari mereka belum mendapatkan akses pendidikan setara. Keindahan alam serta ironi orang di sekitarnya mirip dengan yang Prevost lihat dan perjuangkan saat berkarya di Peru.

Floridus percaya apabila Prevost tidak sekadar iba. Dia memberi bukti. Orang-orang kecil terus didorongnya untuk mendapat akses pendidikan setinggi-tingginya.

”Contohnya adalah saya. Di era kepemimpinan beliau sebagai Prior General, saya dan tiga orang dari Papua diutus belajar ke Vatikan. Kami yang dulunya tidak pernah keluar Papua akhirnya melihat dunia dan tinggal di Vatikan bersama-sama dia (Prevost),” ujar Floridus.

Uskup Timika Monsinyur Bernadus Bofitwos Baru 
 OSA bertemu Paus Fransiskus tahun 2014 lalu di Vatikan. Di samping Paus Fransiskus adalah Kardinal Francis Prevost atau yang saat ini terpilih sebagai Paus Leo XIV.

Salah seorang yang mendapat kesempatan belajar ke luar negeri lainnya adalah Monsinyur Bernardus Bofitwos Baru OSA. Dia melanjutkan studinya di Fakultas Teologi (Misiologi) Universitas Kepausan Urbaniana, Roma. Kebetulan, pada Rabu (14/5/2025) Bernardus akan ditahbiskan menjadi Uskup Mimika.

Meski tidak ikut menemani Prevost saat datang ke Papua, Bernadus mendapat kabar apabila beliau melakukan perjalanan panjang. Prevost datang ke daerah Senopi di Manokwari di Papua Barat. Prevost, kata Bernadus, juga singgah di Aiwasi yang dulu di wilayah Sorong, Papua Barat Daya.

Oleh karena itu, dengan pengalaman itu, Bernadus berharap Paus Leo XIV bisa menjadi jembatan perdamaian di Tanah Papua. Dia ingin Paus Leo XIV dapat memediasi dialog damai antara Papua dan Jakarta untuk mengatasi konflik yang tidak kunjung usai dalam 60 tahun terakhir.

”Dialog damai antara pemerintah dan masyarakat Papua bukanlah politik, tetapi suara injil. Tuhan Yesus datang ke dunia juga berdialog dengan umatnya,” kata Bernadus.

Sikap Paus Leo XIV memang tegas terhadap perdamaian dan menjunjung kemanusiaan. Dia sudah membuktikannya saat didapuk sebagai uskup di Peru.

Mengutip The Guardian,  pada awal 2023, ia menggambarkan ”kesedihan dan rasa sakitnya” atas kematian 49 pengunjuk rasa dalam demonstrasi antipemerintah. Pada saat itu, beliau mengatakan, kerusuhan mencerminkan pengabaian historis terhadap kaum miskin Peru.

”Konflik ini tidak mewakili yang terbaik dari negara ini,” katanya.

Selain itu, Prevost juga meminta mantan Presiden Peru Alberto Fujimori, yang dipenjara pada 2009 karena pelanggaran hak asasi manusia dan korupsi, untuk meminta pengampunan dari masing-masing korban pemerintahannya. Itu semua demi memulai proses rekonsiliasi.

Paus Leo XIV dengan Vikaris Jendral Ordo Santo Agustinus Pastor Yan Pieter Fatem pada bulan November, tahun 2024 di Roma, Italia.

Vikaris Jenderal OSA Indonesia-Papua Yan Pieter Fatem juga tidak ragu dengan dedikasi Paus Leo XIV bagi perdamaian dunia, khususnya di Papua. Terakhir, ia bertemu dengan Paus Leo XIV di Roma, November 2024. Yan mengaku berbicara banyak hal, salah satunya tentang pelayanan di Papua.

”Semoga kehadiran beliau bisa mendorong terciptanya perdamaian, penegakan keadilan, penghormatan terhadap martabat manusia, penghormatan terhadap lingkungan hidup. Tidak hanya di Papua, tetapi juga dunia,” kata Yan.

Robert Francis Prevost baru saja terpilih menjadi Paus Leo XIV. Namun, banyak orang telah menggantungkan harapan padanya. Doa terbaik untuk dia agar kuat memanggul tanggung jawab ini demi dunia yang jauh lebih baik.


Kerabat Kerja

Penulis:

Fabio Maria Lopes Costa, Nasrun Katingka, Cornelius Helmy
 | 

Editor:

Irma Tambunan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra