”Warlok” Yunani yang Jadi Penonton di Negerinya Sendiri

Kisah penduduk Yunani yang kesulitan berwisata ke tempat-tempat ikonik negerinya.

28 Agt 2025 12:17 WIB · Internasional

Oleh Ignatius Danu Kusworo

Industri pariwisata Yunani sedang berkembang pesat. Perairan jernih di sepanjang pantainya yang luas dan terjal telah mengubah negara ini menjadi sumber postingan Instagram yang mengundang rasa iri. Kedatangan wisatawan mancanegara tahun ini diperkirakan mencapai empat kali lipat populasi negara yang berjumlah 10 juta jiwa tersebut. 

Pariwisata merupakan tulang punggung perekonomian Yunani. Sektor ini secara langsung menyumbang sekitar 12 persen dari total pendapatan negara. Seiring meningkatnya bisnis pariwisata ini, terutama yang melayani wisatawan asing, membuat banyak usaha pariwisata yang tidak lagi tutup selama musim panas. Situasi ini menyebabkan pekerja lokal tidak dapat beristirahat.

Suasana pantai Kavouri di Athena selatan, Yunani, Senin (11/8/2025) menjelang matahari terbenam.

Resor-resor mewah telah menggeser wisma-wisma murah dan lokasi perkemahan yang dulunya membuat destinasi-destinasi mahal seperti Santorini, Mykonos, dan Paros terjangkau bagi keluarga Yunani. Banyak warga Yunani kini hanya bisa menonton dari pinggir pantai akibat melonjaknya harga dan pertumbuhan upah yang lambat.

Selain di Yunani, meningkatnya biaya wisata di tempat-tempat populer juga dialami negara-negara di Eropa, salah satunya Italia. Di media sosial, para pengunjung pantai di Italia mengeluhkan melonjaknya harga payung standar dan dua kursi santai, yang menjadi ciri khas liburan tepi laut di Italia.

Harga satu tempat dengan kursi santai di pantai-pantai populer di sepanjang Riviera, Italia, bisa mencapai 80 euro per hari. Sementara tempat-tempat yang lebih mewah mematok harga hingga ratusan euro. Hal ini membuat warga lokal atau warlok tidak lagi bisa menikmati liburan di sekitar tempat mereka tinggal.

Kekhawatiran mengenai ”kemiskinan liburan”, sebuah istilah yang dicetuskan oleh serikat buruh, menyebar di seluruh Eropa karena meningkatnya biaya yang bisa menggagalkan rencana musim panas. Di Yunani, banyak orang membawa payung sendiri, membawa wadah plastik berisi makanan buatan sendiri saat liburan. Ini mengingatkan akan suasana pada tahun 1980-an.

Rombongan wisatawan lokal saat tiba di Pantai Avlaki di sebelah timur Athena, Yunani, Rabu (20/8/2025).
Seorang warga Athena meminjam buku dari perpustakaan di Pantai Avlaki di Athena, Yunani, Kamis (7/8/2025).
Wisatawan tiba dengan bus di Pantai Avlaki di sebelah timur Athena, Yunani, Rabu (19/8/2025).
Wisatawan menikmati laut di Pantai Avlaki di timur Athena, Yunani, Rabu (19/8/2025).
Wisatawan berkumpul di pantai Kavouri saat matahari terbenam di Athena selatan, Yunani, Senin (11/8/2025).

Tur wisata terjangkau

Dengan kupon bus di tangan, Diamantoula Vassiliou, warga Athena, menuju ke laut, bertekad untuk memanfaatkan sebaik-baiknya liburan singkatnya di pantai. Diamantoula Vassiliou tersebut merupakan salah satu dari ribuan orang yang mengikuti tur selama empat jam bulan ini ke Pantai Avlaki. Lokasi wisata ini berjarak satu jam di utara ibu kota Yunani.

Banyak peserta tur membawa pendingin plastik dan makan siang buatan sendiri. Perlengkapan ini khas dimasa liburan musim panas di masa yang sulit. ”Kami datang ke sini karena tidak ada uang,” kata Vassiliou, yang selama empat tahun terakhir telah menggantikan liburan seminggu dengan perjalanan sehari.

Berdasarkan data Uni Eropa, hampir separuh warga Yunani tidak mampu berlibur selama satu minggu tahun lalu. Angka tertinggi kedua dialami penduduk Romania. Angka ini menunjukkan sedikit peningkatan dibandingkan tahun 2019, setahun setelah krisis keuangan Yunani yang melumpuhkan berakhir.

Sebuah keluarga menikmati matahari terbenam di Athena selatan, Yunani, Senin (11/8/2025).

Nikos Margaritis, seorang pensiunan, mengatakan, dalam perjalanannya ke Avlaki bahwa akomodasi liburan tidak terjangkau karena anggaran yang ketat. Ia menggambarkan seseorang yang telah bekerja 35 tahun atau 40 tahun seharusnya menerima lebih banyak kesempatan liburan. Ia telah bekerja selama 42 tahun dan merasakan hanya menjadi penonton di negerinya sendiri. (AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Ignatius Danu Kusworo
 | 

Editor:

Heru Sri Kumoro
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan