WHO menyertifikasi Timor Leste sebagai negara bebas malaria. Ironisnya, Indonesia masih menjadi negara dengan kasus malaria tertinggi kedua di Asia.
25 Jul 2025 11:56 WIB · Kesehatan
JENEWA, JUMAT — Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO telah menyertifikasi Timor Leste sebagai negara bebas malaria. Sejak lepas dari Indonesia pada 2002, Timor Leste telah memprioritaskan upaya penanganan penyakit ini. Sementara itu, Indonesia masih menjadi negara endemik malaria.
”WHO mengucapkan selamat kepada rakyat dan Pemerintah Timor Leste atas tonggak penting ini,” ujar Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam pernyataan tertulis pada Jumat (25/7/2025).
Tedros menegaskan, keberhasilan Timor Leste membuktikan bahwa malaria dapat dihentikan ketika ada kemauan politik yang kuat, intervensi yang cerdas, investasi domestik dan eksternal yang berkelanjutan, serta tenaga kesehatan yang berdedikasi bersatu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2024/09/10/84f54598-dc32-4339-b15d-c60e5a711a51.jpg)
Dengan pengumuman tersebut, total 47 negara dan 1 wilayah telah disertifikasi bebas malaria oleh WHO. Timor Leste adalah negara ketiga yang disertifikasi WHO di wilayah kerja Asia bagian tenggara, bergabung dengan Maladewa dan Sri Lanka yang masing-masing telah disertifikasi pada tahun 2015 dan 2016. Sertifikasi eliminasi malaria diberikan oleh WHO ketika suatu negara telah membuktikan bahwa rantai penularan lokal telah terputus secara nasional setidaknya selama tiga tahun berturut-turut.
”Kita berhasil. Malaria telah menjadi salah satu musuh bebuyutan kita–diam, gigih, dan mematikan. Kita telah kehilangan terlalu banyak nyawa karena penyakit yang seharusnya dapat dicegah. Namun, para tenaga kesehatan kita pantang menyerah, komunitas kita tetap kuat, dan mitra kita, seperti WHO, mendampingi kita,” kata Menteri Kesehatan Timor Leste Élia António de Araújo dos Reis Amaral.
Sejak merdeka pada tahun 2002, Timor Leste telah mencapai kemajuan pesat dalam memerangi malaria. Mereka berhasil mengurangi kasus malaria dari puncaknya yang mencapai lebih dari 223.000 kasus terdiagnosis secara klinis pada tahun 2006 menjadi nol kasus di kalangan penduduk asli mulai tahun 2021.
Sertifikasi bebas malaria Timor Leste merupakan kemenangan nasional yang menentukan.
Keberhasilan Timor Leste dalam memberantas malaria didorong oleh tindakan cepat Kementerian Kesehatan Timor Leste pada tahun 2003 untuk membentuk Program Malaria Nasional, sebuah program khusus untuk merencanakan, melaksanakan, dan memantau upaya pengendalian malaria di seluruh negeri. Dengan hanya dua petugas purnawaktu pada awalnya, program ini mampu meletakkan fondasi bagi kemajuan sejak dini melalui kepemimpinan teknis yang kuat, kapasitas manajerial, dan perhatian terhadap detail.
Dalam beberapa tahun, negara ini memperkenalkan tes diagnostik cepat dan terapi kombinasi berbasis artemisinin sebagai bagian dari Pedoman Pengobatan Malaria Nasional. Timor Leste juga mulai mendistribusikan kelambu berinsektisida tahan lama gratis kepada masyarakat yang paling berisiko.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2019/09/17/366dacf3-b20b-4181-8967-1b9af22d29d3.jpeg)
Pada tahun 2009, dengan dukungan dari Global Fund to Fight AIDS, Tuberculosis and Malaria (GDF), Timor Leste meningkatkan upaya pengendalian vektor di seluruh negeri melalui distribusi kelambu berinsektisida tahan lama dan penyemprotan residu dalam ruangan. Diagnosis malaria juga diperluas menggunakan mikroskop dan tes diagnostik cepat di titik layanan kesehatan di seluruh puskesmas setempat.
Menghadapi tantangan kekurangan tenaga kesehatan dan dokter yang parah, Timor Leste melakukan investasi dan mengembangkan sistem kesehatan tiga tingkat. Sistem ini terdiri dari rumah sakit nasional, rumah sakit rujukan, dan pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) untuk memastikan sebagian besar penduduk dapat mengakses layanan kesehatan dalam jarak tempuh satu jam berjalan kaki.
Selain itu, warga negara diberi layanan kesehatan gratis di titik layanan kesehatan sebagai bagian dari kebijakan pemerintah tentang layanan kesehatan universal gratis. Klinik keliling bulanan dan program penjangkauan masyarakat semakin meningkatkan layanan kesehatan di daerah pedesaan.
Keberhasilan Timor Leste dalam memerangi malaria menyoroti pentingnya kepemimpinan negara dan kolaborasi yang kuat antara kementerian kesehatan, WHO, masyarakat lokal, lembaga swadaya masyarakat, donor, dan berbagai sektor pemerintah. Sistem pengawasan berbasis kasus terpadu secara real-time memastikan pengumpulan dan respons data yang cepat. Sementara tenaga kesehatan terlatih memastikan deteksi dan skrining kasus malaria yang tepat waktu, termasuk di perbatasan. Upaya terpadu ini telah membuka jalan bagi negara ini untuk mendapatkan sertifikasi resmi bebas malaria.
”Sertifikasi bebas malaria Timor Leste merupakan kemenangan nasional yang menentukan—didorong oleh kepemimpinan yang berani, upaya tak kenal lelah dari tenaga kesehatan, dan tekad rakyatnya. Sebagai negara yang masih muda, Timor Leste tetap fokus, yakni melakukan pengujian, perawatan, dan investigasi dengan cepat,” kata Arvind Mathur, Perwakilan WHO untuk Timor Leste.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2020/11/27/20201127_ARJ_laporan_global_mumed_1606476812.jpg)
Ia mengatakan, upaya Timor Leste untuk mengakhiri penularan dan mempertahankan nol kematian membutuhkan lebih dari sekadar sains, yaitu kegigihan. Kemenangan ini melindungi generasi, baik saat ini maupun di masa mendatang, dan menunjukkan apa yang dapat dicapai oleh negara yang memiliki tekad.
Berbeda dengan Timor Leste, Indonesia masih menjadi negara endemik malaria. Penularan terbesar berada di Papua, tetapi sejumlah daerah, termasuk Nusa Tenggara Timur dan Maluku, juga masih memiliki kasus malaria.
Dalam pertemuan Asia Pacific Leaders Summit on Malaria Elimination ke-9 yang digelar di Bali, Selasa (17/6/2025) lalu, Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengatakan, Indonesia telah berhasil mencapai status bebas malaria di 476 dari total 514 kabupaten/kota atau sekitar 79 persen wilayah.
”Kami bertekad mencapai 100 persen eliminasi di seluruh wilayah Indonesia pada akhir 2030,” kata Budi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/23/a58f634ce6e76e7ca5db9b8fd2e2b303-250422_daerah_endemis_malaria.jpg)
Data Kementerian Kesehatan RI, angka kejadian malaria di Indonesia masih sekitar 25.000 kasus dalam setahun. Indonesia masih menempati posisi kedua kasus tertinggi di Asia setelah India. Pada tahun 2023, total kasus malaria di Indonesia mencapai 418.546 kasus, menurun dibandingkan tahun 2022 yang mencapai 443.530 kasus. Hingga saat ini, wilayah Papua yang masih menyumbang 93 persen dari beban malaria nasional.
Penulis:
Ahmad ArifEditor:
Ichwan SusantoPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto