Film ”Woodwalkers” yang diadaptasi dari novel populer karya Katja Brandis mengajarkan hidup selaras antara manusia dan hewan.
02 Feb 2025 07:30 WIB · Hiburan
Hidup adalah pilihan. Namun, bagaimana jika ada dua pilihan yang sama baiknya? Dilematis. Dilema itulah yang harus dihadapi Carag (Emile Cherif), seorang remaja yang bisa berubah bentuk menjadi seekor puma.
Carag saat di alam liar berada dalam situasi terombang-ambing karena harus memilih hidup bersama dengan keluarga kandungnya sebagai puma atau meninggalkan keluarganya dan menjadi manusia. Keluarganya meminta Carag menjauhi manusia karena berbahaya bagi puma.
Akan tetapi, Carag ingin mengenal manusia. Pilihan kedua akhirnya diambil Carag. Dia tinggal bersama dengan keluarga angkat yang sangat menyayanginya, terutama ibunya, Anna Ralston (Hannah Herzsprung), dan adiknya, Melody Ralston (Luna Arwen Krüger).
Kasih sayang yang diberikan keluarga angkatnya rupanya tak cukup membuat Carag bahagia. Ia berada dalam kebimbangan. Pilihan tinggal bersama manusia dirasa Carag tidak sesuai dengan jati dirinya sebagai seekor puma. Karena itu, ia memilih untuk melanjutkan hidupnya di SMA Clearwater, sebuah sekolah untuk para Woodwalker. Woodwalker merupakan sebutan untuk manusia yang bisa berubah wujud menjadi hewan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/01/9c4d3d2b-90f8-4889-8fcd-4614af65e515_jpg.jpg)
Di sekolah ini, Carag bersahabat dengan Holly (Lilli Falk) yang bisa berubah wujud menjadi tupai dan Brandon (Johan von Ehrlich) yang bisa berubah wujud menjadi bison. Carag jatuh cinta pada Lou (Sophie Lelenta) yang bisa berubah wujud menjadi rusa. Namun, Lou di awal cerita tidak mau berbicara dengan Carag karena ibunya diserang oleh puma.
Mereka selalu diganggu empat serigala yang diketuai Jeffrey (Emil Bloch). Kawanan serigala itu merasa menjadi hewan karnivor paling kuat di SMA Clearwater.
Layaknya sebuah sekolah pada umumnya, SMA Clearwater juga memiliki aturan yang ketat. Para siswa dilarang berkelahi meskipun mereka memiliki naluri binatang. Mereka hanya boleh berkelahi di kelas tarung.
Aturan itu dilanggar Carag karena ditantang berkelahi oleh Jeffrey. Dia meladeni tantangan itu karena Jeffrey berjanji tidak akan mengganggu lagi jika Carag menang dalam perkelahian tersebut.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/01/789f85d5-e179-48c6-83f6-193c883ae4f1_jpg.jpg)
Namun, ternyata serigala culas. Carag dikeroyok empat serigala sekaligus. Dalam situasi terjepit, Brandon yang awalnya penakut memberanikan diri membantu Carag. Kawanan serigala pun akhirnya menyerah dan tidak berani mengganggu Carag lagi.
Pertarungan itu diketahui oleh pihak SMA Clearwater. Carag dan para serigala dihukum bekerja di dapur.
Sejak terjadi pertarungan itu, Andrew Milling (Oliver Masucci) yang membiayai SMA Clearwater menaruh perhatian khusus pada Carag. Andrew yang bisa berubah wujud sebagai puma melatih Carag berburu.
Di sisi lain, Andrew memanfaatkan kemampuan Carag untuk kepentingannya dalam mengusir para petambang yang merusak ekosistem hutan. Namun, Carag ragu karena tidak mau melukai manusia. Apalagi, rencana Andrew tersebut juga melibatkan kawanan serigala.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/01/f14a37c8-8167-49a3-b976-178c4624dfa6_jpg.jpg)
Pergulatan batin pun menyelimuti hati Carag. Sebab, Andrew menceritakan betapa jahatnya manusia yang membangun tambang di taman nasional. Selain itu, Andrew menunjukkan istri dan anaknya yang diburu manusia serta menjadi pajangan.
Film Jerman yang diadaptasi dari novel populer karya Katja Brandis ini menyuguhkan alur cerita menarik dengan tempo cepat. Fantasi, petualangan, dan pencarian identitas diri pada remaja disatukan dengan konflik yang sering terjadi pada kehidupan sehari-hari.
Melalui film ini, anak-anak bisa mendapatkan pelajaran pentingnya menjaga kelestarian alam dan berdampingan dengan makhluk hidup lain. Salah satu kutipan dari perkataan Carag yang sangat inspiratif adalah harus ada titik temu antara manusia dan hewan, bukan justru saling membenci dan membuat perseturuan.
Perkataan tersebut berhasil membuka hati Lou yang sebelumnya membenci Carag. Lou sejak awal menginginkan kehidupan yang penuh dengan perdamaian.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/01/66f65973-fb6a-48fd-ad8a-6a513f4f3c4c_jpg.jpg)
Selain itu, anak-anak bisa mengambil nilai-nilai positif dalam persahabatan ataupun relasi di sekolah. Anak-anak bisa belajar menghargai dan mendukung teman-temannya. Lebih jauh lagi, film ini bisa membantu remaja yang sedang mengalami kebimbangan dalam pencarian jati diri menuju tahap dewasa.
Konflik yang dibangun pada film ini sering dijumpai di sekolah, seperti anak nakal yang mengganggu anak lain karena merasa kuat. Begitu juga dengan kisah persahabatan yang saling mendukung. Sutradara Damian John Harper berhasil meramu sebuah alur cerita yang bisa membius penonton, khususnya anak-anak.
Pengenalan tokoh dan seputar SMA Clearwater cukup membantu penonton yang belum membaca novelnya meskipun terlalu lama sehingga sedikit membosankan di awal film. Untungnya, Damian menyuguhkan berbagai kelucuan dari tingkah para tokohnya, terutama saat berubah menjadi hewan.
Penonton dimanjakan pula dengan pengambilan gambar suasana hutan dan pegunungan yang indah. Transisi perubahan dari manusia menjadi hewan juga sangat halus sehingga terkesan tidak ada efek visual permainan teknologi di dalamnya. Apalagi melihat tingkah hewan yang bisa berakting, penonton seperti menikmati pertunjukan sirkus yang penuh dengan decak kagum.
Akan tetapi, bagi penggemar fantasi dan petualangan, film ini masih kurang memperlihatkan efek visual yang memanjakan mata untuk membangun emosi penonton. Pertarungan antara Carag dan kelompok serigala, misalnya, terlihat terlalu datar dan kurang menyuguhkan aksi yang menegangkan.
Begitu juga saat para Woodwalker menyerang petambang, adegan itu terlihat datar dan minim aksi laga. Para petambang tidak melakukan perlawanan dan hanya berusaha kabur. Efek visual yang disuguhkan pun kurang. Padahal, aksi serangan tersebut menjadi puncak dari film fantasi ini.
Para pengisi suara binatang juga terdengar datar dan kurang berkarakter. Hal itu cukup mengganggu penonton dalam menikmati drama-drama yang ditampilkan sehingga terkesan kurang matang.
Meskipun ada beberapa kekurangan, film Woodwalkers berhasil menyabet Penghargaan Film Bavaria untuk kategori Hiburan Keluarga Terbaik. Penghargaan ini diberikan untuk film Jerman di Negara Bagian Bavaria.
Dikutip dari laman pribadi Katja Brandis, penghargaan itu diberikan di Prinzregententheater, Muenchen. Katja mendapatkan pengalaman luar biasa dengan duduk di barisan depan bersama produser dan sutradara film Woodwalkers.
”Ketika Woodwalkers memenangi penghargaan, Oliver Masucci dan Emile Cherif naik panggung terlebih dahulu, kemudian film ditayangkan dan wawancara dengan pelatih hewan ditayangkan,” tulis Katja.
Setelah itu, Katja dan tim naik panggung. Baginya, suasana pemberian penghargaan itu seperti Piala Oscar di Amerika Serikat.
Katja juga menuliskan bahwa film ini masuk nominasi untuk penghargaan kritikus film. Penulis yang telah menerbitkan lebih dari 70 buku itu berharap film ini memenangi penghargaan tersebut.
Film berdurasi 103 menit yang rilis di Jerman pada 24 Oktober 2024 ini telah tayang di bioskop Indonesia sejak 31 Januari 2025. Penasaran dengan kehidupan manusia setengah hewan? Film ini cocok dinikmati bersama keluarga sekaligus untuk menanamkan nilai-nilai cinta kasih dan perdamaian.
Penulis:
Prayogi Dwi SulistyoEditor:
Moh. Hilmi Faiq