Mobil ”Land Aircraft Carrier” itu mengombinasikan kendaraan darat dengan mobil terbang modular. China daratan menjadi pasar pertama kendaraan tersebut.
15 Apr 2025 20:20 WIB · Gaya Hidup
HONG KONG, KOMPAS — Produsen mobil listrik asal China, XPeng, berencana menyelesaikan fasilitas produksi massal mobil terbang modular pada triwulan III-2025, begitu juga dengan dimulainya prapenjualan. Dengan rangkaian tahapan itu, peluncuran ritel resmi ditargetkan terlaksana pada 2026.
Mobil ”Land Aircraft Carrier” itu mengombinasikan kendaraan darat dengan mobil terbang modular. Pertama, ground module (mothership) berupa mobil listrik dengan ban 6x6 dan kursi untuk 4-5 penumpang.
Kedua ialah mobil terbang berukuran kecil yang hanya bisa lepas landas dan mendarat secara vertikal yang disimpan di bagasi belakang ground module. Modul dengan dua kursi kokpit itu bisa dikeluarkan dari ground module kapan pun.
Mobil terbang modular XPeng diluncurkan atau diperkenalkan pada 2023. Setahun kemudian, pengajuan type certificate (TC) telah resmi diterima oleh otoritas aviasi China. Pada pertengahan November 2024, untuk pertama kalinya dilakukan penerbangan publik perdana.
Setelah penyelesaian fasilitas produksi massal dan prapenjualan pada triwulan III-2025, tahun 2026 ditargetkan sudah ada penjualan. Selain itu, 2026 juga akan menjadi tahun pertama pengiriman unit Land Aircraft Carrier XPeng kepada konsumen.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/15/2001aa5a-e827-4871-84b0-7d7d3c5b1d2b_jpg.jpg)
Co-founder & Vice President XPeng AeroHT Wang Tan dalam lokakarya XPeng di Hong Kong, Selasa (15/4/2025), mengatakan, hingga saat ini jarak tempuh mobil terbang modular terus diupayakan agar lebih panjang. Namun, untuk saat ini, jarak tempuh terbang sekitar 20 kilometer (km) dengan durasi terbang 15-20 menit.
”Setelah mendarat, Anda bisa menggunakan mothership (mobil listrik 6x6) untuk mengisi daya (modul terbang). Untuk saat ini, jarak tempuh itu cukup. Tapi, ke depan, kami harap bisa lebih jauh lagi, dengan teknologi dan inovasi,” kata Wang Tan yang juga General Manager of Design Center XPeng.
Ia menambahkan, China daratan (mainland) akan menjadi pasar pertama Land Aircraft Carrier XPeng. Bocoran harga per unit kendaraan tersebut adalah di bawah 300.000 dollar AS (Rp 5,04 miliar, kurs Rp 16.816 per dollar AS).
Mobil terbang modular ini dalam tahun-tahun mendatang, antara lain, dapat menjadi sarana transportasi kendaraan. Namun, perlu ada teknologi tambahan agar suara yang dihasilkan dari modul terbang tidak terlalu bising.
Kendaraan listrik China memiliki rantai produksi yang baik di dunia.
Di samping pengembangan mobil terbang modular, XPeng terus memasarkan mobil listrik mereka dengan mengedepankan konsep smart electric vehicle (EV). Di bulan Maret 2025, XPeng mengirimkan 33.205 mobil listrik kepada konsumen. Angka realisasi penjualan itu meningkat 268 persen secara tahunan.
Sementara khusus triwulan I-2025, XPeng mengirimkan 94.008 mobil listrik atau meningkat 331 persen dibandingkan periode sama pada 2024.
Chairman of XPeng Technology Committee Gu Jie menuturkan, selain dari China daratan, XPeng terus memperluas jaringan mitra terkait dengan penyediaan pengisian daya baterai EV. Dengan demikian, para pemilik mobil listrik XPeng juga mendapatkan kemudahan terkait dengan fasilitas pengisian daya baterai.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/15/3dec9415-2ce8-486e-a2b1-812411ac2852_jpg.jpg)
Sebelumnya, pada akhir Februari 2025, XPeng memasuki pasar Indonesia melalui PT Sinar Eka Selaras Tbk atau Erajaya Active Lifestyle yang menjadi agen pemegang merek (APM). Adapun pemesanan di Indonesia baru dapat dilakukan pada Mei-Juni 2025.
Profesor Chen Qing Quan dari Hong Kong University menuturkan, China telah melewati sejumlah tahapan terkait dengan kendaraan listrik, di antaranya tahap inkubasi serta pengembangan. Setelah itu, pertumbuhan kendaraan listrik di China pun melaju dengan cepat.
Menurut Quan, inovasi menjadi hal utama. ”Namun, selain itu, diperlukan juga kerja sama yang kooperatif (dengan semua pihak). Dengan begitu, Anda bisa memproduksi dan menjualnya ke pasar. Saat ini, kendaraan listrik China memiliki rantai produksi yang baik di dunia sehingga bisa menciptakan harga yang bagus,” katanya.
Penulis:
Aditya Putra PerdanaEditor:
Maria Susy BerindraPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti