Truk-truk bantuan dicegat dan dijarah kerumunan sebelum sampai gudang PBB sehingga tak semua kebagian bantuan. Hanya mereka yang kuat yang sanggup bertahan di Gaza.
01 Agt 2025 08:58 WIB · Internasional
Israel sudah melonggarkan blokade sehingga truk-truk pengangkut bantuan makanan untuk warga Palestina di Jalur Gaza bisa masuk. Paket-paket bantuan makanan juga sudah banyak didrop melalui udara dari banyak pesawat. Namun, hampir tidak ada bantuan yang sampai ke gudang milik Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk didistribusikan.
Akibatnya, banyak bantuan yang belum bisa menjangkau ke semua orang yang membutuhkan. Distribusi bantuan makanan untuk Gaza dilematis dan tak semudah yang dibayangkan.
Laporan kantor berita Associated Press, Jumat (1/8/2025), menyebutkan, banyak bantuan tak sampai karena hampir semua truk bantuan dilucuti muatannya oleh kerumunan yang memadati jalan begitu mereka keluar dari perbatasan. Kerumunan orang itu campuran antara warga Palestina yang memang sangat membutuhkan makanan dan geng-geng bersenjata pisau, kapak, atau pistol yang menjarah barang-barang untuk kemudian ditimbun atau dijual.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/01/fb230661a9bf3036766d2de7c5d9e2fe-Mideast_Wars_Gaza_Aid_Explainer_3.jpg)
Banyak pula orang yang tewas saat menanti pembagian makanan. Para saksi mata menceritakan, tentara-tentara Israel sering menembaki kerumunan di sekitar truk bantuan. Ratusan orang tewas atau terluka. Militer Israel berdalih mereka hanya melepaskan tembakan peringatan untuk mengendalikan kerumunan atau ke arah orang-orang yang mendekati tentara.
Sistem distribusi makanan yang dijalankan oleh Yayasan Kemanusiaan Gaza yang didukung Israel dan Amerika Serikat telah dirusak oleh kekerasan. Sebagai alternatif lain, bantuan diterjunkan dari pesawat. Namun, kelompok-kelompok bantuan mengatakan, distribusi lewat udara hanya mengirimkan sebagian kecil dari yang dapat dipasok truk.
Selain itu, banyak paket bantuan jatuh di daerah-daerah yang sekarang tidak dapat diakses atau daerah yang sudah dikosongkan. Sisanya, paket bantuan jatuh ke Laut Mediterania.
Banyak orang terpaksa berenang ke laut untuk mengambil karung-karung tepung yang basah kuyup. ”Saya beranikan diri untuk berenang ke laut demi membawakan anak saya tiga bungkus biskuit,” kata salah satu pengungsi, Abu Etayya.
Bagi warga Palestina, cara distribusi dengan dijatuhkan dari langit tidak manusiawi. ”Ini tidak pantas bagi warga Palestina, kami dipermalukan,” kata salah satu pengungsi, Rida.
Bantuan makanan yang dijatuhkan lewat udara justru memicu desak-desakan dan bentrokan saat kerumunan yang lapar berteriak, berkelahi, dan berdesak-desakan untuk mendapatkan paket bantuan. Eslam al-Telbany, pengungsi dari Jabaliya, menuturkan, ia pernah diserang dan digigit orang ketika sedang membawa sebotol minyak goreng dan sekarung tepung.
Saking ketakutan, ia langsung lari kembali ke rumahnya dan meninggalkan minyak goreng dan tepungnya begitu saja. Ia pulang tanpa bawa apa-apa. ”Padahal, anak-anak saya belum makan atau minum apa pun selama dua hari,” ujarnya.
Distribusi bantuan menjadi kacau-balau karena, menurut PBB, pembatasan masuknya bantuan yang terlalu lama sehingga situasi makin tidak dapat diprediksi. Meski jeda pertempuran memungkinkan lebih banyak bantuan masuk, warga Palestina tidak yakin bantuan akan sampai. Kelaparan akut dan takut tidak mendapat bantuan yang menyebabkan banyak truk yang dijarah oleh orang-orang yang kelaparan dan putus asa mencari makan untuk keluarga.
”Satu-satunya cara untuk memperbaiki ini adalah membuat aliran bantuan lancar dalam jangka waktu tertentu,” kata juru bicara Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), Olga Cherevko.
Utusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Steve Wifkoff, bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Kamis (31/7/2025). Witkoff diutus untuk memeriksa distribusi bantuan di Gaza dan merencanakan pengiriman lebih banyak bantuan makanan. Ia juga akan bertemu dengan warga setempat untuk mendengar langsung situasi di lapangan.
Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul berada di Israel dalam kunjungan dua hari. Ia juga akan melawat ke Tepi Barat yang diduduki Israel.
Jerman, yang secara tradisional merupakan sekutu setia Israel, belakangan ini semakin kritis terhadap tindakan Israel di Gaza. Jerman bersikeras Israel harus berbuat lebih banyak untuk meningkatkan pasokan bantuan dan mendorong gencatan senjata. Jerman belum bergabung dengan sekutu-sekutu besarnya, seperti Perancis, Inggris, dan Kanada, yang mengakui negara Palestina.
Namun, Wadephul menekankan posisi Jerman bahwa solusi dua negara adalah ”satu-satunya cara” untuk memastikan masa depan yang damai dan aman bagi rakyat di kedua belah pihak. ”Bagi Jerman, pengakuan negara Palestina berada di akhir proses. Namun, proses tersebut harus dimulai sekarang. Jerman tidak akan beranjak dari tujuan ini,” ujarnya.
Israel memblokade bantuan makanan sepenuhnya sejak Maret 2025. Sejak melonggarkan blokade pada akhir Mei, Israel mengizinkan sekitar 70 truk bantuan untuk PBB setiap hari.
Jumlah ini sangat kurang karena kebutuhannya 500-600 truk per hari. Mayoritas bantuan ditumpuk di perbatasan karena truk-truk PBB tidak dapat mengangkutnya. Pergerakan PBB dibatasi Israel.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/01/d2da5428145a437d7647bf4906f6f5a0-Mideast_Wars_Gaza_Aid_Explainer.jpg)
Israel berargumen, sudah ada 220-270 truk per hari yang diizinkan masuk ke Gaza pada Selasa dan Rabu lalu. PBB diminta mengangkut lebih banyak bantuan sehingga mengurangi sebagian antrean truk di perbatasan.
PBB mengatakan, truk-truk bantuan mengantre dalam waktu lama gara-gara Israel tidak kunjung memberi lampu hijau. Militer Israel masih membatasi rute truk-truk bantuan ke satu jalan saja. Ini memudahkan orang untuk mengetahui ke mana tujuan truk-truk itu.
Sayangnya, hal itu justru menjadikan bantuan lebih mudah dijarah. Antoine Renard, yang memimpin operasi Program Pangan Dunia di Gaza dan wilayah pendudukan Tepi Barat, mengatakan, butuh waktu 12 jam untuk mendatangkan 52 truk pada rute sepanjang 10 kilometer.
Seiring meningkatnya keputusasaan, warga Palestina mempertaruhkan nyawa mereka untuk mendapatkan makanan. Kekerasan pun meningkat.
Analis politik dari Gaza dan peneliti tamu di Dewan Eropa untuk Hubungan Luar Negeri, Muhammad Shehada, mengatakan, proses pengambilan bantuan telah berubah menjadi survival of the fittest. ”Ini seperti distopia Charles Darwin, hanya yang terkuatlah yang bisa bertahan,” ujarnya.
Seorang pengemudi truk menceritakan, ia sudah mengangkut pasokan makanan empat kali dari perlintasan Zikim di perbatasan utara Gaza. Setiap kali mengangkut bantuan selalu ada kerumunan sepanjang 1 kilometer yang mengepung truknya dan mengambil semua barang di dalamnya.
Banyak orang putus asa dan bersenjata. Banyak yang mengancamnya dengan pisau atau senjata lain.
Ali al-Derbashi, sopir truk lainnya, mengatakan, pernah ada orang-orang bersenjata yang menembak ban truknya dan mencuri semua barang yang dibawanya, termasuk solar dan aki lalu memukulinya. ”Kalau orang-orang tidak kelaparan, mereka tidak akan melakukan itu,” ujarnya.
Israel menawarkan pengawalan bersenjata kepada PBB, tetapi PBB menolak. Sebab, PBB tidak mau terlihat bekerja sama dengan pihak yang bertikai. Di sinilah dilematisnya.
Israel belum memberikan batas waktu berapa lama akan melonggarkan blokade dan jeda pertempuran. Ini membuat orang merasa tidak pasti dan merasa harus segera mengambil semua bantuan yang ada sebelum pintu perbatasan ditutup lagi. (REUTERS/AFP/AP)
Penulis:
Luki AuliaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan