Dalam sepekan, Presiden Prabowo bertemu Presiden ke-5 RI Megawati dan Presiden ke-6 RI SBY. Bagian dari rencana ”reshuffle” kabinet atau menjaga stabilitas politik?
12 Jun 2025 20:29 WIB · Politik & Hukum
Sepekan terakhir, Presiden Prabowo Subianto terlihat muncul di momen terpisah dengan Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri dan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhyono. Perjumpaan dengan dua petinggi partai politik itu tak pelak turut menyulut isu reshuffle kabinet Prabowo. Namun, di luar itu, sejumlah analis politik melihat makna yang berbeda.
Presiden Prabowo tampak akrab dengan Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY saat meresmikan kampus baru Universitas Pertahanan (Unhan) di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (11/6/2025). Keakraban itu kian terlihat saat masing-masing memberikan kata sambutan.
Dalam pidato sambutannya, Presiden Prabowo menyampaikan penghargaan kepada SBY yang menginisiasi pendirian Unhan. Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat itu disebut bervisi besar dan memiliki andil besar dalam pembangunan bangsa. Tak hanya itu, Presiden Prabowo pun mengenang pertemanannya dengan SBY saat masih di Akmil.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/11/7b7c595a-24da-4cb7-b40a-e048c9e9046b_jpg.jpg)
Prabowo dan SBY masuk Akmil bersamaan pada 1970. Namun, SBY lulus lebih dulu pada 1973, sedangkan Prabowo setahun kemudian.
”Kita pernah satu angkatan waktu masuk taruna, keluarnya beliau tahun 73, karena almamater waktu itu sangat peduli sama saya, sangat cinta sama saya, saya ditambah pendidikan satu tahun. Karena mungkin demikian hebatnya lembaga pendidikan kita, mereka bisa lihat kader-kader ini sudah matang, silakan (lulus). (Yang) ini harus dipoles lagi sedikit, tapi dua-duanya jadi Presiden RI gitu lho,” ujar Prabowo berseloroh.
Tak sebatas itu, Prabowo juga mengingatkan para kadet siswa Unhan untuk meneladani SBY. ”Yang harus kalian contoh Pak SBY, ya. Jangan macam-macam kalian. Saya termasuk anomali,” seloroh Presiden Prabowo.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/25/b344c9a6-6ba9-409d-978d-71b33c18e487_jpg.jpg)
Sebaliknya, SBY menyebut pembangunan kampus baru Unhan merupakan legacy Presiden Prabowo. ”Oleh karena itu, sebagai yang ikut andil dalam pembangunan universitas ini, sekali lagi dengan tulus kami menyampaikan hormat, terima kasih, dan penghargaan,” ujarnya.
SBY berseloroh, baru diminta memberi sambutan 20 menit sebelumnya. ”Karena perintah dari Panglima Tertinggi Tentara Nasional Indonesia (Presiden Prabowo), saya hanya mengatakan, ’Siap’,” ujarnya.
Selang sepekan sebelumnya, persisnya pada 2 Juni lalu, Prabowo pun tampak hangat saat bersama Megawati menghadiri peringatan Hari Pancasila di Gedung Pancasila, kompleks Kementerian Luar Negeri, Jakarta.
Presiden Prabowo bahkan mengajak Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) itu untuk berjalan bersama dengannya saat akan memasuki area upacara. Namun, Mega yang juga Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menolak halus dan mengikuti di belakangnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/03/aff621c2-6ae5-464c-8d29-743cd21fbaba_jpeg.jpg)
Baik sebelum maupun sesudah upacara, Prabowo dan Mega berbincang santai. Bahkan, Prabowo memuji diet Mega yang disebutnya berhasil. ”Ibu agak kurus Bu, waduh luar biasa... Ibu kurus. Berhasil. Dietnya berhasil,” tuturnya.
Mega pun tersipu menanggapi pujian itu. ”Habis mau bagaimana,” ujarnya.
Ketua MPR Ahmad Muzani yang menjadi saksi keakraban Mega-Prabowo itu menceritakan, keduanya tampak saling melontarkan canda sembari sesekali berbisik. Namun, Muzani mengaku tak mengetahui apa yang dibisikkan.
Tak lama setelah itu, Prabowo mengutus Ketua DPP Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad dan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi bertemu Megawati di kediamannya di Jalan Teuku Umar, Jakarta. Menurut Prasetyo, ada pesan khusus dari Megawati untuk Prabowo dalam pertemuan itu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/06/55fb76e4d28ae5d4458dc895ccdc672d-Screenshot_2025_06_06_16_10_50_39_1c337646f29875672b5a61192b9010f9.jpg)
”Pesannya adalah jaga Pak Prabowo, jaga beliau, pemerintahan ini, supaya berjalan dengan baik, saling mendukung satu sama lain,” kata Prasetyo Hadi kepada wartawan di Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (10/6/2025).
Di tengah isu reshuffle kabinet yang menyeruak sepekan terakhir, perjumpaan-perjumpaan itu tak pelak ikut menyulut isu tersebut. Bahkan, belakangan, setelah perjumpaan Prabowo dengan Megawati, muncul isu ada kader PDI-P yang bergabung dalam kabinet Prabowo sekaligus menjadi tanda PDI-P bergabung dalam koalisi partai politik pendukung pemerintahan Prabowo.
Namun, isu reshuffle ini ditepis langsung Presiden Prabowo setelah menghadiri acara International Conference on Infrastructure di Jakarta Convention Center, Jakarta, Kamis (12/6/2025).
”Saya tidak ada rencana mau reshuffle, ya, kan. Sementara saya menilai tim saya bekerja dengan baik. Dan, kita buktikan minggu demi minggu hasil capaian yang kita lakukan,” tambahnya.
Ia pun berharap agar setelah pernyataannya ini, spekulasi soal reshuffle di publik segera berakhir.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/08/34292579530876fab3646a73637c678f-mega_pro2.png)
Lantas, apakah penampilan bersama Prabowo dengan Megawati dan SBY tersebut kebetulan saja karena menghadiri acara yang penting atau ada hal lain di baliknya?
Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya lebih melihat keakraban Prabowo dengan SBY dan Megawati sebagai langkah untuk menjaga stabilitas politik dengan merangkul semua pihak.
Hal ini bukan hanya saat ini terjadi. Langkah membangun koalisi sebesar-besarnya dan membentuk kabinet segemuk-gemuknya, kendati kontroversial, menunjukkan Prabowo mengutamakan stabilitas politik dan politik balas jasa.
Di sisi lain, Yunarto menilai langkah Prabowo menampilkan keakraban dengan SBY maupun Megawati bisa dilihat sebagai cara cerdas untuk menangkis isu cawe-cawe Jokowi dan matahari kembar. Penampilan tersebut secara simbolis menunjukkan bahwa Prabowo tak bergantung kepada Jokowi. Sebab, dengan SBY dan Megawati, dua pihak yang pernah dikecewakan Jokowi, Prabowo tampak intens berkomunikasi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2018/03/24/740b74f6-6eab-45af-8e3c-b104cdf899da_jpeg.jpg)
Ini sekaligus menaikkan posisi tawar Prabowo. Sebab, lawan politik pun bisa dirangkulnya. Prabowo seakan tetap memiliki ”plan B” untuk menjaga stabilitas politik.
”Tapi, apa bisa dimaknai Prabowo 'menjauh dari Jokowi'. Rasanya ini masih terlalu jauh. Sebab, terkait bergabungnya PDI-P dengan koalisi pemerintah, faktornya bukan hanya Prabowo, tetapi juga terkait sikap Megawati,” tutur Yunarto lagi.
Pengajar Ilmu Politik Universitas Indonesia, Cecep Hidayat, pun melihat keakraban Prabowo dengan SBY dan Megawati sebagai konsolidasi elite. Ini bisa menjadi strategi jangka panjang. Sebab, Partai Gerindra tetap memerlukan mitra apabila Prabowo akan maju kembali di Pemilu 2029.
Selain itu, Cecep sepakat bahwa Prabowo berupaya menjaga stabilitas politik dengan terus merangkul Megawati. ”Bagaimanapun, PDI-P parpol pemenang Pemilu 2024 dan kursinya di DPR cukup signifikan. Meski saat ini PDI-P di luar pemerintahan, komunikasi yang baik akan menjaga stabilitas politik,” tutur Cecep.
Namun, ia tetap berharap PDI-P menjadi kekuatan politik penyeimbang dengan menjadi parpol yang berada di luar koalisi pemerintah. Mengambil posisi itu sekaligus bisa menjadi modal bagi PDI-P pada Pemilu 2029. PDI-P pernah berada di luar pemerintahan di era pemerintahan SBY (2004-2014), dan sikap ”oposisi” PDI-P jadi salah satu faktor yang membawanya menjadi partai pemenang di Pemilu 2014.
Penulis:
Nina SusiloEditor:
A. Ponco AnggoroPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto