AS yakin perdamaian sudah dekat. Langkah awal gencatan senjata disepakati. Akan tetapi, banyak masalah harus diselesaikan, khususnya terkait fasilitas energi.
20 Mar 2025 08:36 WIB · Internasional
KYIV, RABU — Ukraina dan Rusia pada prinsipnya menyepakati gencatan senjata terbatas setelah Amerika Serikat berbicara dengan keduanya secara terpisah. Akan tetapi, implementasinya belum jelas karena masih harus dilihat kapan gencatan senjata akan berlaku dan target mana saja yang tidak boleh diserang.
Kesepakatan sementara ini muncul setelah Presiden Rusia Vladimir Putin menolak desakan Presiden AS Donald Trump Trump soal gencatan senjata penuh selama 30 hari. Kesulitan membuat Ukraina dan Rusia sepakat tidak saling menyerang infrastruktur energi akan menjadi tantangan Trump dalam mengakhiri perang di Ukraina.
Sebagai langkah awal, akan ada pertemuan pejabat teknis AS, Ukraina, dan Rusia di Arab Saudi pada akhir pekan ini. Belum jelas apakah AS akan bertemu dengan Ukraina dan Rusia bersama-sama atau secara terpisah.
Setelah sejam menelepon Trump pada Rabu (19/3/2025), Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan, pertemuan di Arab Saudi itu akan berupaya untuk menyelesaikan jenis infrastruktur apa yang akan dilindungi berdasarkan perjanjian tersebut. Hanya saja, AS, Ukraina, dan Rusia punya pandangan berbeda tentang apa yang harus tercakup dalam pakta gencatan senjata tersebut.
AS mengatakan, ”energi dan infrastruktur” akan tercakup di dalamnya. Sementara Rusia mengatakan, pakta tersebut merujuk lebih sempit pada ”infrastruktur energi”. Sementara Zelenskyy ingin jalur kereta api dan pelabuhan dilindungi.
”Salah satu langkah pertama untuk mengakhiri perang sepenuhnya adalah dengan mengakhiri serangan terhadap energi dan infrastruktur sipil lainnya. Saya mendukung langkah ini dan siap menerapkannya,” kata Zelenskyy.
Para ahli menilai, perkembangan terakhir ini menunjukkan Putin hanya memberikan kontribusi kecil terhadap upaya perdamaian Trump di Ukraina. Putin hanya menyetujui gencatan senjata yang jauh lebih sempit, di mana Rusia dan Ukraina akan berhenti menyerang fasilitas energi masing-masing selama sebulan.
Putin menegaskan kembali persyaratan Rusia untuk gencatan senjata yang lebih luas bahwa gencatan senjata tidak boleh digunakan oleh Ukraina untuk menimbun senjata dan memobilisasi lebih banyak tentara. Ukraina menolak persyaratan tersebut.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/20/c70d76b6a57728628c046f3a6331cd1c-UKRAINE_RUSSIA_CONFLICT_WAR_128320391.jpg)
Ahli Rusia di Institut Internasional untuk Studi Strategis di London, Nigel Gould-Davies, mengatakan, Putin menolak gencatan senjata yang lebih luas. Putih tidak mungkin mempertimbangkannya secara serius.
Kondisi berbeda kalau Trump memenuhi ancaman mengintensifkan tekanan ekonomi terhadap Rusia dengan sanksi lebih lanjut. ”Ia mengaku tertarik pada gencatan senjata, tetapi menetapkan persyaratan yang jelas tidak dapat diterima. Itu cara mengatakan tidak dengan cara lain,” ujar Gould-Davies.
Andrei Kozyrev, tokoh pro-Barat yang menjabat sebagai menteri luar negeri Rusia pada 1990-an, mengatakan kepada media Dozhd bahwa Trump tidak mencapai apa pun. ”Ini sepenuhnya demi kepentingan Putin untuk melanjutkan perang dan memimpin Amerika,” ujarnya.
Seorang sumber Rusia yang dekat dengan Kremlin mengatakan kepada Reuters: ”Putin berusaha menekan Trump dan akan melanjutkan perang. Ukraina akan mundur dan perlahan-lahan kehilangan wilayah dan rakyatnya.”
Menlu AS Marco Rubio dan Penasihat Keamanan Nasional AS Mike Waltz mengatakan, dalam telepon Trump-Zelenskyy, Trump menyarankan agar Zelenskyy mempertimbangkan untuk memberikan kepemilikan pembangkit listrik Ukraina kepada AS. Hal itu untuk memastikan jaminan perlindungan dan keamanan jangka panjang.
Trump memberi tahu Zelenskyy bahwa AS dapat membantu operasional pembangkit listrik itu dengan keahliannya di bidang listrik dan utilitas.
Namun, menurut Zelenskyy, pembicaraan keduanya difokuskan pada pembangkit listrik tenaga nuklir Zaporizhzhia yang merupakan PLTN terbesar di Eropa. Sejak perang meletus, Rusia menduduki PLTN itu.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/08/12/cda49cb8-201c-4fcb-b165-b7c46cf0c12e_jpg.jpg)
Zelenskyy mengatakan Trump mengajukan gagasan kesepakatan di mana AS dapat mengambil alih kendali PLTN itu. Zelenskyy juga meminta sistem rudal pertahanan Patriot ditambah.
Rubio dan Waltz mengatakan Trump setuju untuk membicarakannya. Zelenskyy menilai pembicaraannya dengan Trump membuahkan hasil.
Sebelumnya, Selasa, kepada Trump, Putin menyatakan setuju untuk tidak menyerang infrastruktur energi Ukraina. Namun, ia menolak untuk mendukung gencatan senjata penuh selama 30 hari yang diusulkan Trump.
Putin mengatakan harus ada penghentian bantuan militer asing dan pembagian informasi intelijen terlebih dahulu jika ingin ada kesepakatan apa pun. Namun, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt menekankan pembagian informasi intelijen AS dalam hal pertahanan untuk Ukraina akan terus berlanjut.
Sebelum berbicara dengan Trump, Zelenskyy mengatakan, janji gencatan senjata terbatas Putin bertentangan dengan kenyataan. Ini setelah Rusia melancarkan serangkaian serangan pesawat nirawak di seluruh wilayah Ukraina, termasuk beberapa yang menyerang fasilitas energi Ukraina.
Rusia menanggapi komentar itu dengan mengatakan sudah menghentikan penargetannya terhadap fasilitas energi Ukraina. Moskwa balik menuduh Kyiv yang menyerang fasilitas energi Rusia.
Di mata AS, panggilan telepon Trump-Putin, Selasa lalu, itu langkah pertama untuk bergerak menuju perdamaian. Hanya saja tidak ada indikasi Putin siap untuk menarik kembali persyaratannya untuk kesepakatan perdamaian.
Zelenskyy pun menilai Putin tidak serius ingin membahas perundingan. Putin dinilai malah ingin memperpanjang perang sampai Rusia berada dalam posisi yang lebih kuat.
Sementara itu, Ukraina dan Rusia juga mengatakan, mereka masing-masing sudah menukar 175 tahanan. Ini salah satu pertukaran tahanan terbesar sejak invasi.
Zelenskyy membebaskan semua tahanan perang tentara dan warga sipil yang ditangkap. Ini diharapkan menjadi langkah penting menuju perdamaian dan dapat membantu membangun kepercayaan di antara kedua negara.
Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan telah membebaskan 22 tawanan Ukraina yang terluka parah ”sebagai isyarat niat baik”. Zelenskyy mengatakan mereka dipulangkan melalui proses negosiasi terpisah.
Awalnya, Putin berjanji membebaskan 23 tawanan ketika berbicara dengan Trump. Pertukaran tawanan telah terjadi sepanjang perang, dan pertukaran pada hari Rabu itu sudah direncanakan jauh sebelum panggilan telepon Trump dengan Rusia dan Ukraina.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/20/bed6ff0d7a6aa4a0007535caa74e8f17-Russia_Ukraine_POWs_Exchange.jpg)
Kepala Kantor Pers di Markas Besar Koordinasi Ukraina untuk Perawatan Tahanan Perang Petro Yatsenko mengatakan, pertukaran tawanan membutuhkan persiapan matang. Butuh waktu berbulan-bulan untuk membuat perencanaan. Pertukaran tahanan yang terakhir terjadi pada 5 Februari 2025.
Sejak dimulainya invasi Rusia, lebih dari 4.000 tawanan Ukraina, termasuk warga sipil dan warga asing, telah dibebaskan. Zelenskyy berterima kasih kepada tim Ukraina yang bekerja pada pertukaran tahanan dan mitra internasional, khususnya Uni Emirat Arab, karena memfasilitasi pertukaran tersebut.
Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, sebagian besar tawanan perang Ukraina mengalami kelalaian medis, penganiayaan berat dan sistematis, dan bahkan penyiksaan saat berada dalam tahanan. Ada juga laporan terpisah tentang penyiksaan oleh tentara Rusia, sebagian besar terjadi selama penangkapan atau transit ke tempat penahanan. (Reuters/AFP/AP)
Penulis:
Luki AuliaEditor:
Kris MadaPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .