Terlepas dari hasil final Liga Bola Voli Korea, Megawati Hangestri tampil impresif dan harumkan Indonesia di ”Negeri Ginseng”. Dia akan bangkit, seperti sebelumnya.
08 Apr 2025 21:18 WIB · Olahraga
INCHEON, SELASA — Pebola voli putri Indonesia, Megawati Hangestri Pertiwi, memang belum berhasil menjuarai Liga Bola Voli Korea Selatan 2024-2025. Namun, dengan membawa Red Sparks hingga babak akhir lewat penampilan konsisten dan gemilang, Megawati telah mengharumkan nama Indonesia sekaligus meneguhkan posisinya di kancah internasional.
Megawati Hangestri berkaca-kaca, berusaha sekuat tenaga menahan air mata yang hendak jatuh, di Gimnasium Samsam World, Incheon, Selasa (8/4/2025). Sebagian besar rekan setimnya di Daejeon Jung Kwan Jang Red Sparks sudah menangis, tak kuasa menahan kesedihan karena trofi juara menjadi milik Heungkuk Life Insurance Pink Spiders.
Red Sparks sudah tampil maksimal, memaksakan babak final hingga lima pertandingan, lalu memaksakan laga penentuan itu hingga lima set. Megawati bahkan mencetak 37 poin, tertinggi di antara rekan setim ataupun lawan. Namun, penampilan impresifnya tak mampu menghindarkan Red Sparks dari kekalahan 2-3 (24-26, 24-26, 26-24, 25-23, 13-15).
Sejak awal musim 2024-2025, Megawati telah menyampaikan tekadnya untuk tampil lebih baik pada musim keduanya di Korea. Apalagi, kali ini pemain yang dijuluki ”Megatron” oleh para penggemar ini dia tidak perlu lagi beradaptasi seperti musim lalu.
”Bahkan jika saya sesekali mengalami penurunan (performa), saya akan mengatasinya seperti yang saya lakukan musim lalu. Saya akan tampil lebih baik tahun ini,” ucap Megawati, dilansir dari media Korea, Sport Donga.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/07/3f212924-86c5-426d-a70f-92636ed9c1a7_png.jpg)
Kendati tidak berhasil mengantar Red Sparks mengakhiri penantian 13 tahun untuk meraih gelar juara, Megawati sebenarnya telah mewujudkan tekadnya. Dia bermain jauh lebih baik dari musim lalu, membawa tim tidak hanya sekadar lolos playoff, tetapi melaju ke babak final dan memperebutkan gelar lewat pertarungan sengit selama 2 jam 33 menit.
Berkat Megawati, Red Sparks mampu mengukir 13 kemenangan sejak November 2024, terpanjang dalam sejarah klub. Dengan total 802 poin, Megawati melampaui pencapaian musim lalu dengan 736 poin. Dia juga memimpin dalam daftar pemain dengan tingkat kesuksesan serangan tertinggi, yakni 48,06 persen.
Sebagai pemain Indonesia pertama yang berkarier di Korea, Megawati telah membawa harum nama negara di sana. Wajar jika sebelumnya Pelatih Red Sparks Ko Hee-jin menegaskan, nama Megawati akan tercatat dalam sejarah Liga Bola Voli Korea atau V League.
Pujian Ko Hee-jin tidak berlebihan karena kontribusi pemain asal Jember, Jawa Timur, ini cukup signifikan bagi tim. Hal itu termasuk kontribusi pada babak final Liga Bola Voli Korea, khususnya pada laga kelima yang jadi penentu gelar juara.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/07/37cb4f4b-ff4e-412e-a4e2-29ea3314f2f4_png.jpg)
Megawati merupakan motor serangan Red Sparks ketika mereka tertinggal dua set awal pada laga kelima tersebut. Dengan pukulan-pukulan kerasnya, Megawati membawa Red Sparks mendapatkan momentum sejak awal set ketiga dengan unggul lima poin pada kedudukan 8-3. Megawati dan kawan-kawan mencoba tidak membiarkan lawan mendekat, menyamakan skor, atau bahkan menyalip.
Megawati membawa tim melaju, terutama untuk kedudukan 19-14. Pink Spiders sempat mendekatkan jarak 21-20, terutama setelah pukulan-pukulan Megawati dan rekan setimnya sesama pemain asing, Vanja Bukilic, kembali dapat dibaca dan diblok lawan. Namun, kali ini, Red Sparks mampu mempertahankan keunggulan hingga set berakhir, membawa mereka mendapatkan sekali lagi kesempatan menjaga asa juara.
Seperti pada set ketiga, Red Sparks kembali berusaha merebut momentum sejak awal dengan menjaga keunggulan dari Pink Spiders. Mereka unggul hingga 8 poin pada kedudukan 13-5 dan 19-11. Pink Spiders mendekat dengan selisih hanya tiga angka pada kedudukan 22-19, 23-20, 24-21, lalu mendekat lagi menjadi 24-22.
Pertarungan pun seolah menjadi milik pemain Pink Spiders yang dijuluki ”Ratu Bola Voli Korea”, Kim Yeon-kyung, dengan Megawati. Namun, kali ini Megawati berhasil memenangi persaingan untuk membawa laga hingga set kelima.
Pada set penentuan, pertarungan kian sengit. Kedua tim berebut poin serta bergantian unggul dengan Megawati dan Kim kembali jadi andalan tim. Namun, kemenangan menjadi milik Pink Spiders setelah pukulan keras Tutku Burcu Yuzgenc tak mampu diantisipasi dengan sempurna oleh Red Sparks. Bola keluar dan poin ke-15 Pink Spiders itu memastikan gelar juara menjadi milik mereka.
Bagi Megawati, kekalahan pada babak final seharusnya bukan perkara asing. Bangkit dari kekalahan menyakitkan juga bukan sesuatu yang tak pernah dilakukannya. Seperti sebelum-sebelumnya, dia seharusnya bisa bangkit kembali untuk jadi lebih baik.
Sembilan bulan lalu, di Stadion Indonesia Arena, Jakarta, Megawati juga berkaca-kaca. Pemain berusia 25 tahun ini kemudian berurai air mata. Bukan karena menjadi runner-up, melainkan karena meraih gelar juara Proliga, kompetisi bola voli kasta tertinggi di Indonesia, bersama Jakarta BIN.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/07/21/cfaa5d82-1c5c-45d8-80b4-5d23317cffb6_jpg.jpg)
Gelar pertama Megawati di Proliga tak diraih begitu saja. Megawati bahkan sebelumnya harus menghadapi ”kutukan” di final Proliga. Sebab, setiap punya kesempatan untuk meraih gelar juara, peluang itu selalu kandas.
Pada final Proliga 2019, Megawati yang memperkuat Jakarta Pertamina Energi terpaksa pulang sebagai runner-up setelah kalah dari Jakarta PGN Popsivo Polwan. Empat musim berselang, saat memperkuat Jakarta Pertamina Fastron, hasil serupa diraih setelah ditaklukkan Bandung BJB Tandamata.
Namun, Megawati tidak menyerah. Dia mengubah ”hampir juara” pada dua kesempatan sebelumnya itu menjadi ”benar-benar juara” pada Proliga 2024. Itu adalah buah dari penampilan yang terus membaik setiap waktu dan konsistensi yang terus terjaga.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/06/18/e6be3c9d-9382-4d4e-941b-f5bbca3e5d40_jpg.jpg)
Adapun prestasi di Korea bahkan lebih baik dibandingkan momen pertamanya berkarier di luar negeri, tepatnya di Liga Thailand, bersama Supreme Chonburi-E Tech pada 2020-2021. Saat itu, Megawati mengantarkan klub tersebut finis sebagai peringkat ketiga.
Di Korea, yang lebih penting adalah Megawati menunjukkan konsistensi sejak awal musim. Dia juga punya mental baja yang membuatnya selalu bersemangat pantang menyerah, bahkan ketika tertinggal dalam pertandingan atau dalam situasi sulit karena cedera.
Laga final memang tidak seperti drama Korea dengan akhir bahagia yang ditonton dan diharapkan Megawati. Namun, apa yang dicapainya di sana akan membawa Megawati bangkit lebih kuat, di Korea atau di mana pun nantinya dia akan berkarier. Satu hal yang pasti, prestasi di Korea semakin meneguhkan posisi Megawati di kancah internasional.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti