Medali Buah Konsistensi Pemanjat Tebing Kiromal Katibin

Kiromal Katibin memetik buah konsistensi di seri Piala Dunia Panjat Tebing 2025 Wujiang, China. Medali perunggu pun dibarengi dua kali pemecahan rekor pribadi.

26 Apr 2025 21:20 WIB · Olahraga

Oleh Rebiyyah Salasah

WUJIANG, JUMAT — Hari bahagia yang dinantikan Kiromal Katibin akhirnya tiba. Pemanjat tebing disiplin speed Indonesia ini memang tak meraih medali emas di seri Piala Dunia Panjat Tebing 2025 Wujiang, China. Namun, dengan penampilan konsisten, Kiromal membawa pulang satu-satunya medali bagi Indonesia yang diiringi dua pemecahan rekor pribadi.

Kiromal Katibin tak berhenti tersenyum selepas memenangi perlombaan small final atau perebutan medali perunggu, Sabtu (26/4/2025). Senyuman itu menghiasi wajah Kiromal selama dia turun dari dinding panjat di Fenhu Culture and Sports Center, Wujiang. Dia juga mengepalkan kedua tangan sambil melihat ke arah penonton.

Kiromal adalah pemanjat yang nyaris tidak pernah berekspresi, bahkan ketika finis lebih cepat dari lawan. Namun, kali ini Kiromal tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya setelah perlombaan melawan peraih perunggu Olimpiade Paris 2025 sekaligus pemegang rekor dunia, Samuel Watson (Amerika Serikat).

Pada perlombaan itu, Kiromal mampu mencatatkan waktu 4,75 detik. Pemanjat asal Batang, Jawa Tengah, lebih cepat dari Watson yang finis dalam waktu 5,04 detik. Dia begitu eksplosif sejak lampu aba-aba start menyala. Eksplosivitas itu dibarengi kontrol diri sehingga tidak terlalu menggebu yang bisa menyebabkan pemanjat terpeselet atau false start.

Quote

Mungkin di Wujiang ini, bakal jadi ’perang’ antara siapa yang paling konsisten.

Pemanjat tebing disiplin "speed" Indonesia, Kiromal Katibin,  memenangi perlombaan small final atau perebutan medali perunggu seri Piala Dunia Panjat Tebing 2025 di Wujiang, China, Sabtu (26/4/2025).

Dengan hasil itu, Kiromal berhak meraih perunggu. Medali tersebut memang bukan prestasi tertinggi dalam turnamen itu. Namun, medali itu istimewa karena diraih Kiromal dengan penampilan konsisten sepanjang turnamen.

Hasil tersebut juga seolah membenarkan perkataan Kiromal sebelum berangkat ke Wujiang. Menurut Katibin, seri Piala Dunia di Wujiang bukan hanya soal adu cepat antarpemanjat. ”Mungkin di Wujiang ini, bakal jadi ’perang’ antara siapa yang paling konsisten,” ucap Kiromal.

Kiromal cukup konsisten dengan selalu finis dalam waktu di bawah 5 detik. Pada babak kualifikasi, Kiromal menjadi pemanjat tercepat ketiga setelah mencatatkan waktu terbaik 4,964 detik. Saat pemanjatan pertama babak itu, pemanjat berusia 24 tahun ini finis dalam waktu 4,697 detik.

Berlanjut ke babak 16 besar, Kiromal mencatatkan waktu 4,94 detik untuk mengalahkan pemanjat Spanyol, Erik Noya Cardona, yang finis 5,41 detik. Kiromal hanya lebih lambat 0,01 detik dari catatan waktu babak 16 besar itu saat mengalahkan Matteo Zurloni (Italia) yang finis 5,03 detik pada perempat final.

Pada semifinal, catatan waktu Kiromal kian tajam. Dia finis dalam waktu 4,83 detik. Kendati tak cukup membawanya ke final karena kalah cepat 0,02 detik dari Jiangou Long (China), catatan waktu itu tetap istimewa.

Dengan finis dalam waktu 4,83 detik, Kiromal memecahkan rekor pribadinya, yakni 4,90 detik. Kiromal lantas kembali menajamkan lagi catatan waktunya dengan pencapaian di babak small final.

Maka, wajar jika Kiromal begitu bahagia. Apalagi, Kiromal selalu berkata bahwa tekadnya adalah terus menajamkan catatan waktu. Bahkan, dia menargetkan untuk kembali memecahkan rekor dunia (4,74 detik) pada tahun ini.

”Dari segi kekuatan dan keyakinan (untuk memecahkan rekor dunia) sebenarnya sudah dapat. Tinggal lebih mengatur ketenangan saja,” kata Kiromal pekan lalu. Dia juga percaya, atmosfer kompetisi biasanya mendorong penampilannya menjadi lebih baik.

Tim panjat tebing Indonesia berpose setelah keberhasilan pemanjat tebing disiplin "speed", Kiromal Katibin,  meraih medali perunggu seri Piala Dunia Panjat Tebing 2025 di Wujiang, China, Sabtu (26/4/2025).

Kiromal juga pantas berbahagia karena dia menjadi satu-satunya pemanjat yang melangkah jauh di Wujiang sekaligus mempersembahkan medali bagi Indonesia. Dia mencegah Indonesia pulang dengan tangan hampa.

”Alhamdulillah, hasil ini menjadi buah dan kerja keras tim dan tentu akan menjadi pemacu semangat untuk tantangan-tantangan berikutnya di level dunia,” kata Ketua Bidang Pembinaan Prestasi Pengurus Pusat federasi Panjat Tebing Indonesia Muhammad Rizali Umarella.  

”Pada nomor lead, Sukma Lintang juga menorehkan pencapaian baru dengan finis peringkat ke-18. Ini menjadi catatan sejarah tersendiri,” ujar Rizali menambahkan.

Seri Piala Dunia 2025 di Wujiang melombakan dua disiplin, yakni lead dan speed atau kecepatan. Untuk disiplin speed kategori putri, Indonesia mengirim Desak Made Rita Kusuma Dewi, Puja Lestari, dan Susan Hidayah. Adapun speed putra, wakil Indonesia adalah Kiromal, Veddriq Leonardo, dan  Alfian Muhammad Fajri.

Namun, hanya Kiromal dan Desak yang melaju ke putaran final. Adapun langkah Desak terhenti pada babak perempat final saat beradu kecepatan dengan pemanjat tuan rumah, Shaoqin Zhang.

Hingga setengah dinding panjat setinggi 15 meter, kecepatan Desak dan Zhang sebenarnya masih berimbang. Namun, setelah itu, Desak mulai tertinggal dari Zhang yang akhirnya finis lebih cepat.

Pemanjat tebing disiplin "speed" Indonesia, Desak Made Rita Kusuma Dewi, tampil pada babak perempat final seri Piala Dunia Panjat Tebing 2025 di Wujiang, China, Sabtu (26/4/2025).

Sementara itu, langkah Veddriq Leonardo terhenti setelah menempati peringkat ke-17 babak kualifikasi dengan catatan waktu terbaik 5,165. Dia hanya terpaut 0,003 detik dari penghuni batas terakhir lolos putaran final, yakni Shi Zechuan (China) di peringkat ke-16 dengan waktu terbaik 5,162 detik.

Selain Veddriq, Alfian Muhammad Fajri gugur pada babak kualifikasi setelah menempati peringkat ke-20 dengan catatan waktu terbaik 5,26 detik. Sementara pada kategori putri, Susan Nurhidayah berada di posisi ke-24 (7,57 detik) dan Puja Lestari menghuni peringkat ke-27 (7,71 detik) babak kualifikasi.

Sengit

Tersingkirnya Veddriq sebenarnya semakin menegaskan segala hal bisa terjadi dalam perlombaan panjat tebing. Tidak ada jaminan peraih medali emas Olimpiade bisa melaju babak final atau meraih medali. Tidak ada jaminan pula pemegang rekor dunia tidak akan pulang dengan tangan hampa.

Samuel Watson, yang sejak sebelum berangkat ke Wujiang sudah berkata akan kembali memecahkan rekor dunia, justru harus pulang tanpa medali. Watson pun gagal mewujudkan ambisinya untuk menajamkan catatan waktunya.

”Saya tahu rekor dunia akan terus dipecahkan dari sudut pandang saya, saya tidak mengendalikan apa yang dilakukan atlet lain, tetapi saya telah bekerja keras selama jeda musim dan saya siap untuk mempersingkat waktu,” ucapnya sebelum putaran final kepada IFSC (Federasi Panjat Tebing Internasional).

Pada sektor putri, peraih medali emas Olimpiade Paris 2024 dan pemegang rekor dunia, Aleksadra ”Ola” Miroslaw juga pulang dengan tangan hampa. Ola kalah cepat 0,01 detik dari pemanjat Amerika Serikat, Emma Hunt, yang finis dalam waktu 6,85 detik pada babak perempat final.

 


Kerabat Kerja

Penulis:

Rebiyyah Salasah
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase